Jakarta (ANTARA News) - Gemuruh wacana soal demokratis atau tidak demokratis menguras energi para kawula Yogyakarta menyusul pembacaan teks berjudul kearifan-kearifan Gunung Merapi.

Satu cita-cita mereka, yakni meraih cita-cita menjadi "wong utomo" dari Ngayogyokarto. Siapa "wong utomo"?

Jelas-jelas mereka bukan Superman garapan para sineas Hollywood berbekal muka-muka manis dan berlagak melayani dan memanjakan indera konsumen.

Mereka berharap kepada yang nendang, yang nyikut, yang langsung terasa, bukan yang serba mengawang. Bukankah dunia sineas Indonesia pernah terbengong-bengong ketika melafalkan sebuah judul film Buruan...Gue.

Dan demokrasi? Belajarlah dari jagat wacana gaul. Bagi wong Ngayogyokarto, keseharian mereka mengucapkan kata dengan rumusan pembuka seperti "saya rasa" (raos kula) atau "barangkali" (mbok menawi).

Sampai-sampai jawaban atas permintaan dan tawaran direspons dengan kata "inggih" yang sopan, dan tidak pernah langsung menjawab "mboten".

Ketika memutar ke belakang jarum jam sejarah agar sampai ke abad-19, para pemikir berkelas mundial seperti Hegel, Marx, Spencer, Nietzsche, dan Comte mengutak-atik demokrasi sebagai kerangka besar yang menjejak manusia sebagai bagian dari sejarah. Manusia hanya dapat dipahami dari realitas keseharian yang digumuli dan yang diketahuinya.

Demokrasi bukan semata-mata bersumber dari ide-ide yang menggetarkan laci penyimpan dokumen-dokumen penelitian. Kalau demokrasi mempunyai mata dan telinga, maka dia akan melihat, mendengar seraya mempelajari kebudayaan dan kebiasaan lokal serta tata krama setempat di ranah ekonomi-sosial.

Demokrasi bukan ujug-ujug (tiba-tiba) berdatangan, tetapi ajeg (tetap) berkubang dalam reksa keseharian.

Kini, wong utomo Ngayogyokarto bergelut dengan kata ancaman. Nyatanya, dan bukan idealnya, bahaya lahar dingin dari material vulkanik hasil erupsi Gunung Merapi bakal berlangsung lebih dari satu tahun. Selain bahaya lahar dingin ketika musim hujan, besar kemungkinan terjadi "letusan sekunder" endapan lahar Merapi.

"Endapan lahar memiliki suhu sekitar 300 derajat Celcius. Saat hujan, maka kemungkinan adanya letusan sekunder," kata kata Kepala Balai Penyelidikan dan pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo.

Ia mencontohkan bahwa banjir lahar dingin di Sungai Code pada Senin malam (29/11) membawa sedikit dari total volume material vulkanik Gunung Merapi. Lahar dingin yang membawa material hasil erupsi Gunung Merapi baru terjadi di Kali Boyong, Kali Putih dan di Kali Senowo. Diperkirakan baru 10 persen dari total 140 juta material vulkanik yang telah terbawa dalam lahar dingin itu. Prihatin!

Keprihatinan lain tiba, bak bersua Godot. Sungai Code yang melintas Kota Yogyakarta, meluap hingga ke pemukiman penduduk akibat banjir lahar dingin dari Gunung Merapi. Godot seakan meringis sambil membawa linggis agar insan bersua dengan ajal, meski bertiup harapan karena hidup diperjuangkan bukan dilotere di meja peruntungan nasib.

"Kami memperoleh informasi terjadi hujan lebat di Gunung Merapi, meskipun wilayah Kota Yogyakarta tidak hujan deras, tetapi tetap terjadi banjir lahar dingin sangat besar," kata seorang pejabat berkompeten di Yogyakarta.

Kepala Kantor Penanggulangan Kebakaran Bencana dan Perlindungan Masyarakat Kota Yogyakarta Sudarsono menyatakan, meluapnya sungai Code akibat hujan lebat hingga banjir lahar dingin di daerah itu.

Arus air cukup deras mulai masuk ke rumah-rumah penduduk di sepanjang bantaran Sungai Code. Lahar dingin juga menyapu sebuah jembatan yang menghubungkan kampung-kampung di bantaran Sungai Code di Cokrokusuman dan Terban.

Berbekal demokrasi ala wong utomo Ngayogyokarto, godot-godot dengan huruf kecil itu dihalau agar harapan dihidupkan dan suka cita ditumbuhkan. Bagi orang sekolahan, demokrasi adalah persamaan.

Bagi wong utomo, demokrasi adalah prakarsa tiada henti menjadi manusia yang bukan medioker saja, tanpa keberanian menatap hidup.

Demokrasi bukan mencari kejayaan, tetapi mencari untuk menemukan kemuliaan hidup. Wong utomo Ngayogyokarto ingin "menjadi jawa", artinya menjadi sopan, bijak dan matang agar mengerti "isin" dan memahami "sungkan".

Di tengah cita-cita ingin menjadi Jawa setiap hari, wong utomo terus merevolusi diri. Amukan dan ancaman Merapi sebagai Godot boleh saja datang, tetapi manusia perlu kembali kepada gelora kemesraan dan amuk kecintaan antar sesama.

Kini, pemerintah Kabupaten Gunung Kidul menyediakan 16 tenda barokah atau bilik mesra di Posko Pengungsian Rest Area Bunder, khusus bagi pengungsi bencana Gunung Merapi yang sudah berkeluarga agar dapat menyalurkan kebutuhan biologisnya.

Entah isin, entah sungkan, pengungsi asal Dusun Batur, Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Basuki mengatakan berterima kasih dengan tenda barokah, meskipun jarang menggunakannya.

Dan Parjino menyatakan, "Pelayanan yang diberikan kepada kami sangat baik. Semua kebutuhan pokok yang kami perlukan terpenuhi, dan tidak pernah terlambat, baik makan, minum, serta tempat untuk bersama keluarga juga disediakan".

Revolusi berikutnya terjadi di meja makan. Nyatanya, pecel belut masakan khas Bantul di Dusun Sedang, Bangunjiwo, menggoyang lidah wisatawan. "Kami sudah 35 tahun berjualan pecel belut. Resepnya asli dari racikan kami sendiri yang hingga saat ini masih belum berubah sejak awal berjualan hingga saat ini," kata penjual pecel belut, Warno Pawiro.

Bilik asmara terus membara, goyang lidah belut Bantul terus merangsek, dan kiprah mereka yang sedang kuliah tidak ingin kalah. Buktinya, tim Tanggap Darurat Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta membuat program pakan komplet bagi ternak milik para peternak korban bencana Merapi.

Pembuatan pakan komplet berbasis jerami padi itu untuk ternak milik peternak korban bencana Merapi di posko ternak DIY dan Jateng. "Program pembuatan pakan ternak komplet itu dilakukan bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI)," kata Ketua Tim Tanggap Darurat Fakultas Peternakan UGM, Suwignyo.

Prakarsa demi prakarsa wong utomo Ngayogyokarto bermuara dari keutamaan-keutamaan pokok (cardinal virtues), mencakup kehati-hatian (prudentia), ugahari (temperantia), keteguhan hati dan kekuatan kehendak (fortitudo), dan keadilan bagi semua (iustitia).

Demokrasi bagi wong utomo Ngayogyokarto, bukan semata rentetan pelaksanaan kewajiban demi kewajiban, melainkan hasrat berluhur budi dan bersetia serta bersuka cita di tengah erupsi Merapi.

Kita memang harus hidup berkeutamaan, tetapi apakah keharusan itu mengandung suatu kewajiban? Kalau tidak, bagaimana kita mau menerangkan kewajiban-kewajiban itu kepada orang lain?
(A024/ART)

Oleh A.A. Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2010