counter

Artikel

Menakar peran Indonesia dalam gelar juara ABL milik CLS

Oleh Gilang Galiartha

Menakar peran Indonesia dalam gelar juara ABL milik CLS

Pebasket BTN CLS Knights Indonesia Maxie Esho (kanan) berusaha melewati hadangan pemain Singapore Slingers Xavier Alexander dalam gim kelima final ABL di OCBC Arena, Singapura, Rabu (15/5/2019). (ANTARA/HO-BTN CLS Knights Indonesia/aa

Jakarta (ANTARA) - Tim bola basket BTN CLS Knights Indonesia baru saja menjuarai Liga Bola Basket ASEAN (ABL) 2018/2019.

Raihan tersebut menjadi prestasi mentereng, mengingat CLS baru dua musim tampil di ABL dan di musim perdananya mereka cuma bisa jadi tim peringkat ketujuh dari sembilan peserta di klasemen akhir musim reguler.

CLS jadi wakil Indonesia kedua yang meraih gelar juara ABL setelah Indonesia Warriors pada musim 2012 silam. Namun, raihan tim asal Surabaya itu bisa dianggap lebih berprestasi mengingat sejak 2016 liga itu tak lagi cuma diikuti tim-tim Asia Tenggara tapi melibatkan beberapa tim Asia Timur juga.

Kendati mengawali musim dengan tak begitu meyakinkan lantaran cuma menang tiga kali dari 10 laga awal, CLS melejit menempati peringkat keempat klasemen akhir musim reguler 2018/2019 dengan membukukan 15 kemenangan dan 11 kekalahan.

Di fase playoff, langkah CLS juga tak semulus itu, mereka selalu kalah dalam laga tandang di putaran pertama dan semifinal, namun sukses menyingkirkan wakil Vietnam Saigon Heat serta tim Thailand Mono Vampire Basketball dengan skor yang sama 2-1.

Lantas di partai final, CLS sukses mematahkan harapan wakil Singapura, Singapore Slingers, yang berharap menyudahi penampilan ketiga mereka di babak pamungkas ABL berakhir dengan sebuah gelar juara.

CLS bahkan menggelar pesta juara mereka di markas Slingers usai memenangi gim kelima final 84-81 demi menorehkan skor seri 3-2 di OCBC Arena, Singapura, pada 15 Mei 2019.

Baca juga: CLS juara

Pemain impor CLS, Maxie Esho, menyabet gelar sebagai Pemain Terbaik (MVP) Final ABL 2018/2019 berkat kontribusi penuh hampir selalu main 40 menit penuh di lima gim, dengan rataan 20 poin, delapan rebound dan dua assist diiringi tingkat akurasi tembakan terbuka 52 persen.

Esho seolah membalas kegagalannya meraih gelar Pemain Impor Terbaik (MVP) ABL musim ini karena disingkirkan bintang Slingers, Xavier Alexander, tiga gim sebelumnya.

Sementara Brian Rowsom, membuktikan bahwa ia sebetulnya lebih pantas merebut gelar Pelatih Terbaik ABL 2018/2019 yang jatuh ke tangan pelatih Formosa Dreamers Dean Murray, sebab ia mampu membawa CLS bukan saja meningkat di musim reguler tetapi hingga meraih gelar juara.

CLS mendengkungkan keberhasilannya menjadi juara ABL lewat slogan "Juara Bagi Indonesia".


Kontribusi dalam angka

Sejak akhir Desember 2018, CLS memutuskan mengganti dua pemain asing mereka dari kuota tiga pemain yang diperbolehkan ABL. Douglas Herring menggantikan Montay Brandon dan Darryl Watkins mengisi tempat Stephen Hurt, sedangkan Esho dipertahankan.

Esho terbukti konsisten dan memberikan kontribusi berupa rataan 22,3 poin, 9,2 rebound, 2,6 assist dan 1,7 steal dan tampil dengan akurasi tembakan terbuka 48 persen serta 37,8 menit bermain dalam 37 pertandingan CLS musim ini.

Pilihan mendatangkan Herring dan Watkins juga terbukti tepat, sebab keduanya berada di urutan kedua dan ketiga dalam klasemen kontribusi bagi CLS musim ini.

Herring punya rataan 17,4 poin, 7,6 assist, 5,6 rebound dan 2,3 steal dengan akurasi tembakan terbuka 44 persen dalam 29 gim penampilannya untuk CLS.

Sedangkan Watkins membukukan rata-rata 13,8 poin, 10,5 rebound, dua assist dan 1,3 blok per dalam jumlah pertandingan yang sama dengan Herring.

Baca juga: Maxie Esho sabet gelar Pemain Terbaik Final

Di urutan keempat dan kelima, terdapat Brandon Jawato dan Wong Wei Long, dua pemain yang masing-masing berpaspor Amerika Serikat dan Singapura namun masuk kategori pemain lokal karena salah satu atau kedua orang tuanya berasal dari Indonesia.

Brandon menorehkan musim pertamanya di ABL bersama CLS dengan kontribusi rataan 13,1 poin, 4,3 rebound, 2,5 assist dan 1,1 steal serta tingkat akurasi tembakan terbuka 44 persen dalam 36 penampilannya.

Sedangkan Wei Long, pemain yang bergelar raja tripoin ABL dengan total 256 kali tripoin per musim ini berakhir, memiliki rataan 9,6 poin, 2,5 assist serta tingkat akurasi tembakan terbuka 42 persen dalam 35 penampilannya.

Di luar tiga pemain asing dan dua pemain keturunan tersebut, barulah terdapat pemain Indonesia murni dengan Sandy Febiansyakh Kurniawan jadi kontributor teratas berupa 3,8 poin disertai 15,1 menit bermain dalam 37 gim, diikuti Arif Hidayat yang tampil 29 laga dengan rata-rata 10,4 menit bermain dan 2,2 poin.

Dua nama pemain lokal lainnya yang kerap menghiasi pertandingan CLS di ABL musim ini adalah Rachmad Febri Utomo dan Firman Dwi Nugroho yang jadi pilihan rotasi ketika Watkins ataupun barisan guard lainnya butuh istirahat. Namun menit bermain rata-rata keduanya bahkan tak mencapai tujuh menit.

Jika dilihat dari angka semata, boleh dibilang CLS memang menjadi "Juara bagi Indonesia", bukan tim Indonesia yang menjuarai ABL.


Tak semata soal angka

Kendati kontribusi pemain lokal CLS hampir bisa tak bernilai dari segi angka, sang pelatih Brian Rowsom bersikeras bahwa para pemain Indonesia punya peran besar dalam perjalanan timnya menjuarai ABL.

Menurut Rowsom para pemain lokal CLS berkembang sangat pesat musim ini, bahkan dengan sistem baru yang dibawanya dan waktu semusim cukup untuk mereka beradaptasi.

Bahkan, Rowsom menyebut di fase playoff kontribusi Arif dan Sandy misalnya sangat krusial.

"Sepanjang seri ini, pemain-pemain lokal berperan penting, baik itu Arif, Sandy maupun yang lainnya," kata Rowsom ditemui di sela-sela perayaan juara CLS bersama sponsor utama BTN di Jakarta, Senin (20/5).

"Saya ingin mengembangkan mereka dengan perlahan musim ini, namun ternyata hasilnya lebih pesat dari dugaan. Itulah salah satu alasan kami menjadi juara," ujarnya menambahkan.

Baca juga: Pemain CLS Knights bakal dapat cincin juara

Senada dengan sang pelatih, Sandy menepis anggapan bahwa pemain lokal CLS tak berkontribusi atas gelar juara ABL musim ini.

"Salah besar, yang bilang begitu mereka nggak tahu basket berarti," kata Sandy.

Menurut Sandy, kontribusi tiap pemain tidak hanya bisa diukur dengan ketika bertanding maupun statistik angka semata.

"Karena di sesi latihan, para pemain lokal jelas berperan besar buat mengembangkan kemampuan para pemain asing," ujar Sandy.

Managing Partner CLS, Christopher Tanuwidjaja, bahkan menyebut bahwa pengembangan pemain lokal di CLS antara lain terbukti dengan keberhasilan bekas penggawa mereka, Kaleb Ramot Gemilang, yang menyabet gelar MVP Liga Bola Basket Indonesia (IBL) 2018/2019 setelah pindah ke Stapac Jakart.

"Itu sudah terjawab dengan sendirinya, dengan dia (Kaleb) mungkin minute play-nya sedikit musim lalu di CLS. Tapi sekarang di IBL dia berubah jauh," ujarnya.

"Tanpa disadari dalam tiap sesi scrimmage latihan di lapangan, keterbiasaan menghadapi pemain asing menempa pemain lokal," kata Christopher melengkapi.

Sementara itu, Arif Hidayat mengaku bahwa ia dan rekan-rekannya pemain lokal Indonesia di CLS mengalami kesulitan ketika mengikuti ABL musim lalu, namun perlahan itu membai dan ia merasa setiap pemain punya acuan sendiri soal kontribusinya terhadap tim.

"Lagipula pelatih juga sangat fair ke pemain lokal. Kalau ada yang masuk dan kontribusinya positif, kami bakal diberi kesempatan lanjut bermain," kata Arif.

"Jadi menurut saya tergantung masing-masing pemain sendiri, dia mau kasih apa ke tim, mau minder atau berusaha beri kontribusi positif," ujarnya menambahkan.

Di sisi lain, Arif menilai bahwa ramuan pemain asing CLS yang mengantarkan mereka menjadi juara sebagai komposisi terbaik yang pernah ada.

"Menurut saya ini impor terbaik yang pernah dimiliki CLS. Semisal ada kesalahan mereka tidak pernah menyalahkan pemain lokal itu yang saya salut dari mereka," katanya.

"Itu membuat kami main tidak sungkan dan mereka juga sering sekali memberi dorongan bagi kami, baik di sesi latihan maupun ketika bertanding," pungkas Arif.

Tentu saja, harapan peningkatan kontribusi yang lebih krusial baik yang terukur angka maupun tak terukur terdapat di setiap pemain lokal CLS.

Hal itu, menjadi salah satu kewajiban jika CLS masih mengikuti ABL musim depan dan berjuang mempertahankan gelar juara mereka.

Jika hal itu terjadi, CLS akan menjadi tim pertama sejak ABL digelar pada 2009 silam yang bisa mempertahankan gelar juara dua musim beruntun. Mustahil? Tidak. Sebab bagi CLS keyakinan adalah kuncinya.

Baca juga: CLS belum pastikan keikutsertaan musim depan

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar