Senin, 25 September 2017

Wapres: konflik muncul menggunakan slogan agama

| 5.222 Views
Wapres: konflik muncul menggunakan slogan agama
Wapres Boediono (ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo)
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Boediono mengatakan munculnya konflik yang mengganggu kedamaian sebenarnya karena kepentingan politik dan ekonomi yang menggunakan slogan agama dalam melaksanakan persaingan.

"Padahal semua agama cinta damai, semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada sesama dan kepada alam semesta," kata Wapres Boediono saat membuka "The Islam and Confucian Summit 2013" di Jakarta, Sabtu.

Dikatakan Wapres, di sinilah peran pemimpin agama menentukan dan sebagai panutan perlu terus mengajak umatnya untuk lebih jeli, jernih, arif, dan cerdas melihat dan memilah setiap masalah yang terjadi.

"Kita semua tanpa kecuali perlu terus menyuarakan keyakinan kita bahwa tidak ada agama yang membenarkan tindak kekerasan atau memaksakan kehendak kepada orang lain atau kelompok lain," kata Boediono.

Hanya dengan upaya bersama dan terus-menerus, kata Wapres, semua pihak bisa memelihara kedamaian dan kerukunan kehidupan beragama dalam masyarakat masing-masing.

Boediono mengatakan, sejak awal negara Indonesia didirikan di atas perbedaan dan keberagaman suku, agama, ras, bahasa, dan adat istiadat yang diikat dalam satu kesepakatan dan komitmen bersama, yaitu "Bhinneka Tunggal Ika".

Fakta menunjukkan bahwa kaum Muslim dan kaum Confusian merepresentasikan hampir separuh populasi bumi.

Kaum Confusian tersebar di belahan Timur Asia dan kaum Muslim mendiami kawasan yang terbentang mulai dari Afrika hingga Asia Tenggara.

"Oleh karena itu sinergi dan kolaborasi antara ummat Muslim dan Confusian akan dapat membawa warna baru bagi harmoni peradaban manusia dan perdamaian dunia," kata Boediono.

Pemerintah Indonesia, tambah Wapres, juga telah memprakarsai berbagai dialog lintas agama dan lintas budaya, yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan diplomasi Indonesia ke depan, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral.

Boediono menilai, Pertemuan Tingkat Tinggi Islam dan Khonghuchu ini memiliki makna yang besar dalam menyampaikan pesan perdamaian dan pesan keharmonisan kepada seluruh umat beragama.

Kegiatan seperti ini diharapkan dapat mendorong berbagai kalangan umat beragama untuk mendeklarasikan dan menyuarakan perdamaian dan keharmonisan beragama, baik secara nasional maupun internasional. 

Editor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2013

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga