Kami telah menghentikan tangan untuk menghantam dan telah minta mereka untuk saling berbicara.
Paris (ANTARA News/Reuters) - Prancis tampaknya beralih sikapnya terhadap pemberontakan di Libya, Ahad, memberi kesan bahwa bisa tidak ada solusi militer dan bahwa pasukan loyalis Muamar Gaddafi dan pemberontak Libya sebaiknya memulai pembicaraan langsung.

Bagaimanapun, Paris juga mengatakan tujuannya masih bahwa pemimpin Libya Gaddafi pada akhirnya harus mundur -- syarat yang pasti akan ditolak oleh Gaddafi yang menantang sampai sekarang. Pemimpin pemberontak, pada bagiannya, bersikeras bahwa Gaddafi harus meninggalkan kekuasaan sebelum pembicaraan dapat dimulai.

Menteri Pertahanan Prancis Gerard Longuet mengatakan pada televisi setempat, Ahad, bahwa waktunya bagi kedua belah pihak untuk duduk di sekeliling meja guna mencapai kompromi politik.

Prancis telah memelopori serangan udara pimpinan NATO di Libya dengan Inggris di bawah mandat PBB untuk melindungi warga sipil, dan juga yang pertama melancarkan serangan udara terhadap pasukan yang setia pada Gaddafi Maret lalu.

Tapi setelah lebih dari tiga bulan pemboman, para pemimpin internasional mulai memikirkan bagaimana mengakhiri perang itu, tempat pemberontak menguasai bagian besar Libya timur dan telah melonggarkan pengepungan kota Misrata, tapi tidak dapat membuat jalan masuk menentukan ke arah ibukota Tripoli meskipun didukung serangan NATO terhadap pasukan Gaddafi.

Gaddafi telah menolak permintaan untuk menyerahkan kekuasaan, menghadapi serangan pemberontak yang bertujuan mengakhiri kekuasaannya yang sudah 41 tahun.

"Kami telah menghentikan tangan untuk menghantam dan telah minta mereka untuk saling berbicara," kata Longuet pada BFM TV.

"Posisi TNC (Dewan Transisi Nasional pemberontak) sangat jauh dari posisi lainnya. Sekarang akan ada kebutuhan untuk duduk di keliling sebuah meja," katanya.

Pemberontak telah berulangkali minta agar pemimpin Libya itu mundur sebelum pembicaraan dapat dimulai bagi transisi politik, sesuatu yang para pengiringnya tolak.

Frustrasi telah meningkat di Paris atas lamanya misi itu dan pemerintah akan menghadapi pertanyaan terinci pada Selasa sebelum pemilihan di parlemen mengenai apakah akan memperpanjang operasi tersebut.

"Kami (NATO) akan menghentikan pembombardiran secepat mungkin (pihak-pihak) Libya mulai saling berbicara dan militer dari kedua pihak kembali ke barak mereka," kata Longuet.

"Mereka sakarang dapat berbicara satu sama lain karena kami telah menunjukkan pada mereka tidak ada solusi dengan kekuatan."


Rencana Uni Afrika

Pembicaraan antara kedua belah pihak telah berlangung sebenarnya di belakang layar selama berpekan-pekan, tetapi masa depan Gaddafi telah menjadi rintangan besar. Satu sumber diplomatik mengatakan tidak ada indikasi Gaddafi ingin minggir.

Masalah itu dipersulit pada 28 Juni ketika Pengadilan Kriminal Inernasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Gaddafi dan salah seorang anaknya serta kepala dinas intelijen.

TNC di Benghazi mengatakan bulan ini bahwa mereka tidak dapat meneruksan pembicaraan sekarang dengan Gaddafi yang dicari secara internasional, tapi Longuet tampaknya akan membiarkan pintu terbuka bagi Gaddafi untuk tetap di Libya.

Ketika ditanya apakah mungkin mengadakan pembicaraan jika Gaddafi tidak mundur, ia mengatakan: "Ia akan berada dalam satu ruangan lainnya di istananya, dengan gelar lainnya".

Satu sumber di Kementerian Pertahanan menyatakan pada Reuters, tujuan pokoknya adalah tidak perlu bagi Gaddafi untuk meninggalkan Libya, tapi ia perlu melepaskan kekuasaannya.

Ketika berbicara pada radio France Info, Menlu Prancis Alain Juppe mengatakan pembicaraan tidak dapat benar-benar dimulai hingga ada gencatan senjata yang bisa dipercaya di bawah pengawasan PBB.

"Kemudian kita memerlukan proses pembicaraan dengan TNC, pemain Libya lainnya dan mereka yang memiliki pengertian di Tripoli bahwa Gaddafi tak memiliki masa depan, dan kemudian peta jalan bagi perdamaian demokratis," katanya.

"Kesulitannya sekarang ini adalah mengetahui bagaimana Gaddafi melepaskan semua tanggung jawab politik dan militernya."

Meskipun pada pertemuan Uni Afrika (AU) pekan lalu para pemimpin uni itu tidak secara terbuka minta mundurnya Gaddafi, Juppe mengatakan mereka sekarang telah bergerak ke arah itu, yang membuat usulan perdamaian AU lebih realistis.

Ia menyatakan fokus pertemuan Kelompok Kontak Libya di Istanbul, Jumat, sebagian akan membicarakan prakarsa tersebut, dan bahwa ia juga mengusulkan kelompok itu bertemu di Addis Ababa.

"Kami memiliki setiap kepentingan untuk bekerja dengan Uni Afrika, yang dapat memainkan peran sangat positif," katanya.

(S008/A/C003)

Editor: Ella Syafputri
Copyright © ANTARA 2011