Minggu, 24 Juli 2016

Pemerintah pacu diversifikasi kopi ke non pangan

| 4.416 Views
id Industri kopi, diversifikasi kopi
Pemerintah pacu diversifikasi kopi ke non pangan
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla didampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin berfoto bersama karyawan Nestle saat mengunjungi pabrik kopi milik Nestle di Lampung, Sabtu. (Antaranews/ Humas Kemenperin)
Surabaya (ANTARA News) - Menteri Perindustrian Saleh Husin memacu industri pengolahan kopi untuk memperluas ragam pemanfaatan atau diversifikasi produk kopi dari sebelumnya terbatas produk minuman untuk dikembangkan ke industri lainnya.

"Diversifikasi produk kopi tidak hanya sebagai minuman tetapi dikembangkan dalam berbagai jenis produk lainnya seperti kosmetik, herbal, farmasi, hingga essen makanan," kata Saleh dalam siaran pers, Sabtu.

Maka, lanjut Saleh, mata rantai pengolahan kopi makin panjang, beragam dan memberi nilai tambah yang dapat dinikmati petani sampai industri.

Saleh menyampaikan hal ini saat mendampingi Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada Rapat Pengembangan Kopi Nasional di Lampung, yang juga dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Industri pengolahan kopi nasional selama ini baru mampu menyerap sekitar 35 persen produksi kopi dan 65 persen masih diekspor.

Sedangkan, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia relatif masih rendah, rata-rata 1,1 kg per kapita per tahun.

Saleh menyampaikan, untuk mempercepat peningkatan ragam produk turunan kopi, pemerintah terus menjamin iklim usaha yang kondusif bagi industri pengolahan kopi melalui kebijakan fiskal dan non-fiskal serta penerapan standar.

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam dengan produksi pada 2014 sebesar 685 ribu ton atau 8,9 persen dari produksi kopi dunia dengan komposisi 76,7 persen jenis robusta dan sisanya arabika.

Sementara itu, tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia jauh di bawah negara-negara pengimpor kopi seperti Amerika Serikat 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg per kapita per tahun.

"Ruang pengembangan kopi kita masih lebar. Nilai ekonominya juga terus tumbuh namun jangan sampai kita terlena karena negara kompetitor juga agresif melakukan pengembangan produk kopi," tegas Saleh.

Kemenperin mencatat, ekspor produk kopi olahan pada 2015 mencapai 356,79 juta dolar AS atau naik sekitar 8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab.



Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar Pembaca
Baca Juga