counter

OJK optimistis kinerja pasar modal positif

OJK optimistis kinerja pasar modal positif

Kepala Eksekutif Pasar Modal sekaligus Dewan Komisioner OJK Hoesen (ketiga dari kiri), didampingi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi (ketiga dari kanan) menyampaikan perkembangan industri pasar modal Indonesia di Solo, Jawa tengah, Jumat (16/11/2018). (ANTARA/Zubi)

Investor asing menganggap Indonesia sebagai smart boy emerging countries karena dapat mengelola fiskal dengan baik
Solo, (ANTARA News) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis kinerja industri pasar modal Indonesia masih akan tetap positif meski dibayangi ketidakpastian global.

"Pasar modal tergantung pada konsensus ekonomi dan korporasi. Asumsi RAPBN 2019 kurang lebih sama dengan 2018, Indonesi masih tumbuh 5-5,3 persen pada 2019. Artinya tidak memburuk, itu menjadi indikasi positif bagi pasar modal," ujar Kepala Eksekutif Pasar Modal sekaligus Dewan Komisioner OJK Hoesen dalam gathering pewarta pasar modal di Solo, Jawa Tengah, Jumat.

Ia menambahkan tantangan bagi pasar modal yakni datang dari eksternal yang masih penuh dengan ketidakpastian seperti tensi perang dagang. Namun, kuatnya fundamental ekonomi nasional diharapkan dapat menahan sentimen negatif itu.

"Investor asing menganggap Indonesia sebagai smart boy emerging countries karena dapat mengelola fiskal dengan baik," ucapnya.

Terkait kebijakan Bank Indonesia menaikan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6 persen, Hoesen menilai kebijakan itu merupakan langkah positif dalam menjaga stabilitas makro ekonomi nasional.

"Kenaikan itu untuk mengimbangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), itu memang diperlukan," katanya.

Menurut dia, kenaikan suku bunga dapat mengundang dana investor masuk ke dalam negeri sehingga dapat mengurangi defisit.

"Sejak dari dulu CAD negatif karena impor. Tapi ada kompensasi karena ada portofolio yang masih masuk. Perkembangan saat ini mulai terjadi inflow," katanya.

Di tempat sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi menilai para investor di pasar modal tentu sudah mengantisipasi atas kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

"BI menaikkan suku bunga, ternyata indeks harga saham gabungan (IHSG) naik signifikan. Para pelaku pasar juga tentu sudah mempersiapkan diri terkait era suku bunga tinggi ke depannya. BI juga sudah memberi sinyal," katanya. 

Baca juga: OJK: Jadikan pasar modal pusat pendanaan infrastruktur

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar