Ini yang diserukan tokoh agama jelang pemilu

Ini yang diserukan tokoh agama jelang pemilu

Para tokoh agama menyerukan untuk meneguhkan kembali Pancasila jelang Pemilihan Umum 17 April 2019 untuk merawat politik kebangsaan, dalam acara Festival Agama untuk Perdamaian IPRC 2019 di Jakarta, Sabtu (23/3/2019). ((ANTARA/Aditya Ramadhan))

Para tokoh agama sudah berkumpul dan berdialog dalam Pertemuan Tokoh-tokoh Agama/Kepercayaan dalam membahas kondisi bangsa yang dinilai terpecah belah,
Jakarta (ANTARA) - Para tokoh agama yang menghadiri Festival Agama untuk Perdamaian menyerukan masyarakat dan pemerintah untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai landasan kebersamaan menjelang pelaksanaan Pemilu 2019 yang diselenggarakan 17 April 2019.

“Dalam menghadapi tahun politik ini, tokoh-tokoh agama menyerukan kepada semua pihak, terutama pemerintah, agar memperteguh komitmen pelaksanaan pemilihan umum yang damai,” kata Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Romo Johanes Haryanto di Jakarta, Sabtu.

Dia menerangkan bahwa para tokoh agama meminta masyarakat dan pemerintah menghindari politisasi agama maupun agamaisasi politik, serta fanatisme berlebihan terhadap pilihan-pilihan politik yang berujung pada polarisasi dalam masyarakat dan umat.

Romo menyebutkan para tokoh agama sudah berkumpul dan berdialog dalam Pertemuan Tokoh-tokoh Agama/Kepercayaan dalam membahas kondisi bangsa yang dinilai terpecah belah.

“ICRP sepakat untuk menyerukan dan mendorong para elite politik maupun pihak-pihak yang berkepentingan agar menyadari bahwa pertarungan dalam tahun politik ini bukanlah sekadar siapa yang akan merebut kekuasaan, melainkan perjuangan untuk mengembalikan arah politik kebangsaan kita kepada khittahnya yang benar, yakni mempertahankan dan merawat negara-bangsa yang kita cintai bersama,” jelas dia.

Menurut para tokoh agama, terjadi kecenderungan menguatnya politik elektoral yang hanya didasarkan pada perhitungan siapa dapat meraih suara terbanyak. Sehingga mengabaikan, bahkan mengorbankan politik kebangsaan yang berjangka panjang.

Romo Johanes memaparkan menguatnya politik elektoral tersebut ditandai gejala-gejala yang memprihatinkan, seperti merebaknya sentimen primordial guna mendulang suara, bangkitnya eksklusivisme keagamaan, menguatnya arus radikalisme, serta pembiaran praktik-praktik intoleransi dan persekusi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.

Para elite politik juga dinilai cenderung hanya mendengar suara konstituen mereka, tanpa peduli pada nilai-nilai konstitusi maupun semangat Pancasila.

“Sementara itu ruang-ruang sosial kita dipenuhi oleh aneka pelintiran kebencian, berita-berita bohong, maupun kampanye hitam demi merebut kekuasaan,” ujar dia.

ICRP sepakat bahwa di dalam kerangka politik kebangsaan dibutuhkan komitmen meneguhkan kembali Pancasila sebagai satu-satunya Iandasan dan ikatan kebersamaan masyarakat Indonesia, yaitu sebagai bangsa yang majemuk tanpa mengingkari komitmen keimanan dan kepercayaan masing-masing umat.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Makna damai pascasengketa pemilu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar