Kamis, 28 Agustus 2014

Lapas Napi Anak Pangkalpinang Didominasi Kasus Pencabulan

Jumat, 23 Juli 2010 02:13 WIB | 2.205 Views
Pangkalpinang (ANTARA News) - Narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tuatunu Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel) didominasi kasus pencabulan dan pencurian.

Kasi Pembinaan Napi dan Anak Didik pada Lapas Tuatunu Kota Pangkalpinang, Mahmuddin di Pangkalpinang, Kamis, menyatakan, sebanyak 18 orang dari 412 orang napi di Lapas itu napi yang masih tergolong anak-anak.

"Sebanyak 18 napi anak-anak menjalani hukuman akibat kurangnya kontrol orang tua termasuk minimnya pendidikan serta pembinaan agama," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini ada 18 napi anak yang rata-rata hanya berpendidikan SLTP, selebihnya tidak tamat SD dan sudah tamat SD namun tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku SLTP.

"Rata-rata anak-anak yang mendapat binaan di Lapas terlibat kasus pencabulan, pencurian," ujarnya.

Menurut dia, tingginya angka kejahatan yang dilakukan anak selama ini, akibat faktor keluarga dan putus sekolah serta kurangnya kontrol orang tua dan pemerintah terhadap pendidikan anak serta keluarga miskin.

"Tingginya kejahatan dilakukan anak-anak juga disebabkan perkembangan teknologi dan anak-anak yang tidak mendapatkan pengawasan dari orang tua dengan mudah mengakses situs-situs porno dan menonton film porno," ujarnya.

Untuk itu, pihak Lapas memberikan pembinaan khusus bagi napi yang masih anak-anak dengan memberikan pembinaan kerohanian, pendidikan dan mereka tidak boleh bekerja seperti napi dewasa lainnya.

"Untuk membina napi anak ini, kita mengutamakan pembinaan kerohanian dan pendidikan dengan mengikuti sekolah paket A,B dan C yang diselenggarakan di dalam Lapas," ujarnya.

Menurut dia, untuk menekan kriminalitas yang dilakukan anak-anak diperlukan perhatian dari orang tua, masyarakat dan pemerintah.

"Kami mengimbau agar orang tua mengontrol kegiatan anak, baik masalah pendidikan dan pergaulan (lingkungan) dengan baik, karena faktor ekonomi keluarga bisa merambat ke pergaulan bebas, sehingga anak yang putus sekolah terjerumus tindak kriminal," ujarnya. (ANT040/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga