counter

Artikel

Kemah Budaya Kaum Muda dari ide menuju kolaborasi budaya nusantara

Oleh Aubrey Kandelila Fanani

Kemah Budaya Kaum Muda dari ide menuju kolaborasi budaya nusantara

Sejumlah peserta sedang mengikuti Kemah Budaya Kaum Muda di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, Senin (22/7/2019). (Antara/Aubrey Fanani)

Yogyakarta (ANTARA) - Heronimus Eko Pintalius Zebua, pemuda berusia 28 tahun, Kabupaten Sikakap, Mentawai, tengah resah karena masyarakat Mentawai tak lagi bertato, padahal tato Mentawai yang menjadi seni tato tertua di dunia itu menjadi identitas bagi masyarakatnya.

"Tato itu adalah pakaian bagi orang Mentawai. Tato melambangkan kedewasaan dan juga tanda dari keseimbangan alam," kata dia.

Tak hanya itu, tato juga merupakan narasi dari perjalanan hidup seseorang, misalnya sesorang itu adalah seorang terpelajar maka bisa saja di dadanya ditato gambar pena untuk melambangkan statusnya.

Namun kini sulit menemukan pemuda Mentawai bertato, hal itu berawal pada era 1980-an saat pemerintahan Soeharto menggalakan operasi pemberantasan kejahatan di seluruh wilayah Indonesia. Para penembak misterius atau petrus dikerahkan untuk menembak para preman yang kebanyakan bertato.

Stigma tato adalah kriminal menjadi kuat, orang-orang Mentawai kemudian mulai takut bertato. Hingga sekarang pemuda-pemuda Mentawai enggan bertato.

"Mereka takut dikira penjahat dan takut tidak dapat melamar kerja," kata dia.

Hal itu berdampak pada hilangnya motif-motif tato Mentawai karena tak ada lagi yang mereproduksinya. Peneliti tato Mentawai Ady Rosa telah menemukan sekitar 160 motif tato Mentawai.

Namun menurut Heronimus jumlah tato mentawai yang ada bisa lebih dari 160, karena mayoritas tato yang ditemukan Ady Rosa berada di pulau Siberut.

"Itu belum lagi tato yang ada di Sikakap dan Sipora," kata dia.

Keinginannya untuk mendata kembali motif tato Mentawai membawanya mengikuti Kemah Budaya Kaum Muda yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 21-25 Juli 2019 di Kompleks Candi Prambanan, Yogykarta.

Dia berharap mengikuti kemah budaya tersebut dapat mewujudkan keinginan komunitasnya "Sitasimattaoi" untuk melestarikan tato Mentawai.

Di dalam kemah itu dia bertemu teman-teman dari 132 kelompok dari seluruh Indonesia yang juga ingin mewujudkan mimpinya untuk ikut memajukan kebudayaan di daerahnya. Kemah budaya seperti "pasar ide" dari anak-anak muda untuk mewujudkan kebudayaan.

Para kelompok akan berkompetisi agar idenya dapat terwujud. Di akhir kemah akan ada 12 proyek terpilih untuk mendapatkan dukungan fasilitasi dari Kemendikbud agar purwarupa dan aktivasi inisiatif sosialnya dapat diwujudkan.

Ada empat kategori produk yang akan dihasilkan dari kegiatan tersebut, yaitu purwarupa aplikasi, purwarupa fisik, aktivasi kajian dan aktivasi kegiatan.

Produk yang akan dihasilkan Heronimus merupakan aktivasi kajian dari bentuk-bentuk motif tato Mentawai.

"Saya berharap jika proyek ini terpilih kami bisa melakukan kajian untuk motif tato Mentawi dan mengadvokasi pemerintah daerah Mentawai untuk tidak menstigma dan memberikan kesempatan kerja yang sama bagi masyarakat yang bertato," kata dia.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan proyek-proyek pemajuan kebudayaan yang akan dipresentasikan di Kemah Budaya Kaum Muda adalah proyek yang telah dipilih oleh panitia.

Para peserta, sebelumnya mengirimkan proposal ke panitia Kemah Budaya Kaum Muda untuk melalui beberapa tahap seleksi, yaitu administrasi, representasi dan kualitas.

"Kami melihat seberapa jauh proposal-proposal yang masuk sejalan dengan apa yang diharapkan yaitu mendorong adanya inovasi dalam menjawab persoalan pemajuan kebudayaan di daerahnya masing-masing," kata dia.

Para peserta diminta mencari inovasi dan solusi dari permasalahan yang ada di pokok pikiran kebudayaan daerah, dari situ bisa muncul beberapa ide yang mencerminkan pembacaan mereka terhadap pokok pikiran kebudayaan daerahnya.

"Misalnya saja isu di satu daerah adalah kesenian yang yang hampir punah. Nah, dari pokok pikiran kebudayaan daerah mereka temukan agar kesenian tersebut bertahan maka mereka menemukan solusi untuk menumbuhkan pegiat budayanya," kata Hilmar.

Menurut Hilmar ide-ide dari kelompok-kelompok yang mengikuti Kemah Budaya Kaum Muda adalah ide yang matang karena telah melalui seleksi dan pendampingan dari fasilitator.

Tim fasilitator KBKM bertugas untuk mendorong diskusi yang produktif dalam kelompok agar kelompok berhasil menyusun proposal kelompok, memberi inspirasi dan perspektif baru dalam upaya pemecahan tantangan pemajuan kebudayaan melalui bentuk-bentuk purwarupa atau aktivasi inisiatif sosial tertentu, menjalankan manajemen proyek dengan membantu kelompok membagi kerja, serta bekerja dalam tenggat waktu dengan capaian yang jelas.

"Harapan kami mereka mendapat ide yang sangat solid. Kemudian 12 yang terpilih akan difasilitasi untuk bertemu para pemangku kepentingan untuk mewujudkan ide-ide tersebut," kata dia.

Hilmar Farid mengungkapkan Kemah Budaya Kaum Muda merupakan tindak lanjut Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) Tahun 2018.

"Kita lihat di dalam Kongres Kebudayaan itu minat dan keterlibatan anak muda sangat besar. Sayangnya, di kongres itu, anak muda yang berbicara masih terbatas," kata Himar.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta para peserta tak hanya kompetisi dalam kemah budaya tersebut, mereka juga diminta untuk membangun jaringan dan berkolaborasi.

"Indonesia ini akan menjadi negara kuat, berkembang menjadi bangsa yang maju, kalau kaum mudanya tidak sekadar mengedepankan kompetisi. Tetapi juga mengembangkan kolaborasi, kebersamaan, dan jaringan jaringan yang besar seluruh Tanah Air," ujar Menteri Muhadjir.

Sebab upaya pemajuan kebudayaan merupakan gotong royong segenap elemen bangsa. Kaum muda Indonesia memiliki peranan penting dalam upaya pelindungan, pengembangan, pembinaan, serta pemanfaatan kebudayaan nasional.

"Maju mundurnya kebudayaan tergantung pada pemuda, dan kemah budaya ini menjadi titik tolak untuk memajukan kebudayaan kita," kata dia.

Baca juga: Mendikbud: Kemah budaya jadi tempat berkolaborasi

Baca juga: 132 kelompok ikuti kegiatan Kemah Budaya Kaum Muda


 

Oleh Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia luncurkan Indeks Pembangunan Kebudayaan pertama di dunia

Komentar