Jakarta (ANTARA News) - Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), Made Mangku Pastika mengemukakan, pemodal empat pabrik shabu di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau dipastikan berasal dari Taiwan. "Dia adalah WN Taiwan, bukan warga negara kita," kata Pastika usai acara penyuluhan penyalahgunaan narkoba bagi 2.500 anggota TNI AD dan keluarganya di Jakarta, Rabu. Mangku Pastika mengatakan, BNN bersama Polri telah menjalin kerja sama dengan kepolisian Taiwan dan Singapura untuk memburu para tersangka yang belum tertangkap termasuk pemodal yang membiayai keempat pabrik itu. Ditanya soal adanya tersangka lain yang tertangkap selain enam tersangka sebelumnya, Pastika menegaskan bahwa jumlah tersangka yang kini ditahan tetap enam orang. "Yang lain masih dalam penyelidikan," kata mantan Kapolda Bali ini. Seorang tersangka yang kini menjadi buronan utama Polri adalah LLT, WN Taiwan yang diduga kuat menjadi pemilik pabrik shabu skala besar itu. BNN, Sabtu (20/10) menggerebek empat lokasi di kota Batam yang diduga menjadi pabrik pembuatan shabu di Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Dalam penggerebekan tersebut, polisi menyita 586 kilogram shabu senilai Rp456 miliar. Keempat pabrik itu juga terkait dengan pabrik shabu di Pluit, Jakarta Utara yang digerebek dalam waktu hampir bersamaan. Di lokasi tersebut polisi menemukan 23 kg sabu dan 19 kilogram sabu cair Para tersangka yang kini ditahan di Mabes Polri adalah Wang Chin I dan Tsai Tsai Chen, keduanya WN Taiwan. Sedangkan empat lainnya yang merupakan WNI adalah Jaelani Usman, Darwin Silaban, Syaed Abu Bakar, dan A Peng. Hasil penyelidikan polisi, pabrik itu telah beroperasi selama satu tahun. Shabu hasil produksi pabrik tersebut dikirim ke Taiwan dan China serta dipasarkan di Indonesia. Pabrik ini masih terkait dengan keberadaan pabrik ekstasi yang digerebek BNN di Cikande, Serang, Banten, tahun 2005 lalu yang diyakini menjadi salah satu pabrik terbesar di dunia.(*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2007