counter

Artikel

Berkuda menembus hutan TN Meru Betiri distribusikan logistik Pemilu

Berkuda menembus hutan TN Meru Betiri distribusikan logistik Pemilu

Petugas mendistribusikan logistik dengan berkuda di TPS 20, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember karena sulitnya medan menuju lokasi TPS (Zumrotun Solichah)

Jember (ANTARA) - Distribusi logistik Pemilu hingga ke tempat pemungutan suara (TPS) menjadi salah satu hal yang paling krusial dalam tahapan Pemilu karena tanpa adanya logistik berupa kotak suara, surat suara, dan sejumlah formulir kelengkapan Pemilu tersebut, maka pelaksanaan pemungutan suara tidak akan berjalan dan masyarakat tidak bisa menyalurkan hak pilihnya ke TPS.

Berbagai upaya dilakukan oleh penyelenggara pemilu untuk menyalurkan logistik ke sejumlah daerah terpencil yang memiliki kerawanan geografis di masing-masing daerah, seperti menggunakan perahu atau kapal untuk menuju TPS di kepulauan terpencil, menggunakan helikopter untuk lokasi yang sulit dijangkau dengan jalur darat, menggunakan sepeda motor trail hingga kuda untuk menjangkau lokasi.

Seperti distribusi logistik di TPS 20 Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri harus menggunakan kuda untuk mengantarkan logistik pemilu ke TPS setempat karena akses jalan yang sulit dilalui oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Camat Tempurejo Sutarman mengatakan ada enam TPS yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri dengan jumlah daftar pemilih sebanyak 925 orang dan enam TPS tersebut merupakan kategori rawan dari sisi geografis karena lokasinya berada di dalam kawasan hutan taman nasional yang jauh dan sulit dijangkau.

Enam TPS yang berada di kawasan Meru Betiri tersebut tersebar di afdeling Sumbersalak satu TPS, kemudian empat TPS berada di afdeling Cawang, dan satu TPS berada di sekitar Pantai Bandealit, namun hanya satu TPS di afdeling Sumbersalak yang memerlukan perlakuan khusus dalam mendistribusikan logistik pemilu.

Jalan yang berbatu, licin dan lumpur di kawasan hutan Meru Betiri sepanjang 14 kilometer harus ditempuh penyelenggara pemilu untuk mendistribusikan logistik di enam TPS tersebut dengan menggunakan kendaraan truk logistik, namun hanya satu TPS yang sulit dijangkau dan satu-satunya moda transportasi yang bisa menuju ke sana yakni menggunakan kuda.

Masyarakat di afdeling Sumbersalak sudah terbiasa menggunakan kuda untuk menuju jalan utama di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, sehingga ada puluhan kuda yang biasa membantu aktivitas warga di kawasan perkebunan setempat dan tak terkecuali membantu distribusi logistik pemilu setiap ada momentum pesta demokrasi.

"Dusun Bandealit beda dengan dusun lain di Kecamatan Tempurejo karena medannya jauh berada di dalam kawasan hutan taman nasional, sehingga perlu transportasi khusus seperti kuda dalam mendistribusikan logistik pemilu khususnya di TPS 20," katanya.

Pengiriman logistik pemilu di sejumlah TPS di Dusun Bandealit dilakukan lebih awal yakni pada 15 April 2018 dibandingkan TPS lainnya di Kabupaten Jember dengan mempertimbangkan kondisi geografis yang rawan, medannya cukup sulit dan sering turunnya hujan yang dapat menghambat distribusi logistik tersebut.

Panitia Pemungutan Suara (PPS) Andongrejo dengan cekatan membungkus lima kotak suara yang di dalamnya berisi surat suara, bilik suara dan logistik pemilu lainnya untuk kebutuhan pemungutan suara di TPS 20, kemudian kotak suara yang sudah terbungkus karung plastik dinaikkan ke atas kuda dan ditutupi terpal untuk mengantisipasi turunnya hujan saat perjalanan.

Ada empat ekor kuda yang disiagakan untuk mendistribusikan logistik ke TPS 20 yang berada di afdeling Sumbersalak, dua kuda ditunggangi oleh warga setempat Arbaina dan Kapolsek Tempurejo, sedangkan dua kuda lainnya dituntun oleh anggota Linmas dan warga setempat.

Untuk menuju ke TPS, penyelenggara pemilu dengan dikawal oleh polisi dan Babinsa harus melewati jalan sempit berbatu, terjal dan licin sepanjang lima kilometer atau biasanya ditempuh dalam waktu dua jam dengan berjalan kaki atau berkuda.

Pengiriman distribusi logistik ke TPS 20 yang memiliki jumlah DPT sebanyak 123 orang di Desa Andongrejo tersebut dikawal langsung oleh Kapolsek Tempurejo, Danramil Tempurejo, dan Camat Tempurejo untuk memastikan logistik pemilu tersebut dapat didistribusikan dengan aman, tanpa mengalami hambatan selama perjalanan.

Sutarman mengatakan partisipasi pemilih di Dusun Bandealit cukup tinggi, meskipun beberapa warga harus menempuh jarak sekitar satu kilometer hingga dua kilometer untuk menuju TPS di kawasan hutan Taman Nasional Meru Betiri.

Meski berada di pelosok hutan dan akses yang jauh dari keramaian publik, lanjut dia, tak menyurutkan antusias warga untuk berbondong-bondong datang ke TPS karena kesadaran warga di kawasan hutan Meru Betiri untuk menyalurkan hak pilihnya cukup tinggi.

Kapolsek Tempurejo AKP Suhartanto mengatakan aparat kepolisian siap mengawal distribusi logistik pemilu hingga ke TPS, termasuk dengan menggunakan kuda dan berjalan kaki untuk menuju ke kawasan afdeling Sumbersalak.

Jalan menuju lokasi TPS 20 di Desa Andongrejo tidak mudah dan jalan juga licin setelah hujan mengguyur kawasan setempat, sehingga hanya ada dua pilihan untuk mengangkut logistik pemilu yakni menggunakan kuda atau berjalan kaki, sehingga opsi pertama yang selalu dipilih PPS untuk membawa logistik pemilu.

Pengiriman logistik ke TPS 20 di Dusun Bandealit itu harus dilakukan dengan bantuan kuda karena akses jalan ke lokasi hanya jalan setapak yang berlumpur saat hujan, berliku-liku dan menanjak, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Untuk menuju TPS tersebut harus melalui portal pintu masuk petugas Taman Nasional Meru Betiri, kemudian melewati kawasan hutan sepanjang 4 kilometer dan dilanjutkan dengan mengendarai kuda yang sudah disiapkan oleh warga di afdeling Sumbersalak yang sudah terbiasa menggunakan kuda untuk aktivitasnya.

"Memang ada jalan alternatif sepanjang 15 kilometer yang memutar untuk menuju TPS 20, namun petugas memilih menggunakan kuda untuk mendistribusikan logistik pemilu karena lebih cepat dengan jarak sekitar 5 kilometer," tuturnya.

Perjalanan yang panjang di kawasan hutan dan potensi hujan deras dapat berisiko terhadap kerusakan logistik pemilu yang dibawa petugas, sehingga penyelenggara lebih memilih opsi yang lebih aman.

Ia menjelaskan pengiriman logistik pemilu di kawasan hutan taman nasional tersebut mendapat perhatian khusus dari pihak Muspika Tempurejo seiring dengan masuknya TPS tersebut sebagai titik rawan dari segi geografis, sehingga perlu untuk memastikan bahwa logistik tiba di TPS dengan aman demi terselenggaranya pesta demokrasi.

Komisioner KPU Jember Ahmad Hanafi mengatakan distribusi logistik pemilu ke kawasan Bandealit dengan menggunakan kuda dilakukan setiap momentum pesta demokrasi digelar di Kabupaten Jember baik pilkada Jember, pilkada Gubernur Jawa Timur dan pemilu serentak.

"Kami juga sudah mengimbau kepada PPK dan PPS yang memiliki daerah rawan dari sisi geografis untuk memprioritaskan pendistribusian logistik lebih awal, sehingga diharapkan tidak ada kendala menjelang pemungutan suara pada 17 April 2019," katanya.

TPS rawan konflik dan geografis

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Jember sudah melakukan pemetaan untuk 23 titik yang dinilai rawan dalam pelaksanaan pemilu serentak yang akan digelar pada 17 April 2019.

