700 hektare sawah dipastikan gagal panen atau puso, karena memang tidak teraliri air
Cirebon (ANTARA) - Seluas 700 hektare sawah di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada musim kemarau kali ini dipastikan gagal panen atau puso, karena tidak tersuplai air dari irigasi.

"700 hektare sawah dipastikan gagal panen atau puso, karena memang tidak dialiri air," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Ali Effendi di Cirebon, Jawa Barat, Kamis.

Ali mengatakan dari total 42.000 hektare lahan pertanian, khususnya padi, pada musim gaduh, sebanyak 1.900 hektare di antaranya itu kekeringan. Baik tingkat ringan, sedang, maupun kekeringan berat sampai puso.

"Total yang kekeringan itu 1.900 hektare, yang puso 700 hektare sedangkan yang mengalami kekeringan ringan, sedang dan berat itu kira-kira 1200 hektare," ujarnya.

Daerah yang mengalami kekeringan, kata Ali, yaitu daerah tadah hujan, karena memang irigasi pertaniannya juga kurang memadai.

Namun untuk persawahan yang airnya dari irigasi, sampai saat ini masih aman meskipun meskipun tidak seperti pada masa tanam pertama.

"Yang kekeringan itu daerah-daerah tadah hujan seperti Greged, Lemahabang, Losari, dan Karangwareng," tuturnya.

Saat ini rata-rata usia tanaman padi di Kabupaten Cirebon memasuki 15 sampai 60 hari, sehingga  gagal panen diperkirakan tidak terlalu meluas.

Meskipun, lanjut Ali, ada juga 3.000 hektare areal persawahan yang terancam kekeringan apabila tidak teraliri air.

"Yang terancam atau waspada itu 3.000 hektare lebih, namun kami terus berusaha agar tidak sampai puso," katanya.
 

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2019