Washington (ANTARA News) - Perang di Irak akan menelan sedikitnya tiga trilyun dolar yang dibiayai oleh para pembayar pajak, kata pemenang Hadiah Nobel ekonomi di dalam buku baru yang dikutip oleh pers Amerika Serikat pekan ini. Dalam bukunya berjudul "The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the Iraq Conflict" Joseph Stiglitz menyimpulkan bahwa operasi-operasi militer AS di Irak telah melampaui ongkos perang 12 tahun di Vietnam dan lebih dari dua kali lipat biaya yang dikuras dalam Perang Korea. "Perang ini satu-satunya dalam sejarah kami yang menelan biaya lebih dari ongkos yang mesti dibayar dalam Perang Dunia II, ketika 16,3 juta tentara AS berperang selama empat tahun terakhir, yang menelan biaya sekitar lima trilyun dolar," katanya dalam karya yang ditulis bersama dengan profesor Harvard, Linda Bilmes. "Sebenarnya pasukan angkatan bersenjata bertekad untuk berperang dengan Jerman dan Jepang, dengan biaya jika dikalkulasi dengan nilai dolar sekarang adalah kurang dari 100.000 dolar per tentara. Ini sangat kontras dengan perang Irak yang menguras biaya 400.000 dolar per tentara." Namun Pentagon tampak mengabaikan angka-angka itu, dan menyatakan memang ada biaya-biaya yang berkaitan dengan pendanaan perang yang tak diumumkan. "Jumlah itu sepertinya terlalu dibesar-besarkan bagi kami," kata jurubicara Pentagon Geoff Morrell. "Pentagon telah melakukan keterbukaan yang luar biasa mengenai apa yang kami tahun berkaitan dengan biaya-biaya perang itu." Stiglitz adalah pemenang Hadiah Nobel di bidang ekonomi pada 2001 dan mantan kepala ekonomi pada Bank Dunia. Rekannya, penulis bersamanya, Bilmes adalah profesor bidang keuangan umum pada Universitas Harvard. Buku itu diterbitkan saat perang di Irak mendekati tahun kelimanya. (*)

Copyright © ANTARA 2008