Ketua Bawaslu Jember Imam Thobrony Pusaka mengatakan hasil pemetaan titik rawan yang dilakukan lembaganya dan hasil rapat koordinasi dengan kepolisian dan TNI ditemukan 23 titik rawan yang tersebar di 20 kecamatan di Jember.

Titik rawan tersebut terdiri dari dua kategori yakni titik rawan konflik dan titik rawan distribusi logistik karena lokasi sejumlah tempat pemungutuan suara (TPS) di kecamatan setempat sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat dan lokasinya terpencil.

"Sebanyak 23 titik rawan itu akan mendapatkan perhatian khusus dalam pengawasannya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan yang dapat menghambat jalannya pelaksanaan pemungutan suara," katanya.

Ia menjelaskan sebanyak 13 titik dinilai rawan konflik karena karakteristik pemilih di wilayah setempat yang keras, mudah terprovokasi dan emosi, serta tingginya militansi para pendukung yang dapat menyebabkan gesekan antarpendukung seperti di Kecamatan Ajung, Arjasa, Bangsalsari, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Pakusari, Patrang, Silo, Sukowono, Sumberbaru, dan Sumbersari.

Sedangkan 10 titik yang dinilai rawan distribusi logistik karena kondisi geografis di wilayah setempat yang kurang mendukung yakni tersebar di Kecamatan Ambulu, Bangsalsari, Jelbuk, Jombang, Mumbulsari, Panti, Silo, Sumberbaru, Tempurejo, dan Sukorambi.

Bawaslu Jember, lanjut dia, selalu berkoordinasi terus dengan jajaran pengawas di tingkat kecamatan dan desa, serta aparat kepolisian, agar lebih mensosialisasikan pemilu damai kepada tokoh masyarakat, khususnya kecamatan-kecamatan yang termasuk ke dalam titik rawan tersebut.

Sementara Kapolres Jember AKB Kusworo Wibowo mengatakan sebanyak 16 ribu personel gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, anggota Linmas, dan Satpol PP akan mengamankan pelaksanaan Pemilu 2019 di Kabupaten Jember, sehingga diharapkan semuanya berjalan lancar dan kondusif.

Menurutnya pengamanan juga dilakukan saat distribusi logistik, bahkan anggota Polri yang mengawal logistik pemilu dibekali dengan senjata api untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ancaman yang dapat mengganggu pendistribusian surat suara dan perlengkapan logistik pemilu lainnya.

Sebuah kendaraan patroli polisi berkabin ganda akan berada di depan truk yang membawa logistik pemilu tersebut dan pengamanan kendaraan roda dua polisi akan berada di belakang truk untuk mengawalnya, sehingga logistik pemilu dipastikan aman hingga sampai ke PPK.

Personel yang ditugaskan dalam pengamanan pemilu seperti pengawalan dan mengamankan logistik pemilu juga sudah diseleksi dari segi kesehatan dan lainnya, sehingga dipastikan mereka akan mengamankan secara optimal dalam pelaksanaan Pemilu 2019 hingga di TPS dengan total sebanyak 1.400 personel gabungan.

Kusworo mengatakan Polres Jember mengidentifikasi sebanyak 12 TPS yang rawan dari segi geografis tersebar di Kecamatan Tempurejo dan Silo karena lokasinya yang jauh dari permukiman penduduk dan medan yang sulit dijangkau kendaraan.

"Aparat kepolisian dan TNI juga menjamin keamanan pemilih untuk menggunakan hak pilihnya, sehingga masyarakat tidak perlu takut untuk datang ke TPS hanya karena ada pihak-pihak yang mencoba mengintimidasi karena kami siap mengawal dan mengamankan," ujarnya.

Berdasarkan data KPU Jember, jumlah DPT Pemilu 2019 sebanyak 1.863.478 pemilih yang terdiri 919.712 pemilih laki-laki dan 943.766 pemilih perempuan yang tersebar di 7.666 TPS reguler di 248 desa dan kelurahan di Kabupaten Jember, serta empat TPS di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II-A Jember berdasarkan daftar pemilih tambahan (DPTb).

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ratusan mahasiswa Jember terancam tidak mencoblos

Komentar