Laporan Khusus

Ibu kota pindah, barometer industri hiburan tetap di Jakarta

Ibu kota pindah, barometer industri hiburan tetap di Jakarta

Kendaraan bermotor melaju tersendat akibat terjebak kemacetan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (1/7/2019). Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebut kerugian ekonomi akibat kemacetan di ibu kota berdasarkan data tahun 2013 sebesar Rp65 triliun per tahun dan pada 2019 mendekati Rp100 triliun, yang disebabkan sistem publik transportasi masih tertinggal jauh dibandingkan kebutuhan masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Tapi, Presiden kami mungkin memiliki pandangan yang lebih baik, 'so why not'?"
Jakarta (ANTARA) - Para pesohor di industri hiburan mendukung rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan, kendati mereka meyakini jika terlaksana, Jakarta akan tetap ramai sebagai pusat bisnis juga hiburan meskipun statusnya bukan lagi jantung pemerintahan.

Sineas Hanung Bramantyo dan Ernest Prakasa kepada ANTARA News, mengatakan jika pusat pemerintahan dipindah ke Kalimantan, maka Jakarta bakal tetap ramai sebagai kota bisnis, mengacu pengalaman negara lain yang melakukan pemindahan ibu kota negaranya masing-masing.

"Saya pikir enggak ya (sepi), karena Jakarta tetap menjadi kota ekonomi, menjadi New York-nya Indonesia, yang dipindahkan adalah memang pusat pemerintahan, seperti Washington," ujar Hanung.

"Banyak kok negara-negara maju yang pusat ekonomi dan pusat pemerintahannya beda kota. Kayak Australia, Sidney dan Melbourne bukan ibu kota, jadi banyak yang seperti itu. Belanda, Amsterdam juga bukan ibu kota, jadi enggak ada masalah seharusnya," kata Ernest.

Hanung, sang sutradara "Habibie & Ainun", berpendapat bahwa pemindahan ibu kota negara memiliki sisi positif, setidaknya antara keperluan bisnis dan pemerintahan tidak berada di satu wilayah.
Hanung Bramantyo (ANTARA/Galuh Pradhita)


Jika pusat pemerintahan dan bisnis dipisahkan, industri film dan musik juga tetap berjalan kendati di saat yang bersamaan ada agenda-agenda politik dan pemerintahan yang menyita perhatian masyarakat.

"Bagus kalau saya lihat, tapi enggak tahu kalau orang lain, karena saya sendiri melihat Jakarta itu sudah ruwet. Kalau itu dipisahkan mungkin pola pikir kita juga akan berubah. Tapi yang menentang juga akan banyak karena sudah ada di zona nyaman, sekarang akan pindah," jelas Hanung.

Suami Zaskia Adya Mecca itu, juga ternyata sudah mempersiapkan diri untuk meninggalkan Jakarta dengan pindah ke Yogyakarta bersama keluarganya.

"Kalau saya perubahan sudah saya persiapkan dari sekarang, karena itu saya membangun studio Gampong di Yogyakarta, saya memang sedang menarik diri dari Jakarta. Saya sedang tawar-menawar dengan istri saya untuk pindah ke Yogya dan istri saya sudah setuju," ujarnya.
Ernest Prakasa (ANTARA/Galuh Pradhita)


Sementara itu, Ernest mengaku sebenarnya belum bisa membayangkan seperti apa efek pemindahan ibu kota, namun yang dia harapkan adalah Jakarta menjadi lebih humanis.

"Satu-satunya yang gue harapkan sebagai warga DKI, semoga macetnya berkurang, itu saja," kata sutradara "Cek Toko Sebelah".

Ernest melanjutkan, "Semoga sepi, gue lihat polusi di Jakarta sudah pusing banget. Semoga dengan ibu kota dipindah, lebih lengang lalu lintas walaupun gue juga enggak tahu secara ilmiah, apakah bisa begitu."

Baca juga: Pindah ibu kota, berlari dari gempa ke asap pekat kebakaran hutan
Baca juga: Wapres tegaskan pemindahan ibu kota baru masih tahap kajian
Baca juga: Pindah ibu kota, ini sarana dan infrastruktur yang harus dibangun


Optimistis meski tak mudah

Perwujudan wacana pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta menuju Pulau Kalimantan tak semudah membalikkan telapak tangan, sehingga musisi Kunto Aji berpendapat masih terlalu dini jika masyarakat mencemaskan dampaknya pada industri hiburan.

"Dalam lima tahun ke depan mungkin enggak berdampak langsung, karena industri musiknya masih di Jakarta," ujar pemilik nama lengkap Kunto Aji Wibisono itu.

Gambaran yang ada di kepala Kunto Aji jika ibu kota tak lagi di Jakarta adalah Indonesia bisa seperti Australia, di mana kota wisata dan bisnis -- misalnya Sydney dan Melbourne -- akan lebih menonjol ketimbang pusat pemerintahan.

"Ada tempat di mana (lebih menonjol) wisata, pendidikan," kata dia.
Kunto Aji (ANTARA/Nanien Yuniar)


Musisi yang pernah mengikuti "Indonesian Idol" itu masih belum bisa membayangkan perubahan konkret yang bakal terjadi pada industri musik saat pusat pemerintahan tak lagi di Jakarta.

Ia menyadari ada tantangan dan kesulitan bagi industri hiburan karena banyak panggung-panggung entertain yang berpusat di ibu kota. Kunto juga tidak menampik musisi Tanah Air yang masih merintis karir harus tinggal di Jakarta jika ingin berkembang.

Kelak, ia berharap industri musik tak hanya berpusat di Jakarta atau calon ibu kota baru, tapi ada di semua kota di Nusantara.

"Sehingga di mana pun musisi bisa berkembang, apalagi dengan teknologi seperti sekarang," ujar dia.

Pelantun "Rehat" itu setuju bila pusat pemerintahan kelak betul-betul pindah dari Jakarta mengingat polusi di ibu kota semakin mengkhawatirkan.

"Kalau (tinggal) di Jakarta terus bahaya, saya baca riset polusi udara di Jakarta bisa mengurangi umur sampai dua tahun, seram banget," tutur penyanyi yang memilih Yogyakarta dan Bali sebagai kota ideal untuk tinggal.

Baca juga: Pindah ibu kota solusi pemerataan pembangunan bangsa
Baca juga: Menhub: Faktor teknis bisa jadi dasar penetapan ibu kota baru


Pembangunan merata

Aktor dan model pendatang baru, Miqdad Addausy menilai pemindahan ibu kota dapat meratakan pembangunan di Tanah Air, yang sebelumnya berpusat di Pulau Jawa.

"Jakarta sudah sakit-sakitan, polusi udaranya sudah parah. Kayaknya memang sudah selayaknya pindah ibu kota supaya pembangunan Indonesia lebih merata," ujar Miqdad.

"Kalau Jakarta sudah lebih maju dibandingkan dengan kota lainnya. Mungkin pemindahan ibu kota itu sudah jadi solusi bijak," lanjut Miqdad.

Pemeran Dikdik dalam "Koboy Kampus" itu menginginkan ibu kota baru yang tertata secara modern, agar masalah kemacetan dan kepadatan penduduk yang terjadi di Jakarta tidak terulang.

"Harus dipikirin juga kebijakan-kebijakan yang lebih konkret. Terus kalau bisa, bikin calon ibu kota dengan inovasi, misalnya dalam bidang transportasinya," katanya.
Miqdad Addausy (ANTARA/Devi Nindy)


Presenter David John Schaap berharap pemindahan ibu kota negara Indonesia ke Kalimantan dapat membuat Jakarta lebih tenang, setidaknya karena aktivitas politik dan pemerintah ada di Kalimatan.

"Kalau ke depannya jadi lebih baik dan buat Jakarta lebih aman, dan bisa berkembang lebih baik, kenapa tidak?" ujar David.

Presenter "My Trip My Adventure" itu menganggap Jakarta sudah terlalu padat dengan aktivitas harian yang membuat lalu lintas menjadi sesak. Bahkan hubungan sosial antarmasyarakat juga terganggu karena kesenjangan dan kurangnya waktu untuk bersosialisasi.

"Yang pasti, Jakarta akan lebih aman buat saya. Tapi kalau mesti pindah dan tawarannya pekerjaan di sana juga oke, bagus, kenapa tidak?" ujar David.
David John Schaap (ANTARA/Devi Nindy)


Adapun aktris Jennifer Lepas yang bermain pada film "Hanum & Rangga" menyatakan dukungannya atas rencana pemindahan itu, kendati ia menilai akan sulit dilakukan dalam waktu dekat.

"Pemindahan ibu kota itu makan proses yang lumayan sulit. Tapi, Presiden kami mungkin memiliki pandangan yang lebih baik, so why not? Saya kira dia sudah memiliki pemikiran panjang," ungkap Jennifer.

Aktris kelahiran Provinsi Papua itu menilai, pemindahan ibu kota akan menarik para pencari kerja ke Kalimantan, sehingga diharapkan ada strategi pemerintah untuk menangani hal itu.

"Namanya pindah ibu kota, orang-orang pastinya akan lari kesana, saya pun bisa jadi ke sana. Tapi itulah resiko yang akan dihadapi," ujar pemeran Inggrid dalam "Koboy Kampus" itu.

Ia menambahkan, "Namun, saya rasa perpindahan ibu kota ke Palangkaraya akan sangat bagus jika perencanaanya nanti telah matang."

Pewarta: Nanien Yuniar, Galuh Pradhita dan Devi Nindy
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Presiden: pindah ibu kota, pindah juga pola pikir

Komentar