Laporan dari Tanah Suci

Dharmono bertawaf di bawah gerhana di langit Kabah

Dharmono bertawaf di bawah gerhana di langit Kabah

Dharmono bertawaf di bawah gerhana di langit Kakbah (Hanni Sofia)

Mekkah (ANTARA) - Bagi Dharmono, seorang anggota jemaah calon haji asal Jakarta, gerhana bulan selama ini tak pernah dianggapnya istimewa. Namun, fenomena astronomi itu berubah menjadi sangat mengharukan ketika terjadi saat ia bertawaf mengelilingi Kabah.

“Saya terharu dan tak bisa berhenti menitikkan air mata. Saya diberi kesempatan seistimewa ini, di saat dan di tempat yang sangat istimewa, ini Baitullah rumah Allah dengan gerhana bulan di langitnya,” kata Dharmono setelah usai melakukan Shalat Khusuf berjamaah di Masjidil Haram, Rabu dini hari waktu setempat.

Ayah dari Alvaro itu sudah menunggu kesempatan berhaji sejak 2011 dan baru mendapatkannya tahun ini bersama sang istri Zubaedah.

Maka baginya momentum yang dialami sesaat setelah menginjakkan kaki di Mekkah itu merupakan saat-saat yang langka dan istimewa.

“Belum tentu seumur hidup sekali dialami oleh siapapun dan bayangkan saja saya mendapatkan berkah ini, di sini bisa menyaksikan langsung gerhana bulan yang tidak setiap waktu terjadi,” katanya.

Apalagi ia mendapatkan tambahan kisah dari pembimbing ibadahnya bahwa menyaksikan dan menjalankan Shalat Khusuf di depan Kabah tidak diberikan kepada setiap orang kesempatannya.

Pria yang akrab disapa Mono itu pun mengaku mendapatkan banyak pengalaman spiritual sepanjang malam yang ia habiskan di Masjidil Haram itu.

“Subhanalloh setelah umroh saya diberi kesempatan untuk bisa sholat di Hijir Ismail mencium Hajar Aswad dan menyentuh Kabah. Ini tidak pernah bisa saya bayangkan sebelumnya apalagi karena sudah begitu penuhnya orang kok saya bisa ya,” katanya.

Ia bahkan merasakan seperti ada energi yang membawanya seperti melayang saat sedang tawaf mengelilingi Kabah padahal tubuhnya lelah setelah menempuh perjalanan dari Madinah selama 4 jam dan hanya transit sebentar di hotel langsung ke Masjidil Haram.

“Saya bahkan merasa saat tawaf seperti ada energi yang membawa saya terasa seperti melayang. Tubuh saya jalan sendiri mengitari Kabah rumah Alloh. Sampai merinding padahal penuh sesak tapi saya bisa menyelesaikan tawaf dengan kemudahan dan begitu diringankan langkah saya,” katanya.

Mono pun memanjatkan doa untuk diri, keluarga, dan memanggil nama teman-teman yang disayanginya untuk bisa segera menyusul jejaknya menjalankan ibadah haji.

“Doa untuk diri semoga saya selalu bisa bermanfaat untuk orang lain dimanapun saya berada,” katanya.

Mono juga mengaku perjalanan ibadah hajinya banyak terbantu oleh petugas haji Indonesia yang selalu sigap dan cekatan dalam membantu jemaah.

“Semuanya lancar berkat petugas hajinya, transportasi dan penyambutan dari Madinah sangat mengharukan. Di terminal dan banyak tempat banyak petugas yang sigap cekatan juga selalu menyapa kita memberikan info kepada jemaah. Di masjid juga banyak mereka mudah dikenali karena ada baju yang ada bendera merah putihnya,” kata Mono.

Baca juga: Lebih dari 22.000 jamaah calon haji telah tiba di Tanah Suci

Baca juga: Sudah 10 calon haji Jawa Timur wafat di Tanah Suci

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akhir 2019, akumulasi dana haji mencapai 122 T

Komentar