Mataram (ANTARA News) - Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) khususnya yang masih berada dipengungsian di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mendapat bantuan beras dari pemerintah setempat. "Pada bulan lalu Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan NTB memberikan bantuan sebanyak tiga ton beras," kata Kepala Dinas Kesos dan Pemberdayaan Perempuan, Drs H Junaidi Najamudin kepada wartawan di Mataram, Kamis. Sedikitnya sekitar 130 orang jemaat Ahmadiyah kini masih ditampung di Asrama Transito Majeluk, Mataram setelah rumahnya di Gegerung, Lingsar, Kabupaten Lombok Barat dibakar massa dua tahun lalu. Pada awal penampungan hingga setahun, bantuan beras secara terus menerus diberikan kepada jemaat Ahamdiyah, namun setelah itu diberikan menurut kebutuhan. "Kita hanya membantu beras sementara yang bertangungjawab dalam masalah keyakinan adalah Kanwil Depag, sementara pendidikan bagi anak-anak mereka menjadi tanggungjawab Dikpora NTB," katanya. Pihak Kessos NTB kini menyiapkan atau menyetok sekitar 50 ton beras untuk bantuan bencana alam termasuk bencana sosial yang kapan saja bisa dikeluarkan. "Sementara di Kantor Sosial masing-maasing kabupaten dan kota disediakan sebanyak lima ton, sehingga jika terjadi bencana mereka tidak perlu lagi meminta bantuan kepada NTB," katanya. Sebelumnya Kepala Kantor Depag Kota Mataram, Drs H Husnan Ahmadi mengimbau jemaat Ahamdiyah di daerah itu segera mengikuti jejak Amir JAI Pusat Abdul Basit yang mengakui Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. "Selain mengakui Muhammad sebagai Nabi terakhir juga sebagai Rasulullah," katanya. Husnan yang ditemui di Kantor Walikota Mataram mengatakan, ada 12 pernyataan yang disampaikan oleh Amir JAI diantaranya mengakui Muhammad sebagai Nabi terakhir. Sementara Hadrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru dan pemimpin Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa Nabi Muhammad. "Dengan kembalinya warga Ahmadiyah ke ajaran Islam merupakan modal utama bisa kembali ke kampung halaman di Gegerung, Lingsar dan karena itulah ajaran yang benar," katanya. Jemaat Ahmadiyah ingin kembali ke kampung halamannya di Gegerung, namun mereka takut kembali karena faktor keamanan dan keselamatan.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2008