Pendekatan budaya salah satu upaya selamatkan harimau sumatra

Pendekatan budaya salah satu upaya selamatkan harimau sumatra

Riza Wahyuni Nasution, staf magang di Taman Nasional Batang Gadis menunjukan buku AUM! tentang konservasi harimau sumatra yang didapatkan dari diskusi AUM! dalam rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2019 di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, Selasa malam (6/8/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Batam (ANTARA) - Pendekatan budaya perlu dilakukan kembali secara komprehensif sebagai salah satu cara menyelamatkan 600 harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae) yang tersisa di alam.

“Cerita tentang nenek moyang kita sebenarnya hidup berdampingan baik dengan satwa itu ada. Salah satu buktinya di Kerinci, Jambi, arsitektur rumah panggung sebagai kearifan lokal yang memungkinkan mereka hidup damai dengan satwa liar, termasuk harimau sumatra,” kata Staf Komunikasi dan Pelaporan Tiger Project pada Manajemen Unit Sumatera Tiger UNDP Hizbullah Arief usai diskusi tentang harimau sumatra: AUM! di rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional 2019, Batam, Selasa malam (6/8).

Jika menganalisis buku-buku konservasi harimau sumatra yang sudah ada, nenek moyang tidak memiliki pilihan selain beradaptasi dengan lingkungan. Dan itu ternyata menciptakan satu solusi untuk hidup berdampingan, lanjutnya.

Menurut dia, dari Aceh hingga Bengkulu masih banyak budaya-budaya yang memposisikan harimau sumatra sebagai top predator dalam mata rantai makanan di Sumatera. Karenanya masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat kembali melihat secara komprehensif kaitan antara budaya dan upaya melipatgandakan populasi harimau sumatra di Tanah Air.

Di Aceh, menurut dia, ada cerita harimau hitam dan putih yang menjaga makan sosok yang dihormati. Sedangkan di Kerinci, Jambi, masih ada cerita tentang manusia harimau.

Penghormatan masyarakat di sejumlah daerah di Sumatera untuk raja rimba ini masih ada, dengan penyebutan nama yang berbeda-beda seperti silek harimau, datuk, ompunk. Ada punya kegiatan budaya seperti Nganggah harimau yakni memanggil arwah harimau karena ada kepercayaan tentang manusia harimau.

Jika ingatan-ingatan budaya tersebut tetap terjaga dalam masyarakat Indonesia, menurut dia, ini dapat menjadi salah satu cara menyelesaikan solusi konflik. Bahkan menjadi modal untuk mendukung upaya melipatgandakan populasi harimau sumatra yang dijalankan pemerintah dan global.

National Project Manager of the Sumatran Tiger Project Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan merupakan suatu kebanggaan bersama seandainya bisa melestarikan keberadaan harimau sumatra mengingat hanya satu spesies tersisa di Indonesia.

Saat ini, ia mengatakan kucing besar ini hidup di 23 habitat hutan (wilayah konservasi) dan nonhutan (nonkonservasi) di Pulau Sumatera. Bonita bahkan jadi salah satu harimau sumatra yang hidup berbulan-bulan di hutan produksi di Indragiri Hilir, Riau.

“Bahkan di beberapa tempat mereka juga tidak hidup di kawasan hutan. Satwa ini kan memang tidak tahu ini rumah dia atau bukan, hanya tahu bahwa itu dulu rumah mereka,” lanjut Rudi.

The Sumatran Tiger Project kini bekerja di wilayah konservasi harimau di lanskap Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan), dan Taman Nasional Berbak (Jambi) yang memiliki potensi besar dan penting untuk kelangsungan hidup harimau sumatra.

Direktur Sintas Indonesia Foundation Hariyo T Wibisono mengatakan secara umum harimau hidup memerlukan sumber pakan (rusa hingga babi hutan), sumber air sehat, serta ruang untuk berbiak secara aman.

“Jadi walau bisa hidup di kawasan hutan yang sudah rusak tapi tetap butuh tempat aman untuk berbiak, setidaknya 250 kilometer persegi untuk jantan dan 30 kilometer persegi untuk betina. Mana kala harimau terganggu tentu bisa berkonflik (dengan manusia),” lanjutnya.

Populasi harimau

Hariyo mengatakan dunia hanya memiliki satu jenis harimau, penyebarannya luas dari ujung Rusia timur jauh sampai Indonesia di Pulau Bali. Indonesia memiliki tiga spesies harimau yakni harimau bali, harimau jawa dan harimau sumatra.

Namun diperkirakan harimau bali (Panthera tigris balica) punah pada 1940, sedangkan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang diperkirakan punah pada 1980-an.

Pada 1970-an, diketahui masih ada sekitar 1000 individu harimau sumatra. Angka ini turun menjadi 800 individu di 1980-an, dan tersisa separuhnya di era 1990-an.

“Tapi ada kepercayaan kami juga, 400-500 individu itu underestimate. Setidaknya sekarang ada 600 individu yang hidup di 23 petak hutan konservasi dan nonkonservasi dari Taman Nasional Gunung Leuser hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,” ujar dia.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno mengatakan setidaknya sudah ada 3000 jerat yang mengancam satwa liar termasuk harimau sumatra yang dipasang pemburu satwa liar, yang separuhnya ada di hutan konservasi. Pihaknya juga meminta agar perburuan babi hutan dihentikan karena mengganggu pakan kucing besar Sumatera ini.

Wiratno mengatakan Indonesia darurat jerat. Karenanya Kementerian melakukan kampanye melawan jerat, termasuk meminta perusahaan mengambil jerat-jerat mereka lagi.

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar