counter

Piala Dunia FIBA

Generasi emas inspirasi Argentina songsong Piala Dunia FIBA

Generasi emas inspirasi Argentina songsong Piala Dunia FIBA

Pebasket tim nasional Argentina Nico Laprovittola (kanan) berusaha membawa bola melewati kawalan pemain Venezuela Gregory Vargas dalam laga penyisihan Grup Piala FIBA Amerika 2017 di Bahia Blanca, Argentina, Minggu (27/8/2017). (ANTARA/AFP/Eitan Abramovich)

Jakarta (ANTARA) - Point guard tim nasional bola basket putra Argentina, Nico Laprovittola, menjadikan prestasi generasi emas pendahulunya menyongsong keikutsertaan dalam putaran final Piala Dunia FIBA 2019 di China, 31 Agustus s.d. 15 September mendatang.

Laprovittola masih menjadi penggemar ketika Argentina kalah di final Piala Dunia FIBA 2002 dan lantas menyabet medali emas Olimpiade 2004 di Athena, Yunani, diperkuat pebasket legendaris Manu Ginobili serta Luis Scola.

"Manu Ginobili, Andres Nocioni, Pepe Sanchez, Pablo Prigioni, Fabricio Oberto dan lain-lain adalah panutan dan idola bagi kami semua," kata Laprovittola dilansir laman resmi FIBA, Senin.

"Mereka mengubah wajah bola basket Argentina dan menempatkan timnas kami di peta persaingan dunia," ujarnya menambahkan.

Laprovittola sendiri punya catatan positif bersama negaranya, menjuarai Kejuaraan FIBA America U18 2008 serta peringkat kelima Piala Dunia FIBA U19 2009.

Ia lantas masuk tim senior Argentina dalam Piala Dunia FIBA 2014 dan bermain bersama Ginobili dan Scola dalam Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brazil.

Kini, pebasket yang musim lalu membela Joventut Badalona dan menyabet gelar Pemain Terbaik (MVP) Liga Basket Spanyol itu mengaku tak terbebani malah terinspirasi dengan capaian sarat prestasi generasi emas basket Argentina.

"Tentu saja tidak. Kami semua terinspirasi dengan tahun-tahun luar biasa basket Argentina dan kami mengagumi para pemain yang menorehkan lembar paling sukses di sejarah olahraga ini bagi negara kami," katanya.

"Namun, kami melakoni kisah kami sendiri, menjaga semangat juang dan berusaha membanggakan penggemar dan negara kami," ujar Laprovittola.

Laprovittola mungkin akan kembali bermain bersama Scola di China nanti, dan pemain gaek itu sudah berusia 39 tahun ketika turnamen digelar.

Meski usianya tak lagi muda, Laprovittola yakin Scola akan memainkan peranan penting dan menularkan pengalaman berharganya lewat statusnya sebagai kapten timnas Argentina.

"Ia legenda basket kami. Ia luar biasa dalam fase kualifikasi dan banyak membantu kami, saya yakin ia akan menjadi salah satu pemain paling berperan di kompetisi musim panas ini," katanya.

Argentina memesan satu tiket ke China setelah berhasil memenangi sembilan dari 12 laga kualifikasi zona Amerika. Laprovittola tampil menjadi salah satu pemain kunci Argentina, termasuk ketika mengalahkan Amerika Serikat 80-63 pada 29 November 2018 lewat catatan 17 poin dan delapan assist.

Di China, Argentina tergabung di Grup B bersama Rusia, Korea Selatan dan Nigeria. Laprovittola bertekad untuk membukukan hasil terbaik bersama Argentina di usianya yang sudah 29 tahun.

"Kami akan memainkan setiap pertandingan laiknya laga terakhir, mengerahkan segenap tenaga untuk selalu memastikan kemenangan. Bahkan jika kami bukan tim favorit dalam laga tertentu, kami tak akan menyerah," pungkas Laprovittola.

Argentina akan menghadapi Korea Selatan pada hari pertama Piala Dunia FIBA 2019 di Wuhan Sports Center, 31 Agustus.

Baca juga: Donovan Mitchell, Kyle Kuzma berpeluang debut bela AS di Piala Dunia
Baca juga: Resmi, Indonesia tuan rumah Piala Dunia FIBA 2023

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar