Ratusan hektare sawah Magetan alami kekeringan, terancam gagal panen

Ratusan hektare sawah Magetan alami kekeringan, terancam gagal panen

Warga melintas di dekat hamparan sawah yang mengalami kekeringan di Desa Mrican, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (15/9). Banyak petani di wilayah tersebut kesulitan mendapatkan air irigasi pada saat musim kemarau seperti sekarang, sehingga ratusan hektare lahan dibiarkan tanpa tanaman. Antara Jatim/Siswowidodo/mas/18.

Selain itu adanya kerusakan Waduk Gonggang di Kecamatan Poncol juga menyebabkan petani Magetan bagian selatan tidak dapat memanfaatkan pasokan air secara maksimal
Magetan (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mencatat ratusan hektare sawah di wilayahnya terdampak kekeringan pada awal musim kemarau tahun 2019, sehingga terancam gagal panen.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan ((DTPHP-KP) Magetan, Eddy Suseno, mengatakan total luas lahan di Magetan yang ditanami padi pada musim kemarau pertama (MK 1) di wilayah setempat mencapai 21.000 hektare.

"Dari jumlah ribuan hektare tersebut, terdapat ratusan hektare lahan yang mengalami kekeringan dan bahkan puso," ujar Eddy kepada wartawan di Magetan, Jawa Timur, Kamis.

Sesuai data, luas lahan padi yang puso mencapai 167 hektare, padi terdampak kekeringan ringan seluas 143 hektare, terdampak kekeringan sedang seluas 116 hektare, dan terdampak kekeringan berat seluas 151 hektare.

Adapun daerah yang paling parah terdampak kekeringan terdapat di Kabupaten Magetan wilayah selatan, seperti Kecamatan Parang, Ngariboyo, dan Lembeyan.

Eddy menjelaskan penyebab kekeringan tersebut karena musim kemarau melanda lebih maju satu bulan dari perkiraan awal. Petani sempat mendapatkan pasokan air yang cukup saat awal musim tanam, namun jelang akhir musim tanam mulai kekurangan air.

"Selain itu adanya kerusakan Waduk Gonggang di Kecamatan Poncol juga menyebabkan petani Magetan bagian selatan tidak dapat memanfaatkan pasokan air secara maksimal," kata dia.

Guna meminimalisir kerugian, pihaknya intensif melakukan sosialisasi pola tanam kepada para petani. Selain itu, pihaknya juga menganjurkan petani untuk ikut Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), sehingga saat padi gagal panen akibat bencana banjir atau kekeringan, petani mendapat ganti rugi dari pemerintah.

Upaya lain untuk mengatasi kekeringan di wilayah Magetan adalah pemerintah setempat berusaha untuk menambah pemasangan sumur pompa dalam bagi petani, terutama di daerah yang jauh dari sistem irigasi.

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar