counter

Program Kotaku PUPR rehabilitasi situs sejarah Kerajaan Aceh

Program Kotaku PUPR rehabilitasi situs sejarah Kerajaan Aceh

Kawasan Krueng Daroy, Banda Aceh hasil penataan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kementerian PUPR, Sabtu (15/12/2018). (ANTARA News/Ricky Prayoga)

Banda Aceh, Aceh (ANTARA News) - Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dianggap bisa merehabilitasi situs sejarah kerajaan Aceh, Krueng Daroy, dan Gunongan.

Menurut Sekretaris Kota Banda Aceh, Bahagia, program di Kawasan Seutui di Banda Aceh ini bisa mengembalikan keindahan saluran air Krueng Daroy yang mengaliri taman Putroe Phang, suatu Gunongan yang merupakan peninggalan kerajaan Aceh sekitar 400 tahun lalu.

"Seiring perkembangan zaman, di kawasan ini semakin banyak masyarakat yang mendirikan bangunan permukiman hingga menjadi kurang indah. Namun dengan program ini, kawasan menjadi lebih baik," kata Bahagia, di Banda Aceh, Sabtu.

Program ini, menata kawasan yang berada di tepi sungai Krueng Daroy dengan luas sekitar 38,26 hektar, meliputi lima gampong/kelurahan, yakni Gampong Neusu Jaya, Neusu Aceh, Sukaramai, Kelurahan Seutui, dan Gampong Lamlagang.

Dalam pelaksanaannya, mulai dari tahap perencanaan dilakukan musyawarah yang melibatkan Satuan Kerja Cipta Karya Kementerian PUPR, Kepala Dinas PUPR, Kepala Camat dan warga, untuk mengidentifikasi masalah dan kondisi awal dan perencanaan infrastruktur yang akan dibangun termasuk pengadaan lahan.

Dalam implementasi program, juga melibatkan masyarakat yang dimulai pada Februari 2018 lalu telah selesai November 2018 dengan kontrak sebesar Rp14,11 miliar.

“Setelah dilakukan penataan, di samping lebih rapi, masyarakat memiliki ruang terbuka hijau baru sebagai tempat berinteraksi warga. Jadi dengan program ini selain mengurangi kumuh juga menambah ruang terbuka hijau," ujar Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga saat meninjau lokasi.

Penataan tersebut terlihat dengan penataan di bantaran sungai dengan jalur pedestrian yang cukup lebar dengan panjang 1,7 kilometer, yang tadinya hanya jalan setapak di atas tanah dengan tiga unit jembatan, pemasangan Penerangan Jalan Umum sebanyak 132 titik, pengadaan air bersih dan sistem sanitasi untuk mengolah limbah masyarakat sekitar.

"Selain itu, pengelolaan limbah masyarakat juga sekarang tidak boleh dibuang ke sungai tapi diarahkan ke suatu tempat untuk menjaga kebersihan kawasan agar juga jadi kawasan destinasi wisata pilihan dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Mungkin nanti masyarakat di sekitar pedestrian bisa membuka warung-warung hingga bisa menumbuhkan ekonomi lokal," ujarnya.

Pedestrian untuk pejalan kaki itu terlihat rapi dan bersih meski di beberapa titik ada bangunan rumah warga yang masuk ke badan pedestrian hingga mempersempit jalur sepanjang 1,7 kilometer itu.

Sungai Krueng Daroy juga masih terlihat kotor dengan banyaknya sampah yang mengapung sungai.

Untuk mengatasinya, pemerintah Kota Banda Aceh akan melakukan pengadaan perahu untuk pembersihan serta tenaga untuk patroli pembersihan sampah. 

"Kami juga melakukan sosialisasi pengelolaan sampah jangan dibuang ke sungai namun dikumpulkan dan nanti akan diangkut. Kami yakin bisa melaksanakannya. Di antara masyarakat juga sudah mulai terbangun untuk sama-sama mengingatkan agar tidak buang sampah ke sungai karena kan ada perasaan sayang juga mungkin karena ini juga situs sejarah," ujar Bahagia.

Sungai buatan Krueng Daroy dibangun pada masa kerajaan Aceh yang digunakan untuk mengairi kompleks istana dan juga Taman Putroe Phang di mana bangunan yang disebut Gunongan berada.

Gunongan adalah simbol dari kekuatan cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya yaitu Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Pahang, Malaysia, untuk membahagiakan sang permaisuri.

Berdasarkan hikayat di Aceh, Gunongan ini sebagai sebuah miniatur perbukitan yang mengelilingi istana Putroe Phang yang terletak di Pahang.

Bangunan yang didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada 1607-1636, tidaklah terlalu besar, bersegi enam, memiliki bentuk seperti bunga dan bertingkat tiga dengan tingkat utamanya adalah mahkota tiang yang berdiri tegak. Pada dindingnya terdapat sebuah pintu masuk berukuran rendah yang selalu dalam keadaan terkunci. Dari dalam lorong pintu tersebut terdapat sebuah tangga yang menuju ke tingkat tiga Gunongan. 

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Basuki Hadimuljono, Sang Bapak Infrastruktur

Komentar