counter

Lestarikan warisan budaya, Freeport bantu inovasi pemintalan benang noken

Lestarikan warisan budaya,  Freeport bantu inovasi pemintalan benang noken

Tas Noken Seorang penjual tas noken menjual dagangannya di depan Kampus Universitas Cenderawasih di Abepura, Jayapura, Papua, Rabu (14/3). Tas noken merupakan tas asli masyarakat Papua yang kini terdaftar di Unesco sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia dan masuk dalam kategori safeguarding. Tas dengan warna dan motif kreasi baru tersebut dijual Rp. 50.000 - Rp.250.000. (FOTO ANTARA/Anang Budiono)

Untuk memintal benang ini, dahulu generasi orang tua kami memintal menggunakan tangan, tapi sekarang  dengan alat ini, kami bisa memintal lebih cepat
Jakarta (ANTARA News) - Noken, kerajinan rajutan asal Papua cukup familiar bagi masyarakat Indonesia. Selain benang, serat kayu dan akar anggrek juga digunakan sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi beragam hasil kerajinan tangan, khususnya tas. 

Namun, belakangan berkembang tren pembuatan noken yang menggunakan bahan baku benang yang terbuat dari berbagai macam jenis, tidak lagi memanfaatkan serat kayu atau akar anggrek.

Untuk itu Freeport Indonesia beserta mitranya yang melakukan pendampingan di masyarakat mencoba berinovasi guna mencari solusi pengolahan benang serat kayu guna memudahkan produksi noken.

Inovasi yang dilakukan adalah alat pemintal benang sederhana yang menggunakan dinamo seperti yang dipergunakan pada alat mesin jahit.

Perusahaan tersebut bersama dengan Yayasan Nirudaya menyalurkan alat pemintal benang serat kayu untuk digunakan para mama Papua di kampung Utikini Baru, Timika, Papua. 

Dina Lakupais pendamping pengrajin noken binaan Freeport Indonesia, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat mengatakan, penggunaan serat kayu dianggap tak lagi efisien oleh pengrajin noken karena waktu pengerjaan yang memerlukan waktu yang lama. 

"Alat pemintal benang ini menjadi inovasi sederhana yang memiliki dampak besar dalam proses pembuatan noken. Cara penggunaan alat pemintal benang ini cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta proses pemintalan benang serat kayu yang lebih singkat sehingga pada gilirannya mampu memotong waktu produksi noken," ujar Dina.

Maria Kwiyami, salah seorang pengrajin noken di Utikini Baru mengatakan, mesin pemintal tersebut memudahkan para Mama Papua dalam kegiatan membuat noken. 

"Untuk memintal benang ini, dahulu generasi orang tua kami memintal menggunakan tangan, tapi sekarang  dengan alat ini, kami bisa memintal lebih cepat," kata Maria ikut hadir  pada  Festival Filantropi Indonesia (Fifest 2018)  di JCC Senayan, Jakarta  (15 November 2018) lalu. 

Baca juga: Memelihara tradisi menganyam noken

Secara tradisional, tambahnya,  benang untuk membuat noken diambil dari serat kayu yang dipilin dengan tangan, helai demi helai hingga akhirnya menjadi benang. 

Proses inilah yang mendorong pembuatan noken memerlukan waktu yang cukup lama,  bahkan proses pemilinan benang saja bisa memakan waktu hingga dua bulan. 

"Jadi setelah ada alat ini, proses memintal benang bisa selesai hanya dalam waktu satu sampai dua minggu. Kalau menunggu proses secara manual bisa sampai satu atau dua bulan. Itu pun baru benangnya saja," katanya.

 Untuk proses sampai menjadi tas rajut noken, tambahnya, dulu saat masih dikerjakan secara manual bisa memerlukan waktu hingga tiga bulan.

Maria menyebutkan, bahwa bantuan alat pintal ini telah diperolehnya selama sekitar tiga bulan (sejak Agustus). Selama jangka waktu itu, dirinya merasakan peningkatan dari sisi perekonomian keluarga dan usahanya yang turut didorong oleh proses produksi yang bisa berlangsung lebih cepat.

Baca juga: Noken Papua diakui UNESCO warisan budaya dunia

Baca juga: Peserta SMN sumut belajar anyam noken


Ketua Yayasan Nirudaya, Martin Asda mengatakan,  proses pemintalan manual selain  lama juga cukup menyakitkan bagi para Mama Papua karena harus memilin kulit kayu yang kasar hingga menjadi lebih halus, tak jarang, proses ini menyebabkan luka di tangan para pengrajin. Oleh karena itu pihaknya memberikan bantuan berupa alat mesin pemintal benang untuk pengrajin noken.

"Ide awalnya ini memang merupakan aspirasi dari para mama Papua agar mereka mendapatkan mesin pemintal benang untuk noken, karena kulit kayu itu kan kasar,  ketika dipelintir tak jarang membuat mereka, itu proses yang menyakitkan," katanya.

Sejak 2017 akhir Yayasan Nirudaya mulai merancang program untuk menciptakan dan mendistribusikan alat pintal dan 2018, alatnya sudah mulai didistribusikan. 

Bersama  PT Freeport Indonesia maka pihaknya menyediakan alat pemintal, juga membina warga di Kampung Utikini Baru sebagai pengrajin noken. 

Sejak Agustus 2018, telah 13 orang mama Papua  di desa Utikini Baru  menerima bantuan berikut pelatihan  produksi noken, serta mengembangkan desa tersebut sebagai desa noken.

Sebagai desa noken, ujar Martin, nantinya Kampung Utikini Baru tidak hanya akan memproduksi noken dalam bentuk tas, namun juga berbagai produk turunannya seperti pakaian hingga hiasan rumah.
 

Pewarta: Subagyo
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar