Jambi (ANTARA) - Jamaah calon haji (calhaj) Kloter 23 dan 24 Provinsi Jambi embarkasi Antara Batam didominasi oleh calhaj risiko tinggi. Dari 892 orang calhaj, 653 orang calhaj merupakan jamaah dengan risiko tinggi (risti).

“73,2 persen calhaj Kloter 23 dan 24 Jambi merupakan calhaj risti,” kata Kasi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas III Jambi Andrian Lista Tarigan di Jambi.

Calhaj Kloter 23 dan 24 tersebut merupakan calhaj asal Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Bungo dan Kabupaten Merangin. Meski didominasi oleh calhaj yang memasuki usia risiko tinggi, namun berdasarkan hasil pemeriksaan tahap ke tiga yang dilakukan di Asrama Haji Jambi oleh KKP kleas III Jambi, calhaj tersebut dalam keadaan baik dan dinyatakan layak untuk dapat melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci Mekkah untuk menjalankan ibadah haji.

Seluruh calhaj Kloter 23 dan 24 tersebut telah diberangkatkan menuju Arab Saudi. Calhaj Kloter 23 telah diberangkatkan ke Arab Saudi pada hari Sabtu (27/7) dan calhaj kloter 24 diberangkatkan ke Arab Saudi pada hari ini (Ahad, 28/7).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit yang mendominasi calhaj daerah itu adalah penyakit essential (primary) hypertension, dimana pada Kloter 23 terdapat 115 orang calhaj dan Kloter 24 terdapat 124 orang yang menderita penyakit itu.

Penyakit lain yang turut mendominasi calhaj daerah itu adalah penyakit disorders of lipoprotein metabolism and other lipidaemias, gout dan hyperlipidaemia, unspecified.

Sementara itu, dari 442 orang calhaj Kloter 24, dua calhaj harus ditunda keberangkatannya karena sakit dan dua calhaj tersebut telah memasuki lanjut usia. Calhaj yang ditunda keberangkatannya tersebut saat ini masih dalam tahap perawatan. Jika keadaan dua orang calhaj tersebut membaik, maka calhaj tersebut akan diberangkatkan bersama calhaj dari kloter lainnya dari daerah itu.*

Baca juga: 5 persen jamaah calon haji Kabupaten Blitar masuk risiko tinggi

Baca juga: Kemenag: 65 persen calon haji Mataram risiko tinggi


Pewarta: Muhammad Hanapi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2019