MUI imbau sambut tahun baru dengan kesederhanaan

MUI imbau sambut tahun baru dengan kesederhanaan

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Saadi. (dpr.go.id)

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi mengimbau masyarakat untuk menyambut pergantian Tahun Baru 2019 dengan semangat kesederhanaan.
   
"Sambut Tahun Baru 2019 dengan semangat kesederhanaan, menjauhkan diri dari sikap boros, berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak banyak manfaatnya (mubadzir)," kata Zainut di Jakarta, Senin.
   
Dia berharap masyarakat menjadikan Tahun Baru 2019 sebagai tahun kepedulian sosial untuk menggalang solidaritas nasional dalam rangka meringankan beban penderitaan korban bencana.
   
Waketum MUI mencontohkan terdapat korban bencana yang bisa dibantu seperti masyarakat di Lombok, Palu, Donggala serta Banten.
   
"Hal tersebut sebagai bentuk refleksi dari nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang dan kepedulian antarsesama," katanya.
   
Zainut juga mengajak umat Islam untuk memperbanyak bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia berupa umur panjang, kesehatan dan kemurahan rezeki.
   
Untuk hal tersebut, kata dia, hendaknya memperbanyak berdoa, berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,  khususnya berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara dari berbagai musibah dan ancaman bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa Indonesia.
   
Dengan begitu, lanjut dia, Indonesia menjadi negara yang aman dan diselamatkan dari berbagai macam ujian, fitnah dan cobaan.
   
Di tahun politik 2019, dia mengajak mengajak semua pihak khususnya para pemimpin bangsa, tokoh agama dan elit politik hendaknya bisa menahan diri dalam mengekspresikan politiknya termasuk dalam menyampaikan pernyataan pendapat agar tidak menimbulkan suasana semakin panas, tegang dan penuh dengan kecurigaan.
   
Menurut dia, perbedaan pilihan hendaknya disikapi dengan dewasa, tidak harus diwarnai dengan saling menjelekkan, memfitnah, menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.
   
Karena hal tersebut, kata dia, selain tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat juga dapat menimbulkan gesekan dan retaknya bangunan kebangsaan kita.
   
"Marilah kita membangun budaya berpolitik yang santun, berakhlakul karimah, penuh dengan nilai keadaban dan kesopanan. Dan marilah kita menjauhi budaya politik yang penuh dengan kecurigaan (su'udzon), pertentangan (ta'arudl), permusuhan (tanazu') dan persaingan (tabaghut) yang tidak sehat dengan menghalalkan segala cara," kata dia.

Baca juga: BMKG peringatakan hujan lebat di Jabodetabek
Baca juga: Kota Tua buka hingga dini hari pada malam tahun baru
Baca juga: Resolusi tahun baru Mark Zuckerberg: membenahi Facebook

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar