Banjar  (ANTARA News) - Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Asrorun Niam Sholeh mengajak angkatan muda NU, terutama generasi milenial, untuk lebih produktif menulis dan tidak hanya berhenti di postingan percakapan media sosial.
   
"Dengan keberadaan media sosial yang mudah diakses, budaya membaca dan menulis meningkat, tapi tidak cukup produktif misalnya untuk kepentingan chatting saja, diskusi olok-olok, haha hihi, dari sisi-sisi edukasinya tidak cukup kuat," kata Niam di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Kamis.
   
Ajakan Niam itu terlontar saat mengisi Bedah Buku "99 Tokoh Muda NU Inspiratif". Kegiatan diskusi tersebut merupakan kegiatan pendukung Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019. Katib Syuriah PBNU tersebut masuk menjadi salah satu dari 99 tokoh NU inspiratif.
   
Deputi Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemepora) itu mengatakan meningkatnya budaya baca tulis kalangan muda saat ini harus dialihkan kepada hal yang lebih positif dan produktif dengan menelurkan karya buku.
   
Buku, kata dia, bisa menjadi media yang baik dalam mengumpulkan gagasan dan keilmuan sehingga bisa diakses lebih luas oleh publik.
   
"Bermula dari buku. NU yang berbasis agama bisa mentransmisikan keilmuan agama dari buku. Keilmuan yang ditransmisikan itu lewat buku tidak tiba-tiba ilham dari otak kita," kata mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia tersebut.
   
Dia mengatakan PBNU memiliki badan otonom Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang harus semakin memperkuat kemampuan menulisnya.
   
Alasannya, Niam menyebut IPNU-IPPNU dalam sistem perkaderan dan sistem penjenjangan badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama adalah lapisan awal dalam proses kaderisasi. Jika mereka memiliki budaya literasi yang baik maka masa depan NU akan semakin baik pula.
   
Dengan memiliki budaya menulis yang kental, kata dia, maka semangat keilmuan dapat terjaga dengan baik. Menulis tentu juga harus diimbangi dengan membaca sebagai asupan keilmuan. Membaca dan menulis dan sebaliknya merupakan keniscayaan dalam mengembangkan keilmuan.
   
Niam percaya kemampuan menulis bisa diasah oleh siapa pun mulai dari hal sederhana. Misalnya dengan menulis catatan harian atau soal otobiografi. Di tahap awal tulisan tidak harus dipublikasikan, tapi bisa untuk diri sendiri guna mengasah kemampuan pribadi.
   
Jika hanya untuk konsumsi sendiri, kata dia, hal itu bisa jadi ajang koreksi diri mengenai masa lalu dan sekarang. Sekecil apa pun ide tulisan itu sebaiknya segera dituliskan demi mengasah jiwa literasi. 
   
"Kita apresiasi diri dengan mengabadikan.  Tuliskan apa yang sudah pernah kita lewatkan suka duka. Dulu ada diary. Catatan harian penting untuk kontrol kita. Kita jadi tahu ada sisi unggul dan kelemahan kita," katanya. 

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Sigit Pinardi
Copyright © ANTARA 2019