counter

Dinkes Bangka maksimalkan tekan AKI

Dinkes Bangka maksimalkan tekan AKI

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka,, Then Suyanti (babel.antaranews.com/kasmono)

Sungailiat,Bangka (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memaksimalkan menekan angka kematian ibu (AKI) dengan memantau ibu hamil melalui program sistem informasi risiko tinggi.

"Kami terus berupaya memaksimalkan menekan AKI dengan optimalisasi kinerja bidan dalam peningkatan fasilitatif Poskesdes, Puskesmas dan PKM Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) melalui program Si RESTI CIKAR," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, melalui Kasi Kesehatan Ibu dan Anak, Rosmawati di Sungailiat, Selasa melalui pesan singkat.

Upaya pendeteksian dan pemantauan kepada ibu hamil kata dia, difokuskan pada ibu hamil si resti dengan sistem pencatatan dan pelaporan.

Bidan desa bekerjasama dengan kader kesehatan atau anggota masyarakat yang bersedia dan memiliki kemampuan bidang kesehatan dan waktu untuk kegiatan menyelenggarakan upaya pemberdayaan masyarakat yang telah mengikuti pelatihan di bidang kesehatan secara sukarela.

"Bidan desa diberikan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara berkualitas dan memberikan konseling seputar kehamilan, mencatatkan hasil pemeriksaan ibu hamil dalam buku kohort ibu, menginput hasil pemeriksaan yang ada dalam buku kohort ke dalam SI RESTI CIKAR," jelasnya.

Dikatakan, bidan desa diharuskan menginformasikan data dan kondisi ibu hamil yang masuk dalam kategori resiko tinggi kepada kader kesehatan, membekali kader kesehatan dengan pengetahuan umum seputar bahaya dan risiko kehamilan dan buku saku kader pendampingan ibu hamil resti.

Menurutnya, selain peran bidan desa dalam upaya menekan AKI, keterlibatan kader kesehatan juga penting meskipun cakupan tugasnya dibatasi.

"Tugas kader kesehatan meliputi pelayanan kesehatan dan pembangunan masyarakat, tetapi hanya terbatas pada bidang-bidang atau tugas-tugas yang pernah diajarkan kepada mereka. Kader kesehatan harus benar-benar menyadari tentang keterbatasan yang mereka miliki," jelasnya.

Tercatat sampai akhir Juli 2019, angka kematian ibu sebanyak empat orang dan sembilan bayi pada kasus AKB atau berhasil ditekan jika dibandingkan tahun 2018 mencapai 25 bayi pada kasus yang sama.

Pewarta: Kasmono
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar