Jumat, 20 Oktober 2017

Aria Bima: Politik Gula Harus Pro Tani

| 2.045 Views
Bandung (ANTARA News) - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima (Fraksi PDI Perjuangan), mengingatkan Pemerintah RI harus politik pergulaan nasional harus benar-benar pro petani tebu.

"Itu harus terejawantah secara konkret pada program swasembada gula yang dicanangkan Pemerintah dengan menunjukkan hal-hal yang menjamin kesejahteraan petani tebu," tegasnya melalui ANTARA melalui hubungan internet, Minggu malam.

Ia juga mengingatkan, swasembada tidak boleh hanya mempertimbangkan tercukupinya kebutuhan gula dalam negeri.

"Tetapi, swasembada gula harus mencapai dua sasaran sekaligus. Selain mencapai tingkat produksi gula yang bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri, juga harus memberikan efek ekonomis yang menguntungkan petani," katanya.

Ia mengatakan hal itu, berkenaan dengan rapat Komisi VI DPR RI medio pekan lalu yang melahirkan sejumlah pokok-pokok kebijakan politik pergulaan pro petani tebu.

Aria Bima berpendapat, jika swasembada hanya mengacu pada tersedianya stok gula yang cukup, besar kemungkinan program itu justru akan gagal.

"Sebab petani akan rendah minatnya untuk menanam tebu. Jika petani enggan menanam tebu, luas areal tebu pun merosot. Selanjutnya pabrik gula akan gagal meningkatkan kapasitas produksi karena suplai tebu tidak cukup," katanya mengingatkan.

Karena itu, Aria Bima mengingatkan, swasembada gula harus mensinergikan persoalan `on farm` (budidaya dan nasib petani tebu) serta `off farm` (pabrik gula).

"Tidak cukup jika swasembada hanya mengandalkan revitalisasi pabrik lama atau membangun pabrik gula baru, tanpa disertai pemberdayaan petani tebu," katanya lagi.


Keberpihakan Kepada Petani

Aria Bima kemudian mengingatkan, swasembada gula akan berhasil jika Pemerintah memiliki keberpihakan terhadap nasib petani tebu.

"Petani tebu harus dihargai martabatnya dan diperjuangkan kesejahteraannya,? kata Ketua Panitia Kerja (Panja) Gula DPR RI ini.

Saat ini, menurutnya, kebutuhan gula dalam negeri diperkirakan sekitar 250 ribu ton per bulan atau tiga juta ton per tahun.

Sementara produksi gula nasional hanya 2,6 juta ton per tahun, sehingga sisanya masih harus diimpor.

Pada tahun 2010 ini, lanjutnya, Pemerintah mematok target produksi gula 2,9 hingga tiga juta ton.

"Dengan demikian, jika target tercapai, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor gula putih atau gula konsumsi. Sementara swasembada gula yang semula dipatok bisa diraih pada 2014 telah dimajukan menjadi tahun 2012," ujar Aria Bima. (M036/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar Pembaca