Menilik inovasi haji empat tahun Jokowi

Menilik inovasi haji empat tahun Jokowi

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kanan) di Kantor Kementerian Agama, MH Thamrin, Jakarta, Jumat (19/10/2018). (Anom Prihantoro)

Sepuluh inovasi ini merupakan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan bagi jamaah. Harapannya, mereka bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat,
Jakarta (ANTARA News) - Persoalan pelayanan haji yang selalu ada mulai dari hal sepele sampai rumit sekalipun tetapi jika ditangani dengan baik, bisa membuat jamaah terlayani dengan baik pula.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan seiring dengan berbagai persoalan haji, pemerintah melakukan inovasi pelayanan agar jamaah mendapat pelayanan terbaik.

Setidaknya terdapat 10 inovasi pelayanan haji pada 2018, yakni penerapan rekam data biometriks jamaah yang dilakukan di semua embarkasi haji di Indonesia.

Terobosan itu dilakukan secara bertahap agar data jamaah dapat terekam dalam basis data haji untuk pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

Data tersebut penting jika jamaah haji mengalami kejadian tidak diinginkan sebagaimana terjadi pada peristiwa meninggalnya para tamu Allah di kejadian robohnya crane.

Saat itu, beberapa anggota jamaah meninggal tidak dapat dikenali dan sukar diidentifikasi karena tidak ada basis data yang presisi. Data itu juga bisa dipakai untuk keperluan penting lainnya.

Sejak 2016, pemerintah terus mengusahakan agar rekam biometrik yang mencakup data 10 sidik jari dan foto wajah jamaah haji bisa dilakukan di Indonesia. Pada tahun ini perekaman data diri jamaah bisa dilaksananakan.

Lukman mengatakan inovasi itu mengurangi masa tunggu jamaah untuk keluar dari Bandara Arab Saudi akibat mengantre pengambilan data biometriks.

Masa tunggu sebelumnya 4-5 jam, akan tetapi dengan sistem baru itu jamaah hanya menghabiskan waktu tunggu sekitar satu jam.

Dengan begitu, jamaah tidak kelelahan setibanya di Saudi dan bisa langsung menuju satu dari dua Tanah Suci, baik Mekkah ataupun Madinah, sesuai gelombang kelompok terbangnya masing-masing.

Setiba di Bandara Madinah atau Jeddah, jamaah hanya melakukan verifikasi akhir, yaitu dengan perekaman satu sidik jari dan stempel paspor kedatangan.

Khusus embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG), Jakarta-Bekasi (JKS), dan Embarkasi Surabaya (SUB) seluruh proses imigrasi dari biometrik maupun clearance bisa dilakukan di Indonesia.

Inovasi selanjutnya, kata dia, ada kode QR pada gelang jamaah yang berisi informasi mengenai data lengkap jamaah haji Indonesia. Data kode QR dapat dipindai dengan aplikasi Android, yaitu Haji Pintar. Dengan aplikasi itu banyak informasi mengenai jamaah dapat diketahui, seperti lokasi pemondokan dan kelompok terbangnya.

Terobosan ketiga, terdapat pemberlakuan sistem sewa akomodasi satu musim penuh di Madinah. Jika menggunakan sistem setengah musim berarti hotel terkait dipakai secara bergantian sesuai jadwal dengan jamaah dari negara lain. Hal ini akan menyulitkan jamaah yang tiba di Madinah tetapi hotel belum siap menerima tamu dari Indonesia karena belum masuk jam sewa.

Dengan sistem sewa semusim penuh, jamaah yang datang lebih awal dari waktu menginap bisa langsung ke kamarnya tanpa menunggu waktu masuk kamar. Dengan begitu, jamaah yang tiba tidak perlu kelelahan karena menunggu waktu masuk kamar sesuai jadwalnya.

"Kita tidak lagi khawatir dengan masalah batas waktu tinggal di hotel, seperti pada sistem blocking time," kata Menag.

Inovasi keempat, terdapat penggunaan bumbu masakan dan juru masak dari Indonesia demi menghasilkan sajian kuliner khas Nusantara bagi jamaah Tanah Air. Terobosan ini memicu jamaah semakin nyaman beribadah karena mendapatkan asupan yang bergizi dan lezat sesuai selera Indonesia.

Selanjutnya ada inovasi layanan katering bagi jamaah haji Indonesia selama di Mekkah yang ditambah dari sebelumnya 25 kali menjadi 40 kali.

Untuk sajian dari katering ini juga memperhatikan kelengkapan pangan untuk jamaah sesuai tradisi Indonesia dengan dilengkapi teh, gula, kopi, saos sambal, kecap, dan satu potong roti untuk setiap anggota jamaah.

Terobosan keenam, ada penandaan khusus pada paspor dan koper jamaah haji serta ada pemberian tas kabin. Penandaan paspor dan koper itu diterapkan agar tidak ada kejadian koper tertukar dengan rombongan lain di hotel lain.

Kejadian koper tersasar ke pemondokan lain dapat ditekan. Adapun tanda warna sekaligus menunjukan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal jamaah.

Inovasi ketujuh ada pengalihan porsi bagi anggota jamaah wafat kepada ahli waris. Artinya jika ada anggota jamaah yang diterapkan berangkat pada tahun bersangkutan dan meninggal maka hak naik hajinya bisa dioper kepada ahli waris.

Terdapat syarat hak berangkat haji bisa diwariskan yaitu anggota jamaah meninggal sudah ditetapkan berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, mereka adalah jamaah yang wafat setelah 16 Maret 2018 bisa diwariskan hak berhajinya kepada ahli waris.

Ada pencetakan visa yang saat ini sudah bisa dilakukan oleh Kemenag merupakan inovasi kedelapan setelah sebelumnya harus dikeluarkan oleh otoritas Arab Saudi.

Dengan kebijakan ini proses penerbitan visa haji tidak memakan waktu yang lama. Dalam beberapa kasus, jamaah haji bisa terlambat berangkat ke Tanah Suci saat visanya terlambat cetak.

Selain itu, ada inovasi intensifikasi layanan bimbingan ibadah (bimbad) dengan pemerintah menempatkan satu konsultan di setiap sektor. Adapun jamaah haji tinggal di beberapa sektor di Mekkah dan Madinah. Area yang luas tentu membutuhkan banyak bimbingan ibadah sehingga perlu intensifikasi pelayanan bimbad.

Sebelumnya, para pembimbing ibadah dan konsultan ibadah hanya ada di kantor daerah kerja akan tetapi belum ada di sektor.

Pmerintah juga membentuk tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH) yang terdiri atas petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis. Diisi oleh petugas dari rumah sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta, serta rumah sakit TNI/Polri.

P3JH memperkuat evakuasi bagi jamaah yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan darurat di Tanah Suci. Dengan begitu, pertolongan darurat akan lebih cepat bagi jamaah, terlebih kebanyakan dari mereka adalah berusia lanjut yang rentan kesehatannya.

"Sepuluh inovasi ini merupakan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan bagi jamaah. Harapannya, mereka bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat," kata Lukman.

Anggota Komisi VIII DPR RI Deding Ishak mengapresiasi 10 inovasi layanan haji tersebut.

Sebanyak 10 inovasi itu menguntungkan jamaah dari berbagai hal, seperti jamaah tidak perlu antre terlalu lama setiba di Bandara Saudi.

"DPR mengapresiasi tinggi Menteri Agama dan jajarannya. Ini tentu bagian dari aspirasi dan pandangan, saran DPR dan masyarakat yang diakomodir pemerintah dan Kemenag," kata dia.

Berdasarkan pengamatan Antara, sejumlah inovasi itu memudahkan jamaah. Meski tidak sempurna tetapi hal itu sudah membuat jamaah semakin nyaman dalam beribadah.



Baca juga: Laporan dari Mekkah - Mesin waktu Saudi kuno bernama Al Balad
Baca juga: Laporan dari Mekkah - Mencari jejak mukjizat Rasulullah berupa Sumur Ji`ronah

Pewarta:
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar