Artikel

Kalau para chef ingin berkontribusi di daerah bencana

Oleh Ganet Dirgantara

Kalau para chef ingin berkontribusi di daerah bencana

Anggota Asosiasi Chef Indonesia bersama PLN tengah mengelola dapur umum di daerah bencana (Foto ACI PLN)

Aspek nutrisi pun wajib terpenuhi di setiap sajian
Jakarta (ANTARA) -
Profesi sebagai ahli masak (chef) merupakan salah satu yang tengah digandrungi terutama dari generasi milenial, apalagi Indonesia memang dikenal kaya dengan kuliner tradisionalnya.

Para chef yang bernaung dalam wadah yang disebut sebagai Indonesia Chef Association (ICA) memiliki misi sosial yang menjadi agenda rutin, yakni mengirimkan anggotanya ke daerah bencana.

Mengenai alasannya, anggota Indonesian Chef Association (ICA) Shanty Dewi Nurhayani menjelaskan selama ini saat bencana alam terjadi, sudah lazim bantuan datang dari berbagai penjuru, termasuk kedatangan para relawan yang akan membantu proses evakuasi korban bencana hingga pemulihan sarana dan infrastruktur di daerah tersebut.

Tentu, sebagaimana manusia biasa, para relawan tersebut juga membutuhkan asupan makanan. Dan di daerah bencana, para relawan membutuhkan asupan gizi yang cukup baik, karena pekerjaan mereka sangat berat dan kerap kali melampaui beban kerja di masa normal, bahkan tak ingat waktu.

Pada titik itu mereka rentan mengalami kelelahan berat. Untuk menghindari agar kelelahan itu tidak berubah menjadi sakit, mereka membutuhkan asupan gizi yang seimbang selain tentunya istirahat yang cukup, ujar Shanty yang berdomisili di Garut, Jawa Barat dan sekaligus pengusaha katering.

Meski asupan gizi dari makanan sangat penting bagi para relawan, namun Dewi, sapaannya memaparkan, kerap kali justru aspek tersebut terabaikan.

Ketika berada di daerah bencana, memang makanan yang tersedia untuk relawan kondisinya ala kadarnya, yang penting ada. Ini yang kurang baik karena bisa berdampak pada kesehatan para relawan maupun masyarakat korban bencana yang sangat memerlukan makanan bergizi, jelas Dewi.

Untuk itu para anggota ICA, yang bernaung di bawah Kementerian Pariwisata, kerap terjun ke lokasi bencana alam untuk membantu organisasi relawan, baik pemerintah, sosial maupun swasta mengelola dapur umumnya.

Dewi mengatakan ICA biasanya diminta memberikan saran dan panduan menu yang cocok untuk daerah tersebut sesuai dengan selera lokal dengan kandungan gizi yang baik, cara pengolahan dan peralatan yang diperlukan untuk memasak dalam jumlah besar hingga ke manajemen higienitas dapur umum, agar kebersihan dan kesehatan selalu terjaga dari bahan baku hingga makanan jadi.


Baca juga: Mensos serahkan mobil untuk dapur umum di Sampang
Baca juga: Dapur umum mandiri lebih efektif saat bencana


Dapur Umum

Dewi memaparkan, salah satu pihak yang kerap bekerja sama dengannya selaku anggota ICA adalah Tim Reaksi Cepat (TRC) PLN.

Menurut data yang dikutip dari Departemen Corporate Communication & CSR PT PLN (Persero), TRC PLN yang diinisiasi oleh Direksi PLN tersebut  memiliki misi kemanusiaan dalam dua bentuk, yakni melakukan pencarian dan penyelamatan (search and rescue) korban bencana di wilayah berair dan daerah berketinggian, serta penyediaan dapur umum.

TRC PLN  memiliki tugas mencari dan mengevakuasi korban bencana. Namun jika tidak melakukan tugas SAR, maka TRC PLN bertugas men-support makanan untuk tim pemulihan infrastruktur listrik PLN maupun badan koordinator bencana lain, dan juga masyarakat terdampak bencana.

Soal dapur umum TRC PLN juga punya standar yang hampir sama sehingga ini yang mendorong ICA menjalin kerja sama untuk pelaksanaan tanggap darurat di daerah-daerah bencana.

TRC PLN selain memiliki tenaga relawan yang memiliki dedikasi dan sepenuh hati membantu korban bencana alam, juga sekaligus tak ragu sedikitpun menggelontorkan bahan pangan terbaik bagi para korban bencana, termasuk untuk tenaga relawan dari berbagai badan pemerintah maupun swasta.

TRC PLN memiliki standar tinggi untuk makanan di daerah bencana yakni benar-benar bernutrisi lengkap dan dengan rasa yang sesuai dengan cita rasa lokal daerah tersebut.

Dewi masih ingat, pertama kali dirinya berkenalan dengan TRC PLN saat bencana banjir bandang di Garut tahun 2016. Dewi yang saat itu juga tengah berada di kota kelahirannya itu pun, langsung terjun ke daerah bencana.

Ternyata tanpa diduga ia dihubungi oleh TRC PLN berdasarkan rekomendasi sejawatnya. Setelah bersua dengan TRC PLN, Dewi pun sigap membantu pembukaan dapur umum pertama TRC PLN tersebut.

Tanpa ragu Dewi memberikan panduan sistem dan SOP dalam pengelolaan dapur umum berkapasitas ribuan paket. Tak hanya jenis peralatan untuk memasak dalam skala besar yang turut disiapkan, namun faktor kebersihan yang tak kalah penting, juga diterapkan dalam pengelolaan dapur umum.

Termasuk aliran barang masuk, keluar, lokasi masak, tempat sampah, pembersihan bahan baku dan sebagainya, ujar Dewi yang kerap dibantu 1-2 orang chef sejawatnya yang juga dari ICA.

TRC PLN juga membuat tolak ukur cita rasa lokal sebelum memasak. Kalau di Garut sebagai warga setempat tentunya paham betul mengenai cita rasa di daerah tersebut. Namun kalau di daerah lain sebelum membuka dapur umum, diwajibkan untuk makan di warung makan lokal agar paham cita rasa makanan lokal itu seperti apa. Berangkat dari sana, baru bisa membuat menu dan resep untuk setiap sajian, papar Dewi.

Aspek nutrisi pun wajib terpenuhi di setiap sajian TRC PLN. Dalam sepaket nasi bungkus atau nasi kotak TRC PLN, wajib terdiri dari 3 unsur, karbohidrat, protein dan sayuran. Jadi dalam satu paket sajian TRC PLN harus ada nasi, sayur, ayam atau daging dan tahu atau tempe agar kebutuhan nutrisi korban bencana dan tenaga relawan terpenuhi, ujar Dewi.

Sebagai contoh lauk bernama Ekkado yang terbuat dari telur bercampur daging berbalut tepung gurih, sapi lada hitam, balado ikan, ayam seraton, sayur capcay, dan aneka tumisan kerap disajikan TRC PLN.

Bahkan kala membuka dapur umum di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat, TRC PLN sampai membeli sapi untuk dijadikan rendang. "Termasuk beras, kami meminta yang kualitasnya terbaik. Karena makan apapun akan enak jika nasinya enak. Kalau tidak, percuma saja lauknya nikmat tapi nasinya tidak," jelas Dewi.

Dengan standar demikian, tak heran saat bencana di Garut, yang notabene pertama kalinya TRC PLN membuka dapur umum, kontan didapuk jadi dapur umum percontohan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dapur umum TRC juga kerap menjadi rujukan kala pejabat pemerintah daerah dan pusat mendatangi lokasi bencana.

Adapun ke depannya Dewi menyarankan, agar TRC PLN menyiapkan food truck untuk menampung alat masak yang akan digunakan di dapur umum. Pasalnya, peralatan masak yang dibutuhkan untuk membuat ribuan porsi makanan, tidak sama dengan proses produksi memasak seperti yang biasa dilakukan sebuah keluarga sehari-hari. Mencari bahan dan peralatan memasaknya cukup sulit. 

Karena itu alangkah baiknya jika terdapat sejumlah titik di Indonesia untuk penyimpanan food truck TRC PLN, agar semakin cepat merespon kejadian bencana.



Baca juga: ICA edukasi masyarakat ragam kuliner nusantara
 Baca juga: Dapur umum mandiri layani korban tsunami yang masih di pengungsian

 

Oleh Ganet Dirgantara
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Basarnas latih 100 personel potensi SAR di Sekarkijang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar