Artikel

Ternak itik dan BUMDes

Ternak itik dan BUMDes

PAMERAN PRODUK UNGGULAN DESA 2018 Pengunjung melihat produk unggulan BUMNag Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada ajang Expo Produk Unggulan Kawasan Perdesaan 2018 di Sport Center Pantai Panjang Bengkulu, Bengkulu, Sabtu (17/11/2018). Sebanyak 200 BUMNDes se-Indonesia mengikuti pameran produk unggulan kawasan perdesaan 2018 yang mempromosikan produk unggulan hasil dari pengolahan dana desa dari Kemendes PDTT. Pameran berlangsung hingga 20 November 2018. (ANTARA FOTO/DAVID MUHARMANSYAH)

Rejang Lebong (ANTARA News) - Kalangan peternak itik di Desa Rimbo Recap, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu merasa bersyukur mendapat penyertaan modal BUMDes setempat sehingga bisa mengembangkan usaha mereka menjadi lebih maju lagi.

Unit usaha yang dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Rimbo Recap ini berada di Dusun II di atas lahan persawahan seluas 98 meter persegi, dan diberi nama Sari Tani.

Sejak mendapat suntikan modal usaha dari dana desa setempat pada awal 2018, usaha ini berkembang pesat dan setiap harinya bisa memproduksi telur itik 100 butir.

"Setiap harinya bisa menghasilkan 100 butir telur yang selanjutnya kami jual kepada pedagang telur maupun perajin telur asin seharga Rp2.500 per butir atau Rp7,5 juta per bulan," kata Yuyun, penanggung jawab usaha peternakan desa itu saat ditemui di Desa Rimbo Recap.

Usaha peternakan itu sebelumnya sudah berdiri dan dikelola Yuyun bersama dengan beberapa peternakan lainnya, namun belum tergabung dalam kelompok dengan modal awal berkisar Rp30 juta yang dipakai untuk membuat kandang, membeli pakan dan 100 indukan betina serta 50 ekor pejantan.

Pada awal 2018, dia memberanikan diri membuat proposal kepada pemerintah desa untuk pengembangan usaha peternakan. Proposal itu mendapat persetujuan.

BUMDes bersedia membiayai pembelian pakan berupa dedak dan konsentrat, sedangkan keuntungannya dikelola dengan sistem bagi hasil.

Berkat penyertaan modal dari BUMDes Desa Rimbo Recap itu, jumlah itik yang mereka pelihara sudah lebih dari 400 ekor, di mana ternak ini dititipkan kepada anggota kelompok yang perorangnya memelihara 20 ekor.

Jika sebelumnya unit usaha peternakan itu menjual telur itik, sejak beberapa bulan belakangan mulai mengalihkan usahanya dalam bentuk penjualan anakan itik dan pembesaran itik yang dinilai lebih prospektif, sedangkan usaha penjualan telur masih dilakukan, terutama yang dihasilkan anggota kelompok.

Anakan itik ini dijual untuk memenuhi kebutuhan usaha peternakan itik petelur di Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, serta Kota Bengkulu, sedangkan pembesaran itik untuk memenuhi kebutuhan daging itik, khususnya usaha rumah makan pecel lele.

Anakan itik atau DOD yang berumur dua atau tiga hari biasa dijual Rp10.000 per ekor, untuk itik berumur 2,5 sampai tiga bulan untuk kebutuhan warung pecel lele per ekornya dijual Rp40.000, sedangkan untuk indukan berumur enam bulan dijual Rp80.000 per ekor.

Untuk memenuhi permintaan DOD atau day old duck (anakan itik) dan kebutuhan rumah makan pecel lele, pihaknya sudah menetaskan hingga 1.000 ekor anakan dengan menggunakan tujuh unit mesin penetas telur yang mereka buat sendiri.

Setelah lebih dari enam bulan mendapat suntikan modal dari BUMDes Rimbo Recap, tidak ada kendala yang berarti dalam pengembangan usaha itu.

Namun, mereka kerap kesulitan mencari bahan pakan ternak berupa limbah penggilingan padi atau dedak yang menjadi bahan utama pakan itik disamping konsentrat.

Setiap hari, itik diberi makan tiga kali, pagi dan sore, berupa dedak dicampur dengan konsentrat, sedangkan siang hari diberi makan sayur-sayuran, seperti enceng gondok yang banyak tumbuh di sekitar sawah di desa itu.

Ke depan, mereka akan mengusulkan pembelian alat pembuat pakan itik, mengingat dedak yang mereka beli dari penggilingan padi tidak bisa disimpan lama. Apalagi saat musim panen, ketersediaan dedak cukup banyak.

Dedak rentan diserang kutu sehingga tidak bisa disimpan lama-lama. Jika dedak berkutu diberikan ke itik, maka akan membuat itik berhenti bertelur serta mengurangi bobot.

Kepala Desa Rimbo Recap, Ujang Ruhiat, menjelaskan BUMDes di desa yang dipimpinnya terbentuk pada 2016 dengan modal awal dari Dana Desa berkisar Rp134 juta. Adapun jenis usaha yang dikembangkan ialah penyediaan saprodi pertanian, mengingat daerah itu salah satu sentra penghasil beras di Rejang Lebong.

Selain menyediakan saprodi pertanian, berupa pupuk, obat-obatan pertanian, dan peralatan lainnya, BUMDes setempat juga membeli beras dari petani karena selama ini mereka sering kesulitan memasarkan hasil panennya.

BUMDes Rimbo Recap pada awal 2018 mulai menggandeng peternak itik di daerah itu guna membudidayakan itik Talang Benih yang merupakan varietas lokal, khas Rejang Lebong.

Untuk pengembangan BUMDes tahun ini, pihaknya telah menganggarkan penyertaan modal Rp171 juta dan rencananya dicairkan pada tahap ketiga pada akhir November 2018.

Kendati saat ini modal yang disertakan kepada kelompok Sari Tani masih sedikit, tetapi tetap akan diupayakan peningkatan. Saat ini BUMDes masih memberikan penyertaan modal dalam bentuk pembelian pakan ternak yang per minggunya menghabiskan konsentrat per karung seharga Rp370.000 serta dedak Rp80.000.

Dia berharap, unit usaha peternakan itik ini nantinya bisa berkembang sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan menciptakan lapangan pekerjaan baru, terutama untuk kerajinan pembuatan telur asin serta usaha lainnya, yang memanfaatkan daging dan telur itik.

Desa Rimbo Recap pada tahun ini menerima kucuran Dana Desa Rp718 juta untuk pembangunan infrastruktur berupa pemasangan bronjong, pembuatan jalan usaha tani (JUT), drainase tertutup dan peningkatan jalan, serta program pemberdayaan masyarakat maupun penyertaan modal BUMDes.




Penilaian Terbaik

Pelaksana Tugas Kabid Kelembagaan Masyarakat Sosial Budaya dan Pemdes Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Rejang Lebong, Bobi Harpa Santana, menjelaskan dari 122 desa di daerah itu yang menerima Dana Desa tahun ini, terdapat empat desa yang BUMDes-nya mendapat penilaian terbaik.

Sebanyak 122 desa itu, semuanya sudah ada BUMDes dengan berbagai jenis usaha, seperti penyewaan alat tarup, pembuatan makanan ringan, usaha perikanan dan peternakan, dan produksi bubuk kopi.

BUMDes yang sudah terbentuk itu, pada 2017 mendapat penilaian terbaik atas usaha yang dikembangkannya dengan memanfaatkan pembiayaan dari Dana Desa, antara lain BUMDes Desa Rimbo Recap, Kecamatan Curup Selatan, BUMDes Desa Karang dan Sumber Urip di Kecamatan Selupu Rejang, serta BUMDes Desa Purwodadi, Kecamatan Bermani Ulu Raya, dengan usaha embung desa.

Total Dana Desa yang disalurkan kepada 122 desa di Rejang Lebong pada tahun ini mencapai Rp97,5 miliar. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya Rp95 miliar, di mana saat ini proses pencairan Dana Desa 2018 untuk tahap ketiga sebesar 40 persen sudah diajukan oleh masing-masing desa penerimanya.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat melakukan sarasehan dengan para kepala desa di Rejang Lebong, Kamis (15/11) mengimbau desa-desa di daerah itu dan umumnya di Bengkulu mencontoh beberapa desa yang berhasil memanfaatkan Dana Desa guna menggali potensi masing-masing sehingga bisa meningkatkan perekonomian desa dan masyarakat.

Desa di Rejang Lebong, katanya, bisa meniru Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah yang memanfaatkan Dana Desa melalui BumDes untuk mengembangkan sektor pariwisata unggulan, yakni Umbul Ponggok.

"Apalagi pariwisata salah satu program unggulan di Rejang Lebong," ujar Eko.

Pihak Kementerian Desa PDDT pada tahun ini akan memberikan bantuan BUMDes di Rejang Lebong dengan total Rp500 juta untuk 10 BUMDes, atau Rp50 juta per BUMDes.

Selain itu akan diberikan bantuan showcase atau semacam dana pinjaman untuk empat desa dengan besaran hingga Rp1,5 miliar.

??? Untuk mendukung pengembangan usaha BUMDes maupun pembangunan infrastruktur di desa, pemerintah pusat pada tahun depan telah meningkatkan kucuran Dana Desa menjadi Rp70 trilun.

Jumlah itu lebih besar daripada program serupa pada 2017 yang sebanyak Rp60 triliun. Nantinya setiap desa akan mendapat kenaikan berkisar Rp100 juta dibandingkan tahun sebelumnya.

Melalui peningkatan anggaran Dana Desa itu, diharapkan berbagai BUMDes terus berinovasi dan mengembangkan usahanya demi kemajuan desa dan peningkatan perekonomian masyarakat.*


Baca juga: Kemenristekdikti : bumdes harus lakukan inovasi

Baca juga: BUMDes percepat pembangunan ekonomi lokal



 

Pewarta: Nur Muhamad
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Didanai BUMD, Wisata Sawah Gampong Mane Kareung jadi favorit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar