Palangka Raya (ANTARA News) - Provinsi Kalimantan Tengah, yang selama ini hanya dipenuhi ratusan ribu hektar perkebunan sawit, kini mulai memacu sektor perkebunan alternatif, seiring rencana masuknya investor perkebunan ubi kayu skala besar. "Kalteng mendapat tawaran untuk mengembangkan perkebunan ubi kayu hingga seluas puluhan ribu hektar, diantaranya dari PT Turini Agro Asia Tbk", kata Wakil Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ir Yusan, di Palangka Raya, Senin. Yusan membawa langsung delegasi kelompok usaha itu ke Kalteng untuk melihat potensi lahan yang dimiliki, sekaligus berharap mencapai sejumlah kesepakatan kerjasama dengan jajaran Pemerintah Provinsi setempat. Menurut dia, pengembangan perkebunan ubi kayu atau singkong dinilai relatif mudah, tidak memerlukan teknologi dan modal besar layaknya investasi kelapa sawit yang kini tengah booming di Kalteng. Meski terbilang sederhana, tetapi produk hilirnya dikenal begitu luas. "Banyak makanan dan minuman yang membutuhkan bahan baku singkong, selain berbagai produk industri lain semacam odol, bahan vitamin C, diet sugar, dan lain sebagainya," jelasnya. Para investor, lanjutnya, mengharapkan Pemprov Kalteng dapat memberikan jaminan lokasi lahan investasi yang potensial dengan luas antara 20 ribu hingga 50 ribu hektar. "Investasi singkong ini minimal memiliki luasan lahan 20 ribu hektar. Bahkan bila ingin berdiri pula produk hilirnya maka setidaknya membutuhkan areal hingga 50 ribu hektar," ungkapnya. Yusan menegaskan, delegasi kelompok usaha Turini Agro Asia telah berjanji akan secepatnya menanamkan investasinya bila ada ketersediaan lahan. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalteng menerima banyak tawaran pengembangan perkebunan alternatif, terutama pengembangan industri biofuel dari hulu ke hilir seluas 150 ribu hektar dari sejumlah investor dari dalam dan luar negeri. Tawaran sebelumnya datang dari para investor Jepang yang meminta Kalteng menyediakan lahan seluas 50 ribu hektar untuk perkebunan jagung bagi industri biofuel itu. Selain mengembangkan biofuel dari jagung dan ubi kayu, Kalteng juga berencana mengembangkan biofuel dari komoditas lain seperti tebu dan jarak. Saat ini ujicoba tanaman jarak tengah dilakukan di kota Palangka Raya dengan areal luas tanam 1.000 hektar. Gubernur Kalteng A Teras Narang sendiri mengatakan, pihaknya menginginkan agar industri biofuel pertama di wilayah Kalteng tersebut merupakan satu kesatuan, sejak dari persiapan lahan hingga pengolahan jadi bahan bakar nabati berada dalam satu tempat. "Kami mau itu bersifat industri dari hulu ke hilir. Jadi bukan hanya tanam saja, tapi juga ada pabrik pengolahan hingga barang jadi," ucapnya.(*)

Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2008