counter

KLHK evakuasi stafnya dari Pulau Panaitan, Banten

KLHK evakuasi stafnya dari Pulau Panaitan, Banten

Arsip Foto. Hutan di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. (ANTARA News/Virna P Setyorini)

Kita berharap setelah ini kita bisa survei kondisi yang lainnya di taman nasional, terutama badak...
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengevakuasi 16 stafnya yang sedang bertugas di Pulau Panaitan, dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten, guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana tsunami.

"Kita ada 15 resor (konservasi) dan total stafnya ada 113 di Taman Nasional Ujung Kulon, yang terdampak (tsunami) telak itu ada di Pulau Panaitan. Ada satu tenaga honorer di Resort Citelang, Pak Rubani meninggal dunia, dan satu tenaga honorer lainnya Pak Sandi belum ditemukan," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno kepada Antara di Jakarta melalui sambungan telepon pada Senin.

Ia mengatakan 16 staf yang bertugas di Legon Kadam dan Legon Butun di Pulau Panaitan butuh segera dievakuasi.

"Tapi kendalanya ada di persoalan kapal, karena semua kapal nelayan di sana rusak terkena tsunami, satu-satunya kapal kita juga bocor, sekarang sedang diupayakan diperbaiki."

KLHK sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan mitra kerja seperti WWF-Indonesia dan Yayasan Badak Indonesia untuk melakukan evakuasi.

Wiratno mengatakan langkah itu dilakukan menyusul laporan hasil pantauan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu-Lampung yang menunjukkan masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
 
"Aktivitas Anak Krakatau kita juga pantau terus dari pos milik BKSDA Bengkulu-Lampung yang ada di Pulau Sebesi. Jaraknya hanya 17,5 kilometer dari gunung, dari sana tidak ada halangan apapun untuk melihat erupsi, jadi sangat terpantau kalau kubah gunung itu semakin tinggi," ujar dia.

Mengambil pelajaran dari bencana tsunami yang melanda sebagian wilayah pesisir Lampung dan Banten pada 22 Desember, ia mengatakan, ke depan staf yang bertugas akan dilengkapi dengan radio komunikasi yang pengoperasiannya tidak memerlukan listrik.

"Lima belas hari dalam sebulan mereka bertugas di resor-resor tersebut. Perbekalan mereka sih cukup untuk sampai tanggal 31 Desember 2018, tapi untuk mengantisipasi bencana lagi lebih baik mereka kita evakuasi," ujar dia.  
Wiratno mengatakan wilayah TNUK yang relatif aman dari dampak tsunami Selat Sunda 22 Desember hanya yang ada di selatan seperti resor Karang Panjang, Kalejetan, dan Gunung Honje.

"Kita berharap setelah ini kita bisa survei kondisi yang lainnya di taman nasional, terutama badak (badak jawa)," ujar dia.

Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di semenanjung barat Pulau Jawa merupakan taman nasional tertua di Indonesia dan hingga kini menjadi satu-satunya rumah dari spesies badak bercula satu atau badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang tersisa di bumi.

Baca juga:
Presiden minta BMKG lengkapi alat deteksi dini tsunami

Menteri PUPR fokus evakuasi dan bersihkan puing
 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Tim Ekspedisi Destana gelar simulasi tsunami

Komentar