counter

Lahan Kampung Gisi Bintan rusak akibat pertambangan bauksit

Lahan Kampung Gisi Bintan rusak akibat pertambangan bauksit

Dampak Tambang Bauksit Lahan bekas tambang bauksit yang tandus menghampar di Pulau Bintan, Kepri. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)

Kami menduga itu (rumah) hanya akal-akalan pengusaha. Kita lihat nanti perkembangan hasil penyelidikan,
Tanjungpinang (ANTARA) - Sejumlah lahan di Kampung Gisi, Kecamatan Teluk Bintan, Kepulauan Riau rusak parah akibat pertambangan bauksit.

Berdasarkan pantauan di Kampung Gisi, Kamis, setidaknya ada tiga lokasi yang dalam kondisi rusak parah setelah ditambang sejumlah perusahaan.

Di lokasi yang berhadapan dengan Gunung Bintan, terdapat sejumlah lahan yang rusak, padahal lokasi tersebut berada di dekat makam Panglima Bentan. Lahan di sekitar makam Panglima Bintan yang sempat rusak akibat pertambangan bauksit sejak beberapa pekan lalu sudah diberi batu miring oleh CV Cahaya Tauhid Alam Lestari.

Namun batu miring belum dibangun seluruhnya. Di lokasi itu pula perusahaan itu membangun rumah, yang belum diketahui tujuannya.

"Kami menduga itu (rumah) hanya akal-akalan pengusaha. Kita lihat nanti perkembangan hasil penyelidikan," kata Kepala Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, KLHK, Edward Hutapea.

Selain perusahaan itu, pertambangan bauksit juga dilakukan CV Gemilang Mandiri Sukses. Di sekitar lokasi yang di tambang banyak terdapat kuburan warga.

Lokasi pertambangan CV Gemilang Mandiri Sukses berbatasan dengan CV Cahaya Tauhid Alam Lestari, ditandai dengan parit.

Kolam bekas pertambangan yang dilakukan dua perusahaan itu juga cukup banyak. Sejak pekan lalu, kondisi kolam cukup banyak air.

Kondisi itu cukup membahayakan anak-anak yang kerap bermain di lokasi tersebut karena banyak terdapat lumpur dan lapisan tanah yang terjal akibat pertambangan.

Selain membangun batu miring, CV Cahaya Tauhid juga menanam bibit pohon, yang sebagian sudah kering.

Tim Penegakan Hukum KLHK sejak Februari 2018 sudah menyegel lokasi tersebut.

"Kami imbau anak-anak untuk tidak bermain di lokasi itu karena membahayakan keselamatannya," kata Edward.

Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar