counter

TPA Tanjungpinang olah sampah menjadi bahan bakar

TPA Tanjungpinang olah sampah menjadi bahan bakar

Staf UPTD-TPA Ganet Tanjungpinang menunjukkan solar dan bensin hasil mengolah sampah plastik. (ANTARA/Ogen)

Tanjungpinang (ANTARA) (ANTARA) - Unit Pelayanan Teknis Daerah Tempat Pembuangan Akhir (UPTD-TPA) Jalan Ganet di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dalam satu tahun terakhir mengolah sebagian sampah menjadi bahan bakar setara bensin dan solar.

Staf UPTD-TPA Jalan Ganet, Suhardi, pada Jumat menjelaskan proses pengolahan sampah menjadi bahan bakar dilakukan menggunakan teknologi pirolisis,  .

Mekanisme pirolisis meliputi proses degradasi termal yang dilakukan dengan cara memanaskan plastik pada tekanan dan temperatur tertentu yang membuat plastik mencair dan berubah menjadi gas sehingga rantai panjang hidrokarbon terpotong menjadi rantai pendek.

Proses itu akan dilanjutkan dengan pendinginan yang membuat gas terkondensasi menjadi cairan yang nantinya akan menjadi bahan bakar minyak berupa solar atau bensin.

"Gas metan dihasilkan dari tumpukan sampah lalu menghasilkan uap. Uap itulah yang kemudian menjadi solar dan bensin," kata Suhardi.

Ia menjelaskan sampah yang diolah menjadi bahan bakar adalah sampah plastik bening, termasuk plastik bekas pembungkus baju. Sebelum dimasak, sampah-sampah plastik itu terlebih dulu dibersihkan menggunakan air lalu dijemur sampai kering. 

Sampah plastik yang sudah bersih dan kering kemudian akan dimasukkan ke dalam tabung besi untuk diproses.

"Lima kilogram sampah akan menghasilkan 2,5 liter bensin dan 1,5 liter solar. Proses memasaknya sekitar tiga jam," kata Suhardi.

Bahan bakar yang dihasilkan dengan mengolah sampah, menurut dia, digunakan untuk kendaraan bermotor, mesin kompos dan genset yang ada di TPA Jalan Ganet.

"Sejauh ini hasilnya cukup bagus, tidak ada kendala," katanya.

UPTD TPA Ganet, ia menjelaskan, berencana mengajukan permohonan ke Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk meningkatkan kapasitas unit pengolahan sampah menjadi bahan bakar sampai 200 kilogram sekali proses. 

"Alatnya bisa didatangkan dari Jawa. Kalau saat ini, kami hanya menggunakan bahan-bahan bekas seadanya," katanya.

Suhardi mendapatkan ilmu mengolah sampah menjadi solar dan bensin saat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pemerintah di Bekasi, Jawa Barat, empat tahun lalu.

"Setahun setelah pindah ke sini langsung saya terapkan. Alhamdulillah berhasil," tuturnya.

Selain menghasilkan solar dan bensin untuk mendukung operasi TPA, pengolahan sampah menjadi bakar mengurangi beban sampah di TPA Ganet yang dalam sehari bisa menerima sekitar 80 ton sampah.

Baca juga:
Warga Boyolali olah sampah jadi BBM
Yogyakarta akan olah sampah menjadi batako
Teknologi ITF olah sampah menjadi listrik

Jokowi akan kawal langsung pembangunan PLTSa di 4 kota

Pewarta: Ogen
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar