counter

Pakar: Pernah terjadi tsunami di Pantai Selatan Jawa di masa lalu

Pakar: Pernah terjadi tsunami di Pantai Selatan Jawa di masa lalu

Manager Teknik Uji Numerik Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai BPPT Widjo Kongko menjelaskan model tsunami 8 SR di "seismic gap" Selat Sunda di laboratorium uji numerik Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika di Yogyakarta, Rabu (7/12). (ANTARA/Virna P Setyorini)

bila perekonomian masyarakat pantai meningkat, mereka akan memelihara upaya-upaya mitigasi tsunami
Jakarta (ANTARA) - Pakar tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Widjo Kongko mengatakan hasil kajian paleo-tsunami di Pantai Selatan Jawa mengonfirmasi bahwa di wilayah tersebut pernah terjadi tsunami di masa lalu.

"Tsunami di masa lalu terjadi dengan skala katastropik, dengan ketinggian bisa mencapai lebih dari 30 meter," kata Widjo dalam jumpa pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu.

Widjo mengatakan wilayah Indonesia berada diantara tiga lempeng bumi yang terus bergerak, yaitu Lempeng Eurasian di Barat Daya, Lempeng Pasifik di Timur Laut, dan Lempeng Indoaustralia di sebelah selatan.

Selain itu, terdapat 16 megathrust yang memiliki potensi menyebabkan gempa bumi besar, sementara gempa bumi dapat memicu tsunami.

"Dalam kurun waktu 1629 hingga 2018, terdapat lebih dari 12.500 gempa berkekuatan di atas 5 Skala Richter, 1.000 gempa di atas 6 Skala Richter, dan 230 gempa di atas 7 Skala Richter, serta 167 kejadian tsunami," tuturnya.

Sementara itu, peneliti tsunami Kementerian Kelautan dan Perikanan Abdul Muhari mengatakan perlu ada upaya mitigasi untuk menghindari dampak besar dari tsunami.

"Namun, upaya mitigasi tidak akan berkelanjutan kalau tidak ada bangkitan ekonomi. Bila perekonomian masyarakat pantai meningkat, mereka akan memelihara upaya-upaya mitigasi tsunami," katanya.

Selain itu, juga perlu ada upaya mitigasi tsunami di pelabuhan untuk mencegah kapal-kapal besar terbawa gelombang tsunami ke daratan yang menyebabkan kerusakan.

Bila terjadi gempa bumi berkekuatan besar dan dalam waktu lama, kapal-kapal yang sandar di pelabuhan harus segera menjauh dari bibir pantai agar tidak terbawa gelombang tsunami ke daratan.

Direktur Kesiapsiagaan Bencana BNPB Wisnu Widjaja mengatakan potensi tsunami yang disampaikan para pakar adalah sebuah kemungkinan, bukan perkiraan akan terjadi tsunami.

"Karena itu, kita perlu mengenali ancaman dan potensi. Potensi belum tentu menjadi bencana. Kalau mitigasi disiapkan dengan baik, tsunami tetap bisa terjadi, tetapi belum tentu akan menjadi bencana," tuturnya. 

Baca juga: BMKG: Kerentanan gempa di Indonesia harus diterima
Baca juga: BMKG imbau masyarakat tak resah pada isu gempa bumi dahsyat
Baca juga: Gempa bermagnitudo 6 hingga 7 habiskan energi megathrust Mentawai

Tim Ekspedisi Destana gelar simulasi tsunami

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar