Jakarta (ANTARA News) - Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, mengatakan, teknologi modifikasi cuaca tidak selalu bisa diandalkan untuk mencegah hujan deras.

Ia menjelaskan, penyemaian awan untuk mengurangi massa awan dalam mencegah hujan deras hanya sesuai dilakukan pada awan dengan ketinggian 12.000-15.000 kaki (3,6 sampai 4,5 kilometer).

"Artinya itu hanya untuk awan-awan menengah, untuk awan-awan kumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi lebih dari tujuh kilometer bukan hanya sulit, tetapi sangat berisiko," katanya di Jakarta, Kamis.

"Itulah mengapa modifikasi cuaca gagal mencegah hujan deras mengguyur Jakarta pada Rabu, 6 Februari. Apalagi skala ruang awannya sangat luas dan cepat pertumbuhannya," tambah dia.

Pada Rabu (6/2), Jakarta diliputi awan sangat tebal menjulang yang mengandung massa air besar. Awan-awan bersuhu sekitar (-63) derajat sampai (-80) derajat Celcius dengan ketinggian 8,9 kilometer sampai 10,7 kilometer dan awan yang bersuhu (-47) derajat sampai (-63) derajat Celcius dengan tinggi 7,3 kilometer sampai 8,9 kilometer.

Kemunculan awan-awan kumulonimbus tinggi itu diawali dengan adanya pusaran angin di utara Jakarta serta daerah tekanan rendah di barat Sumatera yang memicu pembentukan awan yang aktif di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Pada Rabu tengah hari awan-awan itu mulai tumbuh dan bergerak, meliputi wilayah Sumatera dan Jawa, lalu Jakarta.

Awan-awan yang kemudian bertambah tebal dan mengandung massa air besar turun sebagai hujan deras di Jakarta pada Rabu sore hingga malam. "Beruntung awan kemudian buyar pada malam harinya," kata Thomas.

"Tapi kalau itu berulang pada hari-hari berikutnya, .... akan berpotensi menyebabkan banjir besar seperti banjir 17 Januari 2013 lalu, yang selain disebabkan oleh awan Cb menjulang lebih dari 10 kilometer juga karena akumulasi curah hujan beberapa hari sebelumnya," katanya.

Menurut dia, operasi penyemaian awan sebaiknya hanya dilakukan kalau operasi tersebut memang akan efektif, jangan dijadikan sebagai operasi rutin harian.

(D009)

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2013