counter

BPS: konsumsi rumah tangga dukung pertumbuhan ekonomi triwulan I-2019

BPS: konsumsi rumah tangga dukung pertumbuhan ekonomi triwulan I-2019

Suasana pengumuman rilis perekonomian Indonesia pada triwulan I-2019 oleh BPS di Jakarta, Senin. (ANTARA/Satyagraha)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja konsumsi rumah tangga yang positif memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2019 sebesar 5,07 persen.

"Pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh positif, terutama pada kelompok kesehatan dan pendidikan serta kelompok makanan dan minuman, selain restoran," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Senin.

Dalam periode ini, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,01 persen, atau lebih baik dari periode triwulan I-2017 dan I-2018 yang masing-masing tumbuh sebesar 4,94 persen.

Suhariyanto mengatakan penjualan eceran yang tumbuh 8,1 persen, terutama pada penjualan makanan dan minuman dan perlengkapan rumah tangga, memberikan kontribusi kepada konsumsi domestik.

Kinerja konsumsi rumah tangga ini didukung oleh nilai penjualan listrik PLN ke rumah tangga yang tumbuh 7,24 persen dan nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kartu kredit yang tumbuh 14,56 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2019 juga didukung oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,21 persen karena adanya kenaikan realisasi belanja barang dan jasa serta belanja pegawai.

Pada periode sama tahun 2017 dan 2018, konsumsi pemerintah hanya tumbuh masing-masing sebesar 2,69 persen dan 2,71 persen.

"Kenaikan realisasi terlihat di belanja barang dan jasa, belanja pegawai dan bantuan sosial tunai. Itu menyebabkan konsumsi pemerintah bergerak sangat bagus sekali," kata Suhariyanto.

BPS mencatat realisasi belanja pemerintah di triwulan I-2019 mencapai Rp452,06 triliun, lebih tinggi dari periode sama tahun 2018 sebesar Rp419,55 triliun.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian pada triwulan I-2019, meski hanya tumbuh 5,03 persen.

Pencapaian ini tidak jauh berbeda dibandingkan periode triwulan I-2017 sebesar 4,77 persen dan triwulan I-2018 sebesar 7,94 persen.

Sementara itu, ekspor terkontraksi pada triwulan I-2019 dengan tumbuh negatif 2,08 persen, karena ekspor barang turun 1,7 persen dan ekspor jasa tumbuh negatif 5,25 persen.

Kondisi serupa juga terjadi pada triwulan I-2017 ketika ekspor tercatat tumbuh negatif 8,36 persen dan triwulan I-2018 terkontraksi 5,94 persen.

"Ekspor barang tumbuh negatif, seiring dengan menurunnya harga komoditas dan penurunan permintaan beberapa negara mitra dagang," kata Suhariyanto.

Dalam triwulan I-2019, sektor pengeluaran yang tercatat tumbuh tinggi adalah konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) yaitu sebesar 16,93 persen, karena adanya aktivitas pemilu.

Meski demikian, kontribusi LNPRT kepada Produk Domestik Bruto (PDB) relatif kecil atau hanya sekitar 1,36 persen, dibandingkan konsumsi rumah tangga 56,82 persen, PMTB 32,17 persen maupun ekspor 18,48 persen.

Baca juga: ADB: konsumsi rumah tangga perkuat ekonomi Indonesia 2019 dan 2020

Baca juga: Ekonomi Jakarta 2019 ditopang konsumsi rumah tangga

Pewarta: Satyagraha
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Melemahnya pertanian dan industri olahan lambatkan pertumbuhan ekonomi Sumbar

Komentar