Jakarta (ANTARA News) - Peneliti dan pakar politik LIPI, Dr Hermawan Sulistio, berpendapat, implementasi "ASEAN Charter" (Piagam ASEAN) tersendat karena antara lain sikap-sikap tak `fair` beberapa negara, terutama Singapura dan Malaysia. "Menurut saya, implementasi itu (Piagam ASEAN) tergantung juga pada posisi aktif Singapura dan Malaysia, bukan cuma di kita," tegasnya kepada ANTARA News, di Jakarta, Kamis. Tetapi, bagaimana Singapura dan Malaysia bisa proaktif, sementara ada banyak kasus yang mereka ciptakan dengan tetangga sesama ASEAN, utamanya Indonesia. "Tegasnya, implementasinya tersendat antara lain karena kasus lokasi operasi militer Singapura yang lalu itu, plus eskalasi politik di Malaysia," paparnya. Kasus-kasus itulah (termasuk masalah ekstradisi penjahat keuangan lintas negara, `trafficking, illegal loging dan illegal fishing`) yang menurut Hermawan Sulistio menjadikan implementasi Piagam ASEAN tersendat. "Sejak kasus-kasus itu, saya kira Singapura mengambil posisi pasif. Padahal belum akan implementatif kalau Singapura dan juga Malaysia tidak proaktif," tandasnya. Hermawan Sulistio lalu menunjuk Malaysia sendiri belum akan proaktif, karena ketegangan perbatasan dengan Indonesia belum selesai.(*)

Pewarta:
Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2008