counter

Penyebaran HIV/AIDS tak terkendali

Penyebaran HIV/AIDS tak terkendali

Ilustrasi - AR, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) (tengah) mengikuti ujian skripsi di salah satu perguruan tinggi di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (20/2/2019). AR (34) yang terinfeksi HIV karena faktor turunan itu berhasil meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dengan predikat Cumlaude setelah mempertahankan skripsinya berjudul "Komunikasi Antarpribadi Antara Sesama Orang dengan HIV-AIDS di Kelompok Dukungan Sebaya Sampesuvuku Palu". (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/wsj.)

Tanjungpinang (ANTARA) - Pemerintah daerah di Provinsi Kepulauan Riau tidak memiliki kapasitas untuk mengendalikan penularan HIV/AIDS secara maksimal.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, di Tanjungpinang, Senin, mengatakan, pengidap HIV/AIDS tidak mungkin diisolasi pemerintah sehingga penularan virus mematikan itu tidak dapat dicegah, kecuali ada kesadaran diri para penderitanya. "Kami tidak memiliki kapasitas untuk mengisolasi para penderita HIV/AIDS," katanya.

Salah satu penyebab penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Namun, ada penyebab lain seseorang tertular virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh itu, seperti dokter atau bidan yang menangani penderita HIV/AIDS yang akan melahirkan.

Dokter dan bidan dapat tertular penyakit mematikan itu ketika ketuban pecah, dan air masuk ke tubuh dokter atau bidan tersebut.

Ada juga kasus dokter yang tertular saat melakukan operasi terhadap pasien yang menderita HIV/AIDS. "Ada juga anak-anak yang masih pelajar SD di Kepri yang tertular HIV/AIDS. Apakah orang-orang yang seperti ini yang diisolasi?" ucapnya.

Tjetjep mengatakan dari berbagai kasus HIV/AIDS di Kepri, kebanyakan penularan virus itu disebabkan hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik untuk narkotika.

"Di Kepri juga ada kasus HIV/AIDS yang diidap seorang pejabat. Pejabat tersebut baru diketahui mengidap HIV/AIDS setelah meninggal dunia," katanya.

Tjetjep mengatakan jumlah penderita HIV/AIDS di Kepri terus meningkat sepanjang tahun. Hal itu disebabkan para penderita masih beraktivitas, dan berinteraksi dengan berbagai pihak.

"Penderita HIV Aids sulit dideteksi pemerintah, kecuali penderitanya memiliki kesadaran untuk memeriksa kesehatannya. Mereka juga sebaiknya meningkatkan keimanan, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan penularan," katanya.*


Baca juga: Mensos ingatkan lagi HIV/AIDS makin mengkhawatirkan

Baca juga: Dinkes sebut penderita HIV/AIDS di Kabupaten Madiun capai 682 orang

Baca juga: HIV/AIDS sudah jangkiti 586 warga Ngawi-Jatim, sebut Dinkes


 

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mahasiswa Kepri deklarasi Papua damai

Komentar