"Goro-Goro: Mahabarata 2" padukan pewayangan dengan teknologi visual

"Goro-Goro: Mahabarata 2" padukan pewayangan dengan teknologi visual

Adegan pementasan lakon "Goro-Goro: Mahabarata 2" oleh Teater Koma. (ANTARA News/DEVI NINDY)

Jakarta (ANTARA) - Lakon "Goro-Goro: Mahabarata 2, Panakawan Adalah Kawan," yang menjadi pentas besar Teater Koma di tahun 2019 dibuka untuk pengunjung umum setiap hari mulai hari ini hingga 4 Agustus.

Secara keseluruhan, pentas "Goro-Goro: Mahabarata 2," menggabungkan cerita pewayangan yang bersifat tradisional, dengan kecanggihan teknologi berupa animasi spesial efek tiga dimensi pada latar belakang panggung.

Tak hanya itu, kejutan spesial juga ditampilkan dari spesial efek yang ditampilkan dari tata busana, tata cahaya, dan latar belakang musik.

​​​​Lakon tersebut merupakan produksi ke-158 Teater Koma sebagai kelanjutan pentas Mahabarata: Asmara Raja Dewa, yang juga ditulis dan disutradarai Nano Riantiarno.

Pentas dramaturgi tersebut semakin istimewa dengan penampilan bintang tamu spesial aktor senior pemenang Piala Citra, Slamet Rahardjo Djarot, yang berperan sebagai lakon pewayangan Batara Guru.
 
Aktor senior Slamet Rahardjo (kanan) dalam pementasan lakon "Goro-Goro: Mahabarata 2" oleh Teater Koma (ANTARA News/DEVI NINDY)



Di segi cerita, dalam lakon tersebut Nano menyentil lubuk hati para penonton untuk membayangkan dan memikirkan sosok pemimpin yang diinginkan.
Adegan pementasan lakon "Goro-Goro: Mahabarata 2" oleh Teater Koma. (ANTARA News/DEVI NINDY)


"Goro-Goro: Mahabarata 2 akan mengajak penonton untuk membayangkan dan memikirkan seperti apa pemimpin yang diinginkan, peminpin yang cinta perdamaian demi kenyamanan dan kemakmuran bersama atau justru yang mencintai pertikaian demi kekuasaan tertinggi," ujar Nano.

Lakon Goro-Goro: Mahabarata 2 menceritakan kakak beradik Semar dan Togog yang ditugaskan turun ke Marcapada dan menjadi penasehat raja-raja di sana.

Semar mengabdi pada Raja Medangkamulyan yang bijaksana, Prabu Srimahapunggung. Sedangkan, Togog menghamba pada raja raksasa yang gila kekuasaan dari Kerajaan Sonyantajka, Prabu Bukbangkalan.

Prabu Bukbangkalan mendengar adanya padi melimpah ruah di Kerajaan Medangkamulyan, dan ingin menguasainya agar rakyat raksasa tidak kelaparan saat masa paceklik.

Kembali ke masa lalu, Batara Guru yang ditolak cintanya oleh pesinden ayu Dewi Lokawati, tidak sengaja mengutuknya menjadi padi. Batara Guru kemudian menganugerahkan padi itu ke Kerajaan Medangkamulyan untuk menjadi bahan makanan utama Wayang Marcapada.

Ketika Kerajaan Medangkamulyan panen padi melimpah-ruah, Kerajaan Sonyantaka malah diserang paceklik sehingga membuat Prabu Bukbangkalan bernafsu merampok padi-padi Medangkamulyan. Berhasilkah Kerajaan Sonyantaka menguasai Medangkamulyan?

Pentas Goro-Goro: Mahabarata 2 dipentaskan di Grha Bhakto Budaya Taman Ismail Marzuki mulai 25 Juli hingga 4 Agustus 2019 pukul 19.30 WIB. Kecuali hari Minggu, tanggal 28 Juli dan 4 Agustus akan dipentaskan mulai pukul 13.30 WIB.

Tiket pementasan bisa didapatkan di www.teaterkoma.org dan GO-TIX dengan harga khusus hari Senin mulai Rp60.000-Rp320.000.

Kemudian pada Selasa - Kamis, harga tiket mulai dari Rp75.000-Rp450.000. Pada Jumat-Minggu, harga tiket pementasan mulai dari Rp100.000 - Rp500.000.

 

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sosok Arswendo di mata Slamet Rahardjo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar