counter

Beri kontribusi penerimaan negara, Kalbar minta kursi di kabinet

Beri kontribusi penerimaan negara, Kalbar minta kursi di kabinet

Provinsi Kalimantan Barat. (ANTARA Kalbar)

Sejak Hamzah Haz menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesra dan Pengentasan Kemiskinan, belum ada lagi menteri asal Kalbar di kabinet...
Pontianak (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura Prof DR Eddy Suratman mengatakan siapapun presiden terpilih hasil Pemilu 2019, sudah selayaknya Kalimantan Barat (Kalbar) mendapatkan porsi di kabinet mendatang.

"Sejak Hamzah Haz menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesra dan Pengentasan Kemiskinan, belum ada lagi menteri asal Kalbar di kabinet pemerintahan. Itu sudah 20 tahun yang lalu," kata Eddy Suratman di Pontianak, Kalbar, Jumat.

Sementara di provinsi lain di Kalimantan, misalnya Kalimantan Selatan, keterwakilan di kabinet sudah beberapa kali. Seperti Menteri Riset dan Teknologi Prof DR Gusti Muhammad Hatta di Kabinet Indonesia Bersatu II era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, adalah akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat.

Menurut Eddy Suratman, ada beberapa alasan sehingga wakil Kalbar perlu duduk di kabinet mendatang. Selain sudah 20 tahun tidak ada keterwakilan di tingkat menteri, saat ini Kalbar mempunyai kontribusi yang relatif besar di tingkat nasional dari struktur penerimaan negara.  "Kalbar itu sekarang menyumbang sekitar dua persen lebih," kata dia.

Ia mengakui bahwa angka tersebut lebih kecil dari Kalimantan Timur, namun ke depan porsinya akan terus meningkat. "Tambang Kalbar mulai menggeliat, belum lagi hasil dari kekayaan alam lainnya," ujar Eddy Suratman.

Kemudian,dari sisi geografis, lanjut dia, Kalbar memiliki perbatasan darat yang paling panjang di Indonesia. Kalbar, lanjut Eddy, punya 996 kilometer perbatasan darat dengan Sarawak, Malaysia Timur.

"Ini hal yang unik, spesial, artinya Kalbar punya hubungan yang bisa langsung ke negara lain. Keunikan ini perlu diperhitungkan di struktur kabinet mendatang," kata dia.

Ia menambahkan adanya keterwakilan di kabinet dapat mempercepat kemajuan Kalbar. "Bayangkan saja, dari 2.031 desa di Kalbar, hanya satu yang berstatus mandiri. Makanya perlu pendorong di kabinet agar dapat mempercepat kemajuan di Kalbar," kata Eddy Suratman.

Mengenai figur yang layak menjadi menteri, Eddy menyebut kalau Kalbar tidak kekurangan stok. Ia mencontohkan figur-figur yang kini duduk menjadi anggota DPR RI asal Kalbar misalnya, sudah memenuhi kualifikasi tersebut.

"Namun tentu saja kita bisa lihat kiprahnya bagi Kalbar. Mana yang betul-betul berkontribusi bagi Kalbar," kata dia.

Kemudian para mantan Rektor di Universitas Tanjungpura juga memenuhi syarat untuk masuk kabinet. "Bahkan mantan gubernur atau bahkan Gubernur Kalbar sendiri, Pak Sutarmidji, kalau beliau mau, layak untuk duduk di kabinet mendatang," ujarnya.

Ia juga mendapat informasi bahwa ada mantan bupati di Kalbar yang kiprahnya cukup menonjol, berpeluang untuk masuk dalam bursa calon menteri di kabinet berikut.

"Tapi kita tunggu siapa pemenang pemilu, kalau sudah jelas, dapat lebih dipersempit figur-figurnya. Yang jelas, siapapun presiden mendatang, Kalbar layak mendapat jatah di kabinet," kata Eddy menegaskan.
 

Pewarta: Teguh Imam Wibowo
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Moeldoko: pemilu usai, tinggalkan buzzer politik

Komentar