counter

Kemlu fokus dampingi keluarga WNI yang disandera

Kemlu fokus dampingi keluarga WNI yang disandera

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal menjawab pertanyaan sejumlah media usai Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI (PPTM) di Jakarta, Rabu (9/1/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Luar Negeri fokus mendampingi keluarga para WNI yang disandera, termasuk Samsul Sangunim, yang hingga saat ini masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.

Video yang menunjukkan Samsul meminta tolong tersebar luas di Malaysia, minggu lalu, dan diberitakan oleh The Star Online.

Menurut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal, video bernada ancaman seperti itu seringkali dikirimkan penculik kepada keluarga sandera untuk memberikan tekanan psikologis agar keluarga segera memberikan tebusan yang mereka minta.

"Strateginya sekarang adalah bagaimana memperkuat dan memberikan pendampingan kepada keluarga sandera supaya mereka juga bisa melakukan negosiasi (dengan penculik)," kata Iqbal usai Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI (PPTM) di Jakarta, Rabu.

Selama ini, kata Iqbal, video yang ditujukan untuk meneror dan mengancam keluarga sandera sering diterima tetapi pihak Kemlu tidak pernah membukanya ke publik.

Video berdurasi 10 detik berisi permintaan tolong Samsul pun semula dikirimkan kepada keluarganya, yang membagikan video tersebut kepada pemilik kapal tempat Samsul bekerja.

"Kemudian pemilik kapal menyerahkan video tersebut ke polisi Malaysia. Justru yang menyebarkan video (ke publik) adalah polisi Malaysia," kata Iqbal.

Tanpa menjelaskan apa motif polisi Malaysia menyebarkan video tersebut, Iqbal menegaskan bahwa upaya pembebasan Samsul terus dilakukan oleh Kemlu bersama pihak-pihak terkait meskipun perkembangannya tidak disampaikan kepada publik.

"Upaya pembebasan terus kami lakukan. Tetapi sifat upaya pembebasan itu kan proses intelijen yang memang tidak untuk dibuka ke publik. Itu yang kami jaga," tutur Iqbal.

Sejak 2016, tercatat 36 WNI yang mayoritas bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) diculik dan dijadikan sandera di Filipina Selatan.

Dari jumlah tersebut, 33 orang telah dibebaskan sementara tiga orang lainnya masih disandera hingga saat ini. ***2***
Baca juga: Kemlu benarkan video sandera minta tolong adalah WNI
Baca juga: WNI diculik Abu Sayyaf menangis dalam video
Baca juga: Tiga WNI diculik di perairan Kongo dibebaskan


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar