counter

Penyelenggara pemilu Sultra yang sakit bertambah jadi 59 orang

Penyelenggara pemilu Sultra yang sakit bertambah jadi 59 orang

Anggota KPPS, Wahyu Army menjalani perawatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Singkil, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019) ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/nz/pri

Kendari (ANTARA) - Sejumlah 59 orang penyelenggara pemilihan umum di Sulawesi Tenggara menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas akibat sakit, keguguran kandungan, pendarahan dan kecelakaan lalulintas.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Sultra Laode Abdul Natsir Muthalib di Kendari, Rabu, mengatakan 59 orang penyelenggara yang dilaporkan menderita sakit tersebar di Kabupaten Konawe 25 orang, Konawe Selatan tujuh orang, Bombana enam orang dan Kolaka Utara 21 orang.

"Kemungkinan jumlah penyelenggara yang menderita sakit masih bertambah karena baru empat daerah yang mengirimkan data secara tertulis," kata Nasir.

KPU Provinsi tidak serta merta menerima laporan adanya penyelenggara yang sakit namun diteliti secara cermat agar dapat dipertanggungjawabkan.

Dari tujuh orang penyelenggara yang dilaporkan menderita sakit di Konawe Selatan adalah seorang perempuan karena keguguran kandungan sedangkan enam orang menderita deman dan kelelahan.

Sementara, 25 penyelenggara di Kabupaten Konawe yang menderita sakit masing-masing karena keguguran kandungan dua orang, mengalami kecelakaan lalulintas satu orang dan pingsan akibat kelelahan sebanyak 22 orang.

"Tiga orang penyelenggara yang mengalami keguguran kandungan, memprihatinkan. Pengorbanan mereka untuk bangsa dan negara luar biasa, sehingga patut mendapatkan perhatian dari pemerintah," kata Natsir.

Enam penyelenggara di Kabupaten Bombana yang menjalani perawatan, yakni tiga orang hamil mengalami pendarahan dan tiga orang kelelahan.

Sedangkan 21 penyelenggara pemilihan di Kolaka Utara masing-masing mengalami kecelakaan tiga orang dan 18 orang kelelahan sehingga diinfus.*


 

Polisi mulai bertindak tegas bubarkan massa aksi di Bawaslu

Pewarta: Sarjono
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar