counter

Ingatan bersama tentang sejarah Indonesia diperlukan untuk jaga toleransi

Ingatan bersama tentang sejarah Indonesia diperlukan untuk jaga toleransi

Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo dalam konferensi pers tentang pesan Natal 2018 di Gereja Katedral Jakarta, Selasa (25/12/2018). (ANTARA News/Azizah Fitriyanti)

.. saat itu semua wakil dari berbagai suku bersatu padu, tidak ambil pusing suku mana, agama apa, tapi bersatu bersama-sama membangun dan mengembangkan semangat kebangsaan itu..
Jakarta (ANTARA News) - Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo berpendapat bahwa ingatan bersama tentang sejarah kebangsaan Indonesia perlu kembali digalakkan untuk menjaga toleransi dan persaudaraan masyarakat.

Usulan tersebut disampaikan Uskup Agung Ignatius dalam konferensi pers di Gereja Katedral Jakarta, Selasa, untuk menanggapi makin tingginya kasus intoleransi di Indonesia akhir-akhir ini.

"Meskipun intoleransi mengacu pada suku, agama, ras, dan antargolongan, tetpai harus diakui kasus yang sering terjadi di antara umat beragama, kasusnya memang tidak banyak yang sampai membahayakan atau mencemaskan, tetapi gejala-gejala itu jika tidak diatasi, tidak diperhatikan, tidak diolah, maka bisa berbahaya untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata dia.

Menurut Romo Ignatius, peristiwa bersejarah yang perlu disebarkan lagi sebagai ingatan bersama bangsa Indonesia adalah Kebangkitan Nasional 1908 yang kini diperingati setiap tanggal 20 Mei dan Sumpah Pemuda 1928 yang diperingati tiap 28 Oktober.

"Kedua peristiwa itu ingatan bersama yang bukan main, saat itu semua wakil dari berbagai suku bersatu padu, tidak ambil pusing suku mana, agama apa, tapi bersatu bersama-sama membangun dan mengembangkan semangat kebangsaan itu," kata dia.

Oleh karena itu, Uskup Agung merasa perlu mempertanyakan sejarah kebangsaan seseorang atau suatu kelompok yang melakukan atau menyebarkan intoleransi karena pada dasarnya, nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang tercantum pada dasar negara Pancasila diambil dari sari-sari nilai budaya yang baik dan dicontohkan oleh para pendiri bangsa.

"Belum lagi kalau kita baca sejarah lahirnya Pancasila pada 18 agustus 1945, kalau bukan karena rahmat Tuhan dan kehebatan para pendiri bangsa kita itu tidak akan jadi. Ingatan bersama itulah yang harus kita rawat," kata dia.

Baca juga: Uskup Agung Katedral Jakarta pimpin doa bagi korban tsunami Selat Sunda
Baca juga: Uskup Agung Jakarta harapkan Pemilu 2019 tak sekadar demokrasi prosedural
Baca juga: Uskup Agung sampaikan pesan Natal 2018

Pewarta: Azizah Fitriyanti
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Natal berlalu, gereja aman tanpa gangguan

Komentar