Rabu, 30 Juli 2014

Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah

Sabtu, 15 Mei 2010 21:34 WIB | 4.139 Views
Susu Sapi/ilustrasi. (ANTARA/Septianda Perdana)
Bogor (ANTARA News) - Profesor Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr Aman Wirakartakusuma mengatakan, tingkat konsumsi susu di Indonesia masih rendah.

"Konsumsi susu di Indonesia masih rendah, yaitu, 7,7 lt/kap/tahun atau setara dengan 19 gram perhari atau sekitar 1/10 konsumsi susu di dunia," ungkapnya dalam Diskusi Ilmiah Peranan Susu dalam upaya Peningkatan Status gizi anak: Kebijakan, Manfaat dan best Practices bertempat di Pusat Ilmu dan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (SEAFAST) kampus IPB Pajajaran, Sabtu sore.

Rendahnya konsumsi susu di Indonesia, berdampak pada rendahnya kualitas gizi balita dan anak.

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi nasional, tercatat, hasil survei tahun 2007 menyebutkan 5,4 persen rata-rata anak balita prevalensi gizi buruk dan gizi kurang sebesar 13 persen.

Cakupan masalah tersebut masih besar, karena sebanyak 19 provinsi di Indonesia melebihi angka tersebut.

"Apabila perkiraan jumlah balita 20 juta, maka jumlah tersebut cukup besar, yaitu gizi kurang 2,5 juta dan buruk 1 juta," ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, selain menghadapi permasalahan gizi makro juga dijumpai defisiensi zat gizi mikro, terutama anemia besi.

Asupan gizi pada anak-anak masih lebih rendah dari Angka Kecukupan Gizi (AKG), misalnya asupan protein yang masih rendah ari AKG.

Ia menyebutkan, banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia, diantaranya adalah masih rendahnya produk susu nasional, rendahnya daya beli dan budaya minum susu di masyarakat.

Menurut dia, masyarakat sering berlebihan dalam menafsirkan manfaat produk susu akibat dari pengaruh iklan (deceptive advertising).

Diperlukan pendidikan yang benar kepada masyarakat, agar masyarakat faham manfaat produk susu yang sebenarnya.

Selama ini kata dia, masyarakat sebagai konsumen hanya memilih produk susu berdasarkan pertimbangan antara lain peruntunkan produk sesuai usia anak, anjuran dokter anak, harga, pengaruh iklan, rasa dan promosi hadiah.

"Oleh karena itu, program perbaikan gizi akan lebih efektif dan akan berkelanjutan jika diiringi program edukasi gizi dan pola makan yang sehat kepada masyarakat," jelasnya.

Aman menambahkan, kurangnya konsumsi susu juga disebabkan dari ketersediaan sumber pangan susu, hingga saat ini produksi susu dalam negeri masih belum mampu mencukupi seluruh permintaan konsumen di dalam negeri karena peningkatan konsumsi susu relatif lebih cepat dibanding produksinya.

Pada tahun 2009 produksi susu dalam negeri hanya mampu memenuhi 25,11 persen dari total kebutuhan nasional.

"Sampai kini Indonesia masih impor susu," katanya.

Penyebab rendahnya produksi susu, kata Aman dikarenakan tingkat pendidikan peternak yang rendah, harga pakan yang tinggi, keterbatasan teknologi, rendahnya kases bibit sapi, dan keterbatasan modal peternak.

Diskusi ilmiah yang digelar Sountheast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center diharapkan solusi-solusi permasalahan kekurangan gizi dapat dihasilkan.

Diskusi yang digelar satu hari diikuti oleh peserta dari kalangan akademisi, lembaga pemerintahan, industri susu, lembaga konsumen dan asosiasi profesi terkait.

Purwiyanto Hariyadi, Direktur SEAFAST Center-IPB menyebutkan, tujuan dari diskusi adalah tercapainya pemahaman bersama mengenai pentingnya susu dalam menu diet anak dan untuk perbaikan gizi anak, melalu identifikasi kebutuhan akan komunikasi yang lebih baik antara para pemangku kepengtingan data dan informasi ilmiah dan kerja sama adalam memecahkan permasalahan nasional guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Dari diskusi ini ada 10 rekomendasi yang kita hasilkan, ini berkaitan dengan regulasi ketersediaan susu. Rekomendasi ini akan kita sampaikan kesemua instansi terkait, baik itu pemerintah, produsen dan para akademisi untuk dapat memperbaharui regulasi yang ada agar ketersediaan susu di masyarakat tepat," jelasnya.

Hadir juga sebagai pembicara yakni Dedi Fadiaz, profesor Ilmu pangan di IPB yang mempaparkan peran penting ASI sebagai asupan gizi paling utama untuk bayi dan anak.
(*)

(T.KR-LR/R009)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga