UNP adakan konferensi internasional mitigasi bencana

UNP adakan konferensi internasional mitigasi bencana

Pelatihan Siaga Bencana Pelajar Sejumlah pelajar mengikuti Pelatihan Terbuka Kesiapsiagaan Bencana, di Lapangan Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Sabtu (31/1). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Padang (ANTARA News) - Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat menggelar seminar internasional bidang lingkungan atau International Conference on Environmental Sciences (ICES) yang membahas mitigasi bencana akibat kerusakan lingkungan, Kamis.

Ketua ICES Eri Barlian di Padang, Kamis, mengatakan Sumatera Barat sebagai salah satu daerah rawan bencana mulai dari banjir bandang longsor dan lainnya. Semua itu tidak terlepas dari persoalan lingkungan dan konferensi ini nantinya akan memberikan beberapa rekomendasi kepada pemangku kepentingan.

Ia mengatakan konferensi ini digelar oleh program studi (Prodi) Ilmu Lingkungan Pascasarjana dengan tema Mitigasi Bencana, Pengembangan Lingkungan dan Berkelanjutan.

Keterlibatan dan kerja sama berbagai pihak dalam mitigasi bencana menjadi isu utama dalam konferensi ini. 

"Sejumlah 126 pemakalah dari berbagai negara yang hadir dan membahas persoalan bencana, mitigasi, dan lingkungan," ujar dia.

Ia mengatakan persoalan bencana alam itu tidak terlepas dari kondisi lingkungan, dalam konferensi ini salah satu topiknya adalah mengurangi dampak bencana tersebut.

Selain itu penelitian juga mencari solusi untuk mencegah agar bencana alam tidak terjadi dengan cara menjaga lingkungan agar tetap stabil dan mengurangi dampak risiko bencana.

Eri Berlian menjelaskan ada beberapa pemakalah utama yang berasal dari berbagai negara seperti Dr Marlina Lubis dari Kementerian Lingkungan Hidup, Simone Maynard, PhD, Konsultan Lingkungan Hidup Australia.

Selain itu Dr Inrajit PAL dari Thailand, Dr Jose M Reguney dari University of Philipines dan Ketua Prodi Ilmu Lingkungan Pascasarjana UNP Dr Indang Dewata.

Ketua Prodi S-2 Ilmu Lingkungan Pascasarjana UNP Indang Dewata menjelaskan bencana alam akan selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Bencana alam tidak dapat dicegah, namun yang dapat dilakukan meminimalisasi korban dan memastikan terdapat sumber kehidupan yang akan mendukung bangkitnya wilayah tersebut dari bencana.

"Diperlukan kerja sama yang lebih erat mengenai mitigasi bencana mulai dari mekanisme peringatan dini, pembangunan infrastruktur tahan bencana, hingga pendanaan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana," katanya.

Sementara itu Wakil Rektor II UNP, Syahril mengapresiasi Prodi Ilmu Lingkungan yang menggelar konferensi internasional dalam rangka merespon kondisi Indonesia yang beberapa waktu lalu mengalami bencana gempa bumi dan tsunami, karena dua bentuk bencana itu juga bisa terjadi di Sumbar.

Gempa dan tsunami memakan banyak korban jiwa. Sumbar pernah mengalami gempa cukup besar dan menelan banyak korban jiwa.

Dia berharap agar rumusan dalam konferensi ini bisa disebarluaskan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

"Kita berharap konferensi ini dapat mengurangi dampak bencana itu," katanya.*


Baca juga: ACT dirikan Akademi Relawan Indonesia di Yogyakarta

Baca juga: Ikhtiar meredam bencana



 

Pewarta: Mario Sofia Nasution
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Cegah longsor, Gubernur Jateng ajak lakukan reboisasi

Komentar