counter

Dosen UGM olah cangkang kepiting jadi antihama ramah lingkungan

Dosen UGM olah cangkang kepiting jadi antihama ramah lingkungan

Arsip Foto. Kepiting dagangan penjual di pantai Glayem, Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (20/1/2017). (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Yogyakarta (ANTARA News) - Dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Ronny Martien mengolah cangkang kepiting dan kulit udang menjadi nanokitosan, formula antihama yang ramah lingkungan.

Saat menyampaikan keterangan pers di Kampus UGM di Yogyakarta, Jumat, ia mengatakan ide mengembangkan formula nanokitosan itu berawal dari keprihatinan terhadap maraknya penggunaan pestisida untuk membasmi hama, khususnya di perkebunan sayur dan buah di daerah Ngablak, Kopeng, Jawa Tengah.

"Penggunaan pestisida dalam jumlah besar yang dilakukan petani memang mampu mengurangi serangan hama perkebunan, tetapi itu berbahaya," kata Ronny.

Keprihatinan itu kemudian memunculkan ide untuk menghasilkan nanokitosan untuk melindungi tanaman dari hama dengan mengolah cangkang kepiting dan kulit udang yang pasokannya melimpah di Indonesia.

Cangkang kepiting dan kulit udang mengandung senyawa kitin yang kemudian bisa diubah menjadi kitosan dalam ukuran nano partikel berwujud cair.

Menurut Ronny, formula nanokitosan yang dia kembangkan mengandung antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur serta bersifat non-toksik.

"Bukan seperti pestisida yang membunuh hama, tetapi nanokitosan disemprotkan untuk melapisi tanaman sehingga melindungi dari serangan hama," kata dia.

Ia mengatakan nanokitosan merupakan biopolimer atau polimer alam sehingga aman bagi manusia dan ramah lingkungan.

"Formula ini juga dapat menyuburkan tanaman karena memiliki kemampuan mengikat unsur hara di alam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman," kata Ronny.

Ia mengatakan saat ini formula tersebut telah dimanfaatkan oleh petani di berbagai wilayah Indonesia seperti di Kopeng, Tawangmangu, Kediri, dan Lombok Barat.

Formula nanokitosan dari limbah cangkang kepiting dan kulit udang yang dikembangkan Ronny juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet aman untuk buah, sayur, ikan, serta bahan pangan lainnya.

"Bisa memperpanjang umur simpan produk makanan hingga tiga bulan dan juga menjaga kualitas produk," kata Ronny.

Baca juga:
Kementan dorong petani gunakan pestisida nabati
Pelajar Bengkulu ciptakan pestisida berbahan kulit jengkol

 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar