London (ANTARA News) - Delegasi Institut Teknologi Bandung ITB yang dipimpin rektor Prof. Akhmaloka, Ph.D. mengikat kerja sama dengan berbagai universitas di Jerman, di antaranya dengan Technischen Universitat Hamburg-Harburg (TUHH) Hamburg.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ITB dengan Technischen Universitat Hamburg-Harburg (TUHH) dilaksanakan Rektor ITB dan Wakil Rektor TUHH, Prof. Dr.-Ing Dieter Krause, disaksikan Konjen RI Hamburg, demikian keterangan KJRI Hamburg yang diterima ANTARA London, Kamis.

Dalam kunjungan kerja ke Jerman selain ke Hamburg, delegasi ITB juga mengadakan kunjungan ke Darmstadt, Bochum dan Berlin, guna menandatangani nota kesepahaman MoU dan LoI, serta penjajakan untuk meningkatkan cakupan kerjasama strategis antara ITB dengan beberapa institusi pendidikan di kota-kota tersebut.

MoU ini merupakan payung hukum bagi kedua universitas dalam melakukan program kerjasama yang bentuk dan lingkupnya akan segera dirintis bersama.

Pada hari yang sama juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara ITB dan Technische Universitat Ilmenau (TUI) oleh Dr. Edwan Kardena, Direktur Kemitraan dan Hubungan Internasional ITB dan Prof. Dr. Peter Scharff, Rektor TUI, disaksikan oleh DCM KBRI Berlin.

Disela kunjungan ke Hamburg, Rektor ITB bertemu dan berdialog dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar terdiri dari para alumni ITB yang bekerja di Perusahaan Airbus dan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di Hamburg dan sekitarnya.

Pertemuan berlangsung di Gedung KJRI Hamburg dan dibuka oleh Konjen RI, M. Estella Anwar Bey yang menyampaikan apresiasi kepada Prof. Akhmaloka karena di tengah jadwalnya yang padat berkenan memberikan pencerahan mengenai perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Konjen mengharapkan pertemuan ini dapat dijadikan momentum yang baik untuk memberikan sumbangsih melalui pemikiran dan ide-ide yang diperlukan bagi masa depan dan kemajuan pendidikan di Indonesia.

Dalam pertemuan yang dihadiri sekitar 60 undangan Prof. Akhmaloka menjelaskan kunjungannya ke Jerman yaitu untuk meningkatkan kolaborasi dengan beberapa universitas yang dinilai memiliki reputasi tinggi di bidang science dan technology. Hal ini terkait dengan visi dan profil terkini ITB yang tengah berbenah menuju institusi bertaraf internasional.

Rektor mengemukakan salah satu isu yang tengah mencuat di dunia perguruan tinggi di tanah air adalah bagaimana menjadikan perguruan tinggi di Indonesia bertaraf internasional dan dapat bersaing dengan universitas-universitas lain di luar negeri.

Ia juga menekankan bahwa salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut yaitu melakukan kolaborasi dengan mitra di luar negeri, misalnya melalui double degree program.

Isu lain yang saat ini ramai dibicarakan di tanah air, yaitu mengenai Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang pelaksanaannya dilandaskan pada tiga strategi utama, pengembangan potensi melalui enam koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi di setiap koridor ekonomi berdasarkan potensi dan keunggulannya masing-masing.

Keenam koridor tersebut adalah Sumatera, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Bali, NTT, Papua, dan Maluku, selain penguatan konektivitas nasional guna memaksimalkan pertumbuhan, antara lain melalui perbaikan infrastruktur untuk menghubungkan daerah tertinggal dengan pusat pertumbuha serta pengembangan SDM berbasis Science and Technology di setiap koridor ekonomi untuk meningkatkan daya saing.

Terkait dengan pengembangan SDM, Rektor menjelaskan bahwa Pemerintah meminta ITB dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) membantu mendirikan institut teknologi baru di Indonesia.

Rencananya dua institut teknologi baru tersebut akan didirikan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Saat ini prosesnya baru dalam tahap uji kelayakan.

(H-ZG/S006)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011