counter

11 pelajar gelar aksi diam tuntut materi lingkungan masuk kurikulum

11 pelajar gelar aksi diam tuntut materi lingkungan masuk kurikulum

Sebanyak 11 pelajar dari Jakarta dan Bogor menggelar unjuk rasa menuntut masyarakat lebih peduli terhadap dampak perubahan iklim di depan Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (15/3/2019). Aksi itu merupakan solidaritas terhadap seruan demonstrasi serentak pada 15 Maret 2019 dari aktivis cilik Swedia Greta Thurnberg yang diikuti oleh puluhan ribu pelajar dari 100 negara, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan China. (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Jakarta (ANTARA) - Sebelas pelajar menggelar aksi diam di depan Balai Kota DKI Jakarta, Jumat siang, menuntut pemerintah memasukkan materi mengenai lingkungan dalam kurikulum.

Aksi diam itu merupakan bentuk solidaritas beberapa pelajar asal Jakarta dan Bogor terhadap seruan unjuk rasa dari aktivis muda Swedia, Greta Thurnberg, untuk menggalang kepedulian terhadap lingkungan, yang disambut para pelajar dari sekitar 100 negara.

“Masalah krisis lingkungan ini penting karena generasi kami yang akan menanggung dampak dari menumpuknya sampah, buruknya kualitas udara, belum lagi pemanasan global,” kata Muhammad Firdaus (18), pelajar kelas XII sekolah menengah kejuruan di Jakarta, saat ditemui di depan Balai Kota.

Firdaus mengatakan selama satu tahun terakhir ia mencari tahu lewat internet soal dampak perubahan iklim yang telah menjadi masalah masyarakat dunia karena pengetahuan itu tidak dia dapat dari bahan ajar di sekolah.

“Saya juga datang ke teman-teman dari Greenpeace, dan bertanya ke mereka mengenai krisis lingkungan,” kata Firdaus.

Pengunjuk rasa lainnya, Muhammad Amar (18), juga meminta pemerintah segera memasukkan materi ekologi ke dalam kurikulum.

“Pemerintah harus segera membuka informasi mengenai betapa seriusnya masalah lingkungan di Indonesia. Pengetahuan itu harus diberikan ke pelajar dalam ruang kelas,” kata Amar di sela aksi.

Amar mengatakan generasi muda membutuhkan edukasi mengenai masalah lingkungan supaya bisa ikut menjaga kelestarian lingkungan dengan menjalani cara hidup yang berkelanjutan.

Ia berpendapat sekarang ini masih banyak orang yang kurang peduli terhadap dampak buruk sampah terhadap lingkungan. Alhasil, banyak sampah mencemari aut, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem di dalamnya.

Selain menghendaki materi lingkungan masuk kurikulum, Amar, Firdaus, serta pelajar lain dari Jakarta dan Bogor juga mendesak pemerintah mengumumkan status darurat lingkungan di Indonesia dalam unjuk rasa di depan Balai Kota.

Alasannya, peserta aksi berpendapat, status darurat lingkungan dapat memaksa masyarakat berhenti menerapkan cara hidup tidak berkelanjutan, seperti memakai kendaraan pribadi dibandingkan dengan transportasi umum, membeli barang sekali pakai, dan memakai plastik.

Aktivis muda Swedia melalui laman “fridayforfuture.org” mengajak pelajar dari berbagai negara untuk turun ke jalan berunjuk rasa menuntut masyarakat lebih peduli terhadap masalah lingkungan.

Seruan itu pun disambut dengan aksi unjuk rasa puluhan ribu pelajar dari 100 negara, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Australia, Finlandia, Jerman, China, dan Uganda.

Di Inggris, unjuk rasa serentak pada 15 Maret 2019 yang bertajuk #FridayforFuture diikuti sekitar 10 ribu pelajar, sementara di Australia sekitar 35 ribu siswa turun ke jalan bergabung dalam demonstrasi peduli perubahan iklim. (*)

Pewarta: Virna P Setyorini/Genta Tenri Mawangi
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Generasi muda aksi damai sikapi perubahan iklim

Komentar