counter

Kemarin, deretan angkutan lawas hingga cara merayu anak ke dokter gigi

Kemarin, deretan angkutan lawas hingga cara merayu anak ke dokter gigi

Pengunjung mengamati transportasi umum klasik ketika pameran Indonesia Classic N Unique Bus 2019 di JI Expo, Jakarta, Rabu (20/3/2019). Pameran yang menghadirkan berbagai angkutan umum tempo dulu tersebut berlangsung hingga 22 Maret 2019. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama)

Jakarta (ANTARA) - Pameran berbagai angkutan lawas yang pernah populer di Indonesia, kiat mengatasi rasa takut anak pada dokter gigi, dan sandiwara tanpa naskah Miss Tjitjih, adalah sejumlah berita kemarin yang laik baca hari ini.

Selain itu, ada juga berita tentang kiat membuat video yang disampaikan Jay Subyakto dari Bursa, Turki.

Selengkapnya:

1. Deretan armada angkutan lawas yang pernah populer di Indonesia
Bagi Anda yang lahir sebelum tahun 1980 pasti mengenal di antaranya sederetan armada angkutan umum lawas berikut ini, mulai dari Bemo, bus, hingga mini van klasik yang sangat populer pada masanya.

Selengkapnya di sini.

2. Qlue gelar Smart Citizen Day, soroti peran warga ciptakan Smart City
Qlue dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berkomitmen menciptakan kota cerdas (smart city) untuk mempercepat perubahan positif guna mewujudkan Indonesia sebagai smart nation dengan menggelar Smart Citizen Day 2019.

Selengkapnya di sini.

3. Kiat atasi ketakutan anak terhadap dokter gigi
Orang tua dapat menyiasati perasaan anak-anak yang takut terhadap dokter gigi dalam kunjungan rutin mereka dengan menonjolkan kegembiraan dan manfaat pemeriksaan gigi.

Selengkapnya di sini.

4. Kiat bikin video "super steady" pakai smartphone ala Jay Subyakto
Sutradara dan penata artistik Jay Subyakto membagikan sejumlah kiat membuat video "super steady” alias tidak goyang meski hanya menggunakan smartphone.

Selengkapnya di sini.

5. Miss Tjitjih 90 tahun bersandiwara tanpa naskah
Naskah merupakan medium bagi sebagian sutradara untuk menyampaikan ide-ide agar teater yang dipimpinnya terasa hidup. Tapi, hal itu tidak berlaku bagi kelompok Sandiwara Miss Tjitjih.

Selengkapnya di sini.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar