counter

Liga Italia

Juve tanggalkan sejarah 116 tahun zebra hitam putih

Juve tanggalkan sejarah 116 tahun zebra hitam putih

Pendukung memegang bendera bergambarkan emblem baru Juventus di Turin, Italia, 20 April 2019 saat merayakan keberhasil menjadi juara Serie A REUTERS/Massimo Pinca (REUTERS/MASSIMO PINCA)

Jakarta (ANTARA) - Pertama emblem klub yang memuat gambar banteng yang diubah sehingga tinggal huruf J putih berlatar belakang hitam. Dua tahun setelah itu, Juventus bersiap melakukan perubahan lebih besar pada tradisi mereka dengan menyingkirkan kostum hitam putih belang yang sudah 116 tahun menjadi trademark mereka.

Gazzetta dello Sport dan sejumlah feed media sosial, Rabu waktu Italia, menyiarkan bocoran foto belang-belang corak baru yang mulai dipakai musim 2019/2020 nanti. Kostum Juve nanti akan separuh hitam dan separuh putih yang dipisahkan oleh garis tipis berwarna merah muda.

Juventus enggan mengonfirmasi perubahan kit itu. "Kami tak pernah mengomentari bocoran atau rumor," kata juru bicara klub ini kepada Reuters. Tetapi foto yang memperlihatkan kostum yang dikenakan pemain-pemain inti seperti Paulo Dybala dan Federico Bernardeschi itu dengan cepat memicu kontroversi.

Blog berbahasa Inggris "Black and White and Read All Over" menyebutkan bahwa perubahan itu mengartikan Juventus akan menanggalkan sejarah mereka selama satu tahun dengan tujuan lebih menegaskan citra fesyen mereka.

Didirikan oleh sekelompok mahasiswa pada 1897, Juventus awalnya bermain dengan kostum warna merah muda yang segera ditinggalkan karena ternyata mirip dengan Palermo yang juga mengenakan warna merah muda sampai sekarang.

Salah satu pemain Juventus, orang Inggris bernama John Savage, memiliki kaitan dengan Notts County dan pada 1903 meminta klub Inggris ini mencarikan kostum pengganti untuk mereka. Klub Inggris itu mengiyakan dan sejak itu Juventus bermain dengan mengenakan kostum belang hitam putih seperti kuda zebra.

Baca juga: Cristiano Ronaldo ingin Juventus rekrut pemain remaja Benfica

Sekalipun rilis kit baru ini dianggap sebagai bagian kunci dari teknik pemasaran sepak bola modern, adalah jarang ada tim yang mau menipiskan garis di sisi apa yang disebut "kit kandang" (kostum utama untuk pertandingan kandang).

Satu kekecualian terkenal adalah Brasil. Kombinasi kaus warna emas dan celana pendek warna biru mereka adalah salah satu kit paling ikonik dalam sepak bola tetapi mereka hanya mengadopsinya pada 1953.

Sebelum itu, mereka bermain dalam kostum putih yang dianggap tidak patriotik karena tidak mengandung satu pun warna nasional.

Menyusul kegagalan mereka menjuarai Piala Dunia 1950 di tanah air sendiri, koran Correio da Manha menggelar sayembara kit baru yang dimenangkan pemuda berusia 19 tahun bernama Aldyr Garcia Schlee. Sejak itu Brasil mengenakan kit Kanary (Canarinho).

Liverpool pernah bertanding dengan mengenakan kaus merah, celana pendek warna putih dan kaos kaki putih, tetapi malah mengadoopsi kit serba merah pada 1964 karena manajer Bill Shankly menganggap warna ini mempunyai dampak psikologis terhadap lawan.

Kebetulan atau tidak, baik Brasil maupun Liverpool menikmati sukses bertahun-tahun setelah mengganti kit.

Namun demikian, bermain dengan tradisi tak boleh disepelekan. Ketika produsen minuman berenergi Red Bull membeli klub Austria Salzburg pada 2005, mereka mengubah kit ungu yang sudah mentradisi menjadi warna perusahaan, putih merah.

Ketika penggemar meminta mereka mengkaji kembali keputusan itu, klub mengajukan syarat, yakni kit tandang penjaga gawang harus menampilkan kaos kaki warna ungu. Fans sangat terganggu karena merasa dijauhkan dari klubnya.

Baca juga: Ronaldo pemain pertama juarai tiga liga elite dunia

Saat Gatotkaca dan Spiderman mencoblos

Pewarta: Jafar M Sidik
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